Kesederhanaan Paus Fransiskus Harus Jadi Contoh Gaya Hidup Pejabat
Rabu, 04 September 2024 - 19:42 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, khotbah kesederhanaan ini tidak diungkapkan dengan kata-kata atau dari mimbar melainkan melalui tindakan nyata yang menyentuh kalbu banyak orang. "Kesederhanaan Paus ini bukan sekadar simbol, tetapi sebuah pesan yang kuat: kepemimpinan sejati tidak diukur dari harta atau kekayaan, melainkan dari ketulusan, pelayanan, dan pengabdian kepada orang lain. Paus menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus datang dengan kemewahan, tetapi seharusnya disertai dengan kerendahan hati dan kesederhanaan," imbuhnya.
Menurut Pieter Zulkifli, keteladanan Sri Paus berbanding terbalik dengan gaya hidup sebagian besar pejabat di Tanah Air. Mobil mewah, rumah megah, dan barang-barang bermerek sering kali menjadi penanda status sosial para pejabat di Indonesia. Padahal, tugas utama mereka adalah melayani rakyat, bukan mempertontonkan kekayaan.
Lebih dari itu, kata dia, banyak pejabat di negeri ini justru hobi menciptakan masalah dengan alasan hukum supaya dapat duit. Tak hanya itu, tidak sedikit pihak-pihak yang mencari kesempatan untuk mendapat uang. "Pengusaha diperas, rakyat kecil dikriminalisasi dan ditindas, tetapi para penjahat justru dilindungi," kata Pieter Zulkifli.
Mengutip Henk Ten Napel dalam Kamus Teologi Inggris-Indonesia (2011), Pieter Zulkifli menuturkan hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu ἡδονή hēdonē yang berarti kesenangan, kebahagiaan atau kenikmatan. Beberapa studi menemukan perilaku ini berkaitan erat dengan tindakan korupsi. Pieter Zulkifli juga mengulas jurnal berjudul 'Hubungan Konsumtif dan Hedonis Terhadap Intensi Korupsi (2020)', Giska Salsabella Nur Afifah. Dalam jurnal itu disebutkan kaitan erat antara tiga hal; hedonisme, perilaku konsumtif, dan korupsi.
Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan konsumsi tiada batas, contohnya membeli sesuatu yang berlebihan secara tidak terencana. Sementara itu, hedonisme adalah gaya hidup yang memandang kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama. Perilaku konsumtif atau konsumsi berlebihan menyebabkan hedonisme, begitu pula sebaliknya.
"Masalahnya, tidak semua penganut hedonisme punya kantong yang benar-benar tebal. Kondisi finansial tak selalu mampu memenuhi keinginan mereka, sehingga pada saat tertentu kerap berujung menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan korupsi," tutur Pieter Zulkifli.
Setali tiga uang dengan Giska, temuan Yosefo Gule dalam penelitiannya berjudul 'Studi Teologi-Etis Hubungan Perilaku Korupsi sebagai Dampak Sikap Hidup Hedonis (2021) menunjukkan hasil tak jauh beda. Pieter Zulkifli mengatakan jika Yosefo berkesimpulan bahwa korupsi merupakan dampak gaya hidup hedon yang berawal dari keinginan pribadi.
Menurut Pieter Zulkifli, keteladanan Sri Paus berbanding terbalik dengan gaya hidup sebagian besar pejabat di Tanah Air. Mobil mewah, rumah megah, dan barang-barang bermerek sering kali menjadi penanda status sosial para pejabat di Indonesia. Padahal, tugas utama mereka adalah melayani rakyat, bukan mempertontonkan kekayaan.
Lebih dari itu, kata dia, banyak pejabat di negeri ini justru hobi menciptakan masalah dengan alasan hukum supaya dapat duit. Tak hanya itu, tidak sedikit pihak-pihak yang mencari kesempatan untuk mendapat uang. "Pengusaha diperas, rakyat kecil dikriminalisasi dan ditindas, tetapi para penjahat justru dilindungi," kata Pieter Zulkifli.
Mengutip Henk Ten Napel dalam Kamus Teologi Inggris-Indonesia (2011), Pieter Zulkifli menuturkan hedonisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu ἡδονή hēdonē yang berarti kesenangan, kebahagiaan atau kenikmatan. Beberapa studi menemukan perilaku ini berkaitan erat dengan tindakan korupsi. Pieter Zulkifli juga mengulas jurnal berjudul 'Hubungan Konsumtif dan Hedonis Terhadap Intensi Korupsi (2020)', Giska Salsabella Nur Afifah. Dalam jurnal itu disebutkan kaitan erat antara tiga hal; hedonisme, perilaku konsumtif, dan korupsi.
Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan konsumsi tiada batas, contohnya membeli sesuatu yang berlebihan secara tidak terencana. Sementara itu, hedonisme adalah gaya hidup yang memandang kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama. Perilaku konsumtif atau konsumsi berlebihan menyebabkan hedonisme, begitu pula sebaliknya.
"Masalahnya, tidak semua penganut hedonisme punya kantong yang benar-benar tebal. Kondisi finansial tak selalu mampu memenuhi keinginan mereka, sehingga pada saat tertentu kerap berujung menghalalkan segala cara. Termasuk melakukan korupsi," tutur Pieter Zulkifli.
Setali tiga uang dengan Giska, temuan Yosefo Gule dalam penelitiannya berjudul 'Studi Teologi-Etis Hubungan Perilaku Korupsi sebagai Dampak Sikap Hidup Hedonis (2021) menunjukkan hasil tak jauh beda. Pieter Zulkifli mengatakan jika Yosefo berkesimpulan bahwa korupsi merupakan dampak gaya hidup hedon yang berawal dari keinginan pribadi.
Lihat Juga :