Pemerintah Diminta Perkuat Diplomasi Papua di Sidang PBB

Jum'at, 06 September 2019 - 18:35 WIB
Pemerintah Diminta Perkuat...
Pemerintah Diminta Perkuat Diplomasi Papua di Sidang PBB
A A A
JAKARTA - Komisi I DPR telah mendengar penjelasan pemerintah terkait Papua dan Papua Barat dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama dengan Menteri Pertahanan (Menhan), Menteri Luar Negeri (Menlu), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), TNI dan juga Badan Intelijen Negara (BIN).

Komisi I DPR mendukung segala langkah yang telah dilakukan pemerintah serta meminta pemerintah memperkuat diplomasi dengan negara-negara yang hadir dalam Sidang HAM Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss pada 23-24 September mendatang.

"Kita mendengarkan penjelasan tentang Papua, dari mulai kronologi, kondisi terkini dan kemudian solusi yang ingin dicapai atau solusi yang akan dilakukan dengan pemerintah dan masukan-masukan dari kita untuk penyelesaian masalah Papua agar segera kembali normal," kata Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (6/9/2019).

"Kita mendukung sepenuhnya upaya-upaya dari mitra-mitra Komisi I, dalam rangka memulihkan kembali Papua, membuat kembali normal, termasuk diplomasi-diplomasi dilakukan oleh Menteri Luar Negeri di luar negeri," sambung Kharis.

(Baca juga: Menhan Sebut Ada Kelompok Berafiliasi ISIS di Papua)

Kharis memaparkan, Komisi I DPR meminta pemerintah melakukan pendekatan-pendekatan kepada negara-negara di seluruh dunia untuk menjelaskan sepeti apa sesungguhnya kejadian di Papua dan kaitannya dengan kejadian-kejadian yang terjadi dalam beberapa waktu lalu.

"Karena, ada pemberitaan-pemberitaan yang sifatnya hoaks tapi beredar luas nah kita luruskan, yang sifatnya tidak benar diluruskan. Saya kira kita memperkuat diplomasi. Diplomasi terhadap negara-negara yang akan hadir di sidang HAM PBB," tegas politikus PKS itu.

Terkait dengan keterlibatan jaringan ISIS dalam konflik Papua, menurut Kharis itu hanya dugaan tetapi, tidak pembahasan lebih jauh lagi dalam rapat kemarin. Namun, hal itu mungkin saja terjadi sebagaimana yang muncul-muncul dalam sejumlah video yang beredar.

"Bisa jadi itu juga penyesatan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," imbuhnya.

Soal pembatasan WNA, ia mengaku belum sempat terelaborasi dalam rapat karena keterbatasan waktu dan adanya pembahasan yang cukup panjang dan detail. Namun, akan dibahas lebih lanjut di sela-sela pembahasan anggaran 2020 yang telah dijadwalkan.

"Ada kan kita ini masih dalam pembahasan anggaran, satu kali bertemu bisa jadi nanti kami akan tanyakan di sela-sela pembahasan anggaran," pungkas Kharis.
(maf)
Berita Terkait
Situasi Konflik di Tanah...
Situasi Konflik di Tanah Papua Belum Ada Tanda-tanda Berakhir
Keluar dari Situasi...
Keluar dari Situasi Konflik di Papua
Polri Ajak Mahasiswa...
Polri Ajak Mahasiswa dan Pemuda Bantu Selesaikan Masalah Papua
Ketua KNPB Wilayah Maybrat...
Ketua KNPB Wilayah Maybrat Papua Barat Dibekuk, Polisi: Lakukan Pembunuhan Keji 2 Warga
Menanti Jaminan Keamanan...
Menanti Jaminan Keamanan di Papua
Kelompok KNPB Aniaya...
Kelompok KNPB Aniaya Warga hingga Tewas di Maybrat Papua Barat
Berita Terkini
Ketua BEM FH UBK yang...
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
Prabowo Resmikan 1.151...
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah: Jadi Urat Nadi Perekonomian Rakyat
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Mahasiswa UBK Desak...
Mahasiswa UBK Desak Pengurus BEM yang Bertemu Gibran Mundur dari Jabatan karena Diduga Terima Uang
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikabulkan Penangguhan Penahannya, Kubu Jokowi Buka Suara
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Infografis
3 Tujuan Rusia Menempatkan...
3 Tujuan Rusia Menempatkan Pesawat Tempur di Papua
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved