WNI Diduga Disekap dan Disiksa di Myanmar, Keluarga Lapor ke Bareskrim
Senin, 12 Agustus 2024 - 17:54 WIB
loading...
A
A
A
"Sedangkan kita dapat telpon dari SA, dia tuh disana disekap, disiksa karena orang sana minta tebusan sebesar 30 ribu USD. Selama uang itu belum masuk, si SA setiap nelpon ke kita, dia selalu di siksa sama orang sana, enggak dikasi makan juga, minum pun nunggu hujan dia baru bisa minum," sambungnya.
Berdasarkan cerita SA, Yohana mengungkap bahwa ada 15 WNI yang disekap bersama sepupunya di tempat yang sama. Namun, hingga kini, mereka tak dapat keluar dari tempat itu.
"Kabar terakhir SA, saat ini ya dia keadaannya yang pasti sedang tidak baik-baik saja. Karena dia bilang megang handphone saja posisi tangannya terborgol dan berada di toilet yang cuma selangkah," katanya.
"Dia bilang kalau dia disiksa hanya pakai tangan dia bilang masih kuat. Tapi ini masalahnya dipukul pakai alat, pake senjata atau stick golf, dia pernah bilang gitu," sambungnya.
Namun, Nana mengaku pihak keluarga belum berniat melayangkan laporan polisi terhadap Risky. Sebab, kata dia, kepulangan SA menjadi fokus utama untuk diperjuangkan.
"Saya sebenernya fokus ingin untuk kepulangan SA dulu saja. Kalau untuk kasus si Risky, paling nanti kita nunggu korban (SA) balik ke Indonesia. Saat ini fokus untuk minta (bantuan) pergerakan Pemerintah dan Kepolisian Indonesia untuk kepulangan SA aja dulu," katanya.
Berdasarkan cerita SA, Yohana mengungkap bahwa ada 15 WNI yang disekap bersama sepupunya di tempat yang sama. Namun, hingga kini, mereka tak dapat keluar dari tempat itu.
"Kabar terakhir SA, saat ini ya dia keadaannya yang pasti sedang tidak baik-baik saja. Karena dia bilang megang handphone saja posisi tangannya terborgol dan berada di toilet yang cuma selangkah," katanya.
"Dia bilang kalau dia disiksa hanya pakai tangan dia bilang masih kuat. Tapi ini masalahnya dipukul pakai alat, pake senjata atau stick golf, dia pernah bilang gitu," sambungnya.
Namun, Nana mengaku pihak keluarga belum berniat melayangkan laporan polisi terhadap Risky. Sebab, kata dia, kepulangan SA menjadi fokus utama untuk diperjuangkan.
"Saya sebenernya fokus ingin untuk kepulangan SA dulu saja. Kalau untuk kasus si Risky, paling nanti kita nunggu korban (SA) balik ke Indonesia. Saat ini fokus untuk minta (bantuan) pergerakan Pemerintah dan Kepolisian Indonesia untuk kepulangan SA aja dulu," katanya.
(abd)
Lihat Juga :