Cegah Swa-Radikalisasi lewat Duta dan Sekolah Damai
Rabu, 07 Agustus 2024 - 12:26 WIB
loading...
A
A
A
"Karena memang sekarang itu zamannya gadget, dan pola pikir sekarang terkadang jika belum viral, maka belum dikenal. Istilahnya itu, no viral, no justice ataupun no viral, no consciousness. Tidak viral maka tidak ada keadilan atau kesadaran. Maka perlu juga untuk ditambah lagi sosialisasi, dan promosi berbagai program penanggulangan radikalisme terorisme, seperti Duta Damai dan Sekolah Damai ini," katanya.
Akademisi yang pernah menjabat Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini menambahkan pula perlunya terus meningkatkan pengetahuan, terlepas dari tingkatan umur ataupun latar belakang lainnya. Menurutnya, segala pengetahuan yang baik, termasuk ilmu agama, adalah pengetahuan yang bersumber dari sumber yang otoritatif dan bisa tervalidasi kebenarannya.
"Dengan bersandar pada sumber keilmuan yang valid, sebenarnya kita sedang mengamalkan salah satu prinsip dalam epistemologi Islam. Manakala kita mempelajari sesuatu yang tidak diketahui otoritas dan validitasnya, cepat atau lambat kita akan tersesat. Bentuk kesesatan inilah yang seringkali menjadikan seseorang merasa benar sendiri. Ketika dia berpikir demikian, alih-alih sedang belajar, orang seperti ini justru menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri (monopoli kebenaran)," kata Prof Didin.
Ia berpendapat apa yang dilakukan oleh gerakan radikal adalah seringkali mengambil sesuatu tanpa memastikan apakah ini otoritatif atau tidak. Padahal, kebenaran datang pada orang yang memiliki pemikiran terbuka tentang berbagai kemungkinan. Orang yang terbuka pemikirannya adalah yang selalu mencoba dalam hidupnya untuk membangun sumber-sumber yang otoritatif dan juga bisa dipastikan validitasnya.
Prof Didin menilai kesadaran untuk mencari sanad atau jalur ilmu yang valid sebenarnya tidak diterapkan hanya ketika belajar agama, ilmu-ilmu lain pun demikian adanya. Khusus dalam ranah ilmu agama, yang seringkali terkait dengan sisi emosi dan keyakinan orang atau pihak tertentu akan kebenaran, maka unsur otoritas dan validitas sangat ditekankan termasuk dalam hal sanad.
Akademisi yang pernah menjabat Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon ini menambahkan pula perlunya terus meningkatkan pengetahuan, terlepas dari tingkatan umur ataupun latar belakang lainnya. Menurutnya, segala pengetahuan yang baik, termasuk ilmu agama, adalah pengetahuan yang bersumber dari sumber yang otoritatif dan bisa tervalidasi kebenarannya.
"Dengan bersandar pada sumber keilmuan yang valid, sebenarnya kita sedang mengamalkan salah satu prinsip dalam epistemologi Islam. Manakala kita mempelajari sesuatu yang tidak diketahui otoritas dan validitasnya, cepat atau lambat kita akan tersesat. Bentuk kesesatan inilah yang seringkali menjadikan seseorang merasa benar sendiri. Ketika dia berpikir demikian, alih-alih sedang belajar, orang seperti ini justru menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri (monopoli kebenaran)," kata Prof Didin.
Ia berpendapat apa yang dilakukan oleh gerakan radikal adalah seringkali mengambil sesuatu tanpa memastikan apakah ini otoritatif atau tidak. Padahal, kebenaran datang pada orang yang memiliki pemikiran terbuka tentang berbagai kemungkinan. Orang yang terbuka pemikirannya adalah yang selalu mencoba dalam hidupnya untuk membangun sumber-sumber yang otoritatif dan juga bisa dipastikan validitasnya.
Prof Didin menilai kesadaran untuk mencari sanad atau jalur ilmu yang valid sebenarnya tidak diterapkan hanya ketika belajar agama, ilmu-ilmu lain pun demikian adanya. Khusus dalam ranah ilmu agama, yang seringkali terkait dengan sisi emosi dan keyakinan orang atau pihak tertentu akan kebenaran, maka unsur otoritas dan validitas sangat ditekankan termasuk dalam hal sanad.
Lihat Juga :