Refleksi 79 Tahun Kemerdekaan RI, Pieter Zulkifli: Korupsi Mewabah di Banyak Sektor
Sabtu, 03 Agustus 2024 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Pieter menjabarkan, kasus-kasus korupsi yang melibatkan sumber daya alam cukup banyak, mulai dari pertambangan ilegal, penyelundupan hasil hutan, hingga penyalahgunaan dana hutan untuk kepentingan pribadi. Hal ini menunjukkan betapa merajalelanya praktik korupsi di sektor ini.
“Korupsi di sektor sumber daya alam yang merajalela menyebabkan hilangnya potensi pendapatan negara dan merusak lingkungan,” kata Pieter.
Akar kutukan sumber daya alam Indonesia, lanjut Pieter, dapat ditelusuri kembali ke sejarah kolonialnya, ketika Belanda berfokus pada eksploitasi kekayaan alam Nusantara. Bahkan setelah merdeka, negara ini tetap sangat bergantung pada ekspor komoditas.
“Korupsi, yang mewabah di banyak sektor telah menyedot sebagian besar pendapatan dari sumber daya alam, sehingga negara kehilangan dana yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Selain itu, basis ekonomi yang sempit telah membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global,” urai Pieter.
Pieter mengingatkan, apa yang pernah disampaikan oleh mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, sosok yang sukses membangun Singapura menjadi negara maju, dia pernah mengkritik mentalitas masyarakat Indonesia yang terlalu bergantung pada sumber daya alam. “Mentalitas ini membuat kita kurang berinovasi dan kompetitif, terlena dalam rasa aman yang palsu,” ungkap Pieter.
Bagaimana agar terbebas dari kutukan sumber daya alam? Menurut Pieter, Indonesia harus melakukan diversifikasi ekonomi. Hal ini melibatkan pengembangan pertumbuhan di berbagai sektor seperti manufaktur, jasa, dan teknologi.
“Investasi besar-besaran dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia juga sangat penting untuk membangun tenaga kerja terampil yang mampu bersaing dalam ekonomi global. Memperkuat lembaga, mempromosikan transparansi, dan memerangi korupsi menjadi bagian penting lain yang wajib dilakukan,” beber Pieter.
“Korupsi di sektor sumber daya alam yang merajalela menyebabkan hilangnya potensi pendapatan negara dan merusak lingkungan,” kata Pieter.
Akar kutukan sumber daya alam Indonesia, lanjut Pieter, dapat ditelusuri kembali ke sejarah kolonialnya, ketika Belanda berfokus pada eksploitasi kekayaan alam Nusantara. Bahkan setelah merdeka, negara ini tetap sangat bergantung pada ekspor komoditas.
“Korupsi, yang mewabah di banyak sektor telah menyedot sebagian besar pendapatan dari sumber daya alam, sehingga negara kehilangan dana yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Selain itu, basis ekonomi yang sempit telah membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global,” urai Pieter.
Pieter mengingatkan, apa yang pernah disampaikan oleh mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, sosok yang sukses membangun Singapura menjadi negara maju, dia pernah mengkritik mentalitas masyarakat Indonesia yang terlalu bergantung pada sumber daya alam. “Mentalitas ini membuat kita kurang berinovasi dan kompetitif, terlena dalam rasa aman yang palsu,” ungkap Pieter.
Bagaimana agar terbebas dari kutukan sumber daya alam? Menurut Pieter, Indonesia harus melakukan diversifikasi ekonomi. Hal ini melibatkan pengembangan pertumbuhan di berbagai sektor seperti manufaktur, jasa, dan teknologi.
“Investasi besar-besaran dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia juga sangat penting untuk membangun tenaga kerja terampil yang mampu bersaing dalam ekonomi global. Memperkuat lembaga, mempromosikan transparansi, dan memerangi korupsi menjadi bagian penting lain yang wajib dilakukan,” beber Pieter.
Lihat Juga :