Turkifikasi Kapal Perang Indonesia
Senin, 15 Juli 2024 - 05:09 WIB
loading...
Ilustrasi: Masyudi/SINDOnews
A
A
A
TURKI semakin menancapkan kehadirannya dalam sistem pertahanan Indonesia. Berbagai jenis alutsista made in negara pewaris Otoman itu perlahan tapi pasti mulai menjadi tulang punggung kekuatan TNI, terutama TNI AL. Kehadirannya pun mampu menggeser alutsista asal negara barat yang selama ini mendominasi, terutama untuk produk combat management system (CMS) dan rudal.
baca juga: Spesifikasi Rudal Khan Turki yang Dibeli Indonesia
Lompatan kisah sukses alutsista buatan negeri yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu bisa dilihat dari keputusan Kementerian Pertahanan (Kemhan) membenamkan CMS beserta rudal buatan Turki sebagai tulang punggung fregat kebanggaan bangsa yang kini tengah dibangun PT PAL, yakni Fregat Merah Mutih (FMP). CMS buatan perusahaan plat merah Turki, Havelsan, menggantikan CMS dari Thales, Prancis.
Perubahan jeroan fregat turunan fregat kelas Iver Huitfeldt yang diproyeksikan memiliki berat 5,996 ton dan panjang 140m itu disampaikan PT PAL dalam rilisnya pada medio Mei 2024 lalu. Perusahaan berbasis di Surabaya itu menjelaskan, pergantian CMS dan rudal mempertimbangkan terbentuknya ekosistem persenjataan baru.
Terbentuknya ekosistem persenjataan baru seolah menjadi kode keras bahwa alutsista Turki on the way mendominasi jeroan kapal perang dan bakal menjadi back bone persenjataan TNI untuk waktu yang lama. Lebih progresif lagi, Kemhan sebagai decision maker sudah masak mempertimbangkan variabel interoperabilitas kapal-kapal perang TNI yang sebelumnya mayoritas menggunakan CMS produksi Thales. Perubahan juga mencakup instrumen sistem pendaratan (instrument landing system/ILS).
Karena itulah, pemasangan CMS beserta rudal Turki juga bukan untuk FMP, tapi juga untuk 41 kapal perang TNI lainnya yang kini tengah menjalani program refurbishment, atau dikenal dengan Proyek R41. Dalam modernisasi tersebut, CMS dan rudal semua kapal perang diganti produk negeri yang pernah mendapat julukan The Sick Man of Europe itu. PT PAL mengistilahkan langkah tersebut sebagai bentuk communality baru dalam kapal perang TNI AL.
Untuk diketahui, kapal perang TNI atau KRI yang menjalani Proyek R41 mulai dari kelas Fatahillah, kelas Malahayati, kelas Halasan, hingga kelas Raden Eddy Martadinata. Modernisasi bukan hanya dilakukan PT PAL saja, namun juga melibatkan sejumlah galangan kapal swasta kebanggaan nasional, yakni PT Batamec, PT Waruna Shipyard, PT Dok Bahari Nusantara, dan PT Palindo Shipyard.
Selain FMP dan 41 kapal perang yang menjadi modernisasi, kebijakan yang lazim dilabeli publik dengan istilah Turkifikasi itu juga berlaku untuk dua kapal offshore patrol vessel (OPV) yang tengah dikerjakan galangan kapal PT Daya Radar Utama (DRU). CMS yang akan dibenamkan sama dengan kapal perang lainnya, yakni buatan Havelsan.
Dikutip dari berbagai sumber, Advent (Network Supported Data Integrated) SYS -demikian merek CMS Havelsan, adalah sistem komando dan kontrol generasi terbaru yang dirancang untuk menanggapi kebutuhan pendekatan operasional yang berorientasi pada kekuatan dan didukung jaringan lebih dari satu kapal perang. CMS ini memiliki arsitektur yang memfasilitasi pengguna membuat keputusan secara cepat dan akurat, serta mampu menyajikan struktur fleksibel dalam penggunaan senjata dan sensor baru.
Berbarengan dengan penandatangan kontrak dengan Havelsan yang dilakukan pada ajang Indo Defence 2022 lalu, Kemhan juga meneken kontrak dengan Roketsan sebagai produsen rudal Turki. Perusahaan tersebut memiliki produk yang bakal menjadi andalan TNI, termasuk TNI AL, seperti Khan Missile System, Roketsan Trisula-O Missile System (OMS), Trisula-O Weapon System (OWS), Trisula-U Missile System, Trisula-U Weapon System (UWS), hingga Atmaca Missile yang akan menjadi rudal utama di kapal perang TNI AL.
Kebijakan Turkifikasi kapal perang TNI AL merupakan perubahan drastis yang perlu dikaji lebih dalam. Beberapa pertimbangan dimaksud antara lain apakah layak alutsista Turki menjadi andalan kapal perang di tengah dinamika konflik Laut China Selatan yang memanas dan kemungkinan terlibatnya negara-negara besar dengan kualitas alutsista state of the art? Atau, apakah kebijakan menjadikan alutsista Turki sebagai ekosistem baru kapal perang TNI AL sekadar melepas ketergantungan dari alutsista barat atau diikuti dengan agenda lain yang lebih strategis?
Persahabatan Kokoh
Istilah Turkifikasi yang mengemuka dalam transaksi alutsista dengan Turki belakangan ini sejatinya sudah dikenal berabad lampau. Definisi merujuk perubahan yang terjadi di daratan Asia Kecil -atau dijuluki Antaolia bangsa Romawi dan Yunani- yang awalnya dihuni bangsa Hatti, Hurriyah, Iberia, Lydia, dan Galatia dengan segala kebudayaanya, menjadi hampir seluruhnya ditinggali masyarakat yang menyebut diri sebagai bangsa Turki.
baca juga: Menperin Rayu Perusahaan Turki Tambah Investasi di Indonesia
Dikutip dari tulisan Khazanah di Republika.co.id, proses Turkifikasi dimulai abad 11 kala pendiri Kesultanan Turki Seljuk, Tughril Beg, diperintah Khalifah al-Qaim dari Dinasti Abbasiyah membendung pengaruh Kekaisaran Bizantium di wilayah utara kekhalifahan Islam. Baru pada 1071, putra Tughril Beg, Alp Arslan berhasil menekuk pasukan Bizantium. Sejak momen itulah, Kesultanan Turki Seljuk menancapkan kekuasaan dan pengaruhnya di Anatolia, hingga lambat laut mengeliminasi suku bangsa dan budaya yang eksis sebelumnya.
baca juga: Spesifikasi Rudal Khan Turki yang Dibeli Indonesia
Lompatan kisah sukses alutsista buatan negeri yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan itu bisa dilihat dari keputusan Kementerian Pertahanan (Kemhan) membenamkan CMS beserta rudal buatan Turki sebagai tulang punggung fregat kebanggaan bangsa yang kini tengah dibangun PT PAL, yakni Fregat Merah Mutih (FMP). CMS buatan perusahaan plat merah Turki, Havelsan, menggantikan CMS dari Thales, Prancis.
Perubahan jeroan fregat turunan fregat kelas Iver Huitfeldt yang diproyeksikan memiliki berat 5,996 ton dan panjang 140m itu disampaikan PT PAL dalam rilisnya pada medio Mei 2024 lalu. Perusahaan berbasis di Surabaya itu menjelaskan, pergantian CMS dan rudal mempertimbangkan terbentuknya ekosistem persenjataan baru.
Terbentuknya ekosistem persenjataan baru seolah menjadi kode keras bahwa alutsista Turki on the way mendominasi jeroan kapal perang dan bakal menjadi back bone persenjataan TNI untuk waktu yang lama. Lebih progresif lagi, Kemhan sebagai decision maker sudah masak mempertimbangkan variabel interoperabilitas kapal-kapal perang TNI yang sebelumnya mayoritas menggunakan CMS produksi Thales. Perubahan juga mencakup instrumen sistem pendaratan (instrument landing system/ILS).
Karena itulah, pemasangan CMS beserta rudal Turki juga bukan untuk FMP, tapi juga untuk 41 kapal perang TNI lainnya yang kini tengah menjalani program refurbishment, atau dikenal dengan Proyek R41. Dalam modernisasi tersebut, CMS dan rudal semua kapal perang diganti produk negeri yang pernah mendapat julukan The Sick Man of Europe itu. PT PAL mengistilahkan langkah tersebut sebagai bentuk communality baru dalam kapal perang TNI AL.
Untuk diketahui, kapal perang TNI atau KRI yang menjalani Proyek R41 mulai dari kelas Fatahillah, kelas Malahayati, kelas Halasan, hingga kelas Raden Eddy Martadinata. Modernisasi bukan hanya dilakukan PT PAL saja, namun juga melibatkan sejumlah galangan kapal swasta kebanggaan nasional, yakni PT Batamec, PT Waruna Shipyard, PT Dok Bahari Nusantara, dan PT Palindo Shipyard.
Selain FMP dan 41 kapal perang yang menjadi modernisasi, kebijakan yang lazim dilabeli publik dengan istilah Turkifikasi itu juga berlaku untuk dua kapal offshore patrol vessel (OPV) yang tengah dikerjakan galangan kapal PT Daya Radar Utama (DRU). CMS yang akan dibenamkan sama dengan kapal perang lainnya, yakni buatan Havelsan.
Dikutip dari berbagai sumber, Advent (Network Supported Data Integrated) SYS -demikian merek CMS Havelsan, adalah sistem komando dan kontrol generasi terbaru yang dirancang untuk menanggapi kebutuhan pendekatan operasional yang berorientasi pada kekuatan dan didukung jaringan lebih dari satu kapal perang. CMS ini memiliki arsitektur yang memfasilitasi pengguna membuat keputusan secara cepat dan akurat, serta mampu menyajikan struktur fleksibel dalam penggunaan senjata dan sensor baru.
Berbarengan dengan penandatangan kontrak dengan Havelsan yang dilakukan pada ajang Indo Defence 2022 lalu, Kemhan juga meneken kontrak dengan Roketsan sebagai produsen rudal Turki. Perusahaan tersebut memiliki produk yang bakal menjadi andalan TNI, termasuk TNI AL, seperti Khan Missile System, Roketsan Trisula-O Missile System (OMS), Trisula-O Weapon System (OWS), Trisula-U Missile System, Trisula-U Weapon System (UWS), hingga Atmaca Missile yang akan menjadi rudal utama di kapal perang TNI AL.
Kebijakan Turkifikasi kapal perang TNI AL merupakan perubahan drastis yang perlu dikaji lebih dalam. Beberapa pertimbangan dimaksud antara lain apakah layak alutsista Turki menjadi andalan kapal perang di tengah dinamika konflik Laut China Selatan yang memanas dan kemungkinan terlibatnya negara-negara besar dengan kualitas alutsista state of the art? Atau, apakah kebijakan menjadikan alutsista Turki sebagai ekosistem baru kapal perang TNI AL sekadar melepas ketergantungan dari alutsista barat atau diikuti dengan agenda lain yang lebih strategis?
Persahabatan Kokoh
Istilah Turkifikasi yang mengemuka dalam transaksi alutsista dengan Turki belakangan ini sejatinya sudah dikenal berabad lampau. Definisi merujuk perubahan yang terjadi di daratan Asia Kecil -atau dijuluki Antaolia bangsa Romawi dan Yunani- yang awalnya dihuni bangsa Hatti, Hurriyah, Iberia, Lydia, dan Galatia dengan segala kebudayaanya, menjadi hampir seluruhnya ditinggali masyarakat yang menyebut diri sebagai bangsa Turki.
baca juga: Menperin Rayu Perusahaan Turki Tambah Investasi di Indonesia
Dikutip dari tulisan Khazanah di Republika.co.id, proses Turkifikasi dimulai abad 11 kala pendiri Kesultanan Turki Seljuk, Tughril Beg, diperintah Khalifah al-Qaim dari Dinasti Abbasiyah membendung pengaruh Kekaisaran Bizantium di wilayah utara kekhalifahan Islam. Baru pada 1071, putra Tughril Beg, Alp Arslan berhasil menekuk pasukan Bizantium. Sejak momen itulah, Kesultanan Turki Seljuk menancapkan kekuasaan dan pengaruhnya di Anatolia, hingga lambat laut mengeliminasi suku bangsa dan budaya yang eksis sebelumnya.
Lihat Juga :