Spirit Bermain, Tragedi dan Kematian Jenaka
Minggu, 30 Juni 2024 - 09:14 WIB
loading...
A
A
A
Dua energi pendorong ini kemudian bersatu – form drive dan sense drive--yang menjadi energi kreatif sebagai disebut play drive dalam berkarya, dan Syakieb menemukan ide yang cerlang mengeksekusi karya Tribute to Junk Food. Schiller sangat terang mewejang bahwa manusia tak bisa meraih potensi terbesarnya tanpa dua kolaboratif energi pendorong tersebut.
Maka, meminjam tesis Schiller yang disebut sebagai play drive adalah totalitas Syakieb merasakan dirinya menjadi utuh sebagai manusia, benar-benar merasakan sensasi sepenuhnya saat ia berkarya dengan cara bermain-main.
Sama dengan Schiller, apa yang dikerjakan oleh perupa Syakieb sejurus pula dengan tesis sejarawan dan pengamat kebudayaan dari Belanda, Johan Huizinga dalam Homo Ludens atau Manusia yang Bermain, menyatakan bahwa sebuah kebermainan bukanlah seremeh sebuah main-main dalam ajang suatu permainan.
Sebenarnya, manusia pada saat mengonsentrasikan dirinya dengan “kebahagiaan melucu” pada sebuah permainan kreatif, taruhlah sebagai bentuk parodi dalam seni kontemporer, ia membentuk greget kekuatan wicara. Sang seniman mentransmisi pesan-pesan yang bisa jadi ujaran tersebut meski bermain-main menjadi serius, mengerucut pada tema-tema tertentu laiknya kisah separuh konyol namun menggelisahkan secara sosial.
Dari film awal abad ke-20 Charlie Caplin sampai karya-karya komikal Rowan Atkinson, yang kemudian tenar dengan Mr Bean-nya, kita merasakan ada sasaran kelucuan yang kemudian membuat masyarakat terhibur, meski menyisakan luka yang tertunda.
Tapi, sang seniman pencipta humor itu mengobatinya tanpa membuat marah siapapun. Charlie Caplin yang memparodikan Adolf Hitler maupun Mr Bean yang mengomedikan masyarakat “borjuis” Inggris, benar-benar sebuah komedi yang membuka borok-borok sosial.
Tragedi, Hasrat Kuasa dan Konsumsi
Karya instalasi milik Syakieb seperti segugus seremoni visual untuk menggedor kembali makna tentang tragedi di dunia modern dan sihir kolektif gaya hidup. Menjejak ulang ruang-ruang urban yang serba cepat serta peliknya kerangkeng hasrat manusia mengonsumsi benda-benda sebagai sebuah keniscayaan.
Gaya hidup menjadi lebih penting dari hidup itu sendiri, tak lagi milik golongan tertentu, namun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia kota dan yang berbeda hanya pada bentuk pemuasannya, bukan pada intensitasnya.
Gejolak hasrat dan ketidaksadaran kolektif manusia tentu saja diperolok oleh karya instalasi Syakieb, dengan memanggungkan sebuah tragedi “kengerian namun elok secara visual”. Sebagai sebuah obyek, yakni tengkorak dan relasinya dengan imej-imej produk makanan cepat saji; yang menggugah justru kewarasan akal dan merasai betapa ringkih kita menjadi manusia?
Syakieb bermain-main dalam kode-kode, menyesatkan konsentrasi imajiner tak hanya pada “sekadar keindahan benda-benda” tentang ikon konsumerisme. Karyanya menggoda kita, McD dan KFC menerbangkan imaji-imaji abstraktif bentuk-bentuk dan teks-teks terbuka atas lambang kesempurnaan kemasan adalah sesuatu paling didamba pada abad ini yang dipasarkan demi mengompori hasrat.
baca juga: MNC Life dan Treasury Gelar Pameran Seni Art Jakarta Gardens 2024
Ia menemani kita, menggiring ironi di sana, keindahan, kecantikan, idealisasi atau kesempurnaan adalah impian-impian yang mewujud sebagai perangkat libidinal manusia untuk tidak mengatakan cukup. Tak menerima apa yang kita butuh, tapi meledakkan keinginan-keinginan berupa hasrat sebagai sebentuk kekuasaan mengonsumsi makanan yang tak terbatas.
Nietzche dan segudang cendekia Barat tak habis-habisnya mengeksplorasi tentang tak sekadar makna will to power, yakni kekuasaan untuk mengendalikan dirinya sebagai manusia bereksistensi. Namun, sebuah konstruk sosial tentang kekuasaan yang sengaja saling berelasi membangun dan dibangun melalui wacana, dan disebarkan oleh dan untuk masyarakat modern dari sekelompok manusia yang memiliki aset kekuasaan lebih unggul dalam politik dan ekonomi.
Kelindan antara produsen junk food, gaya hidup global yang cenderung homogen dan mesin hasrat konsumen bertemu pun diselebrasikan bersama-sama. Cendekia Rene Girard, yang mengamini penuntasan hasrat manusia di abad siber ini sebagai sebuah keinginan subversif mendasar tiap manusia, yang disebutnya konsep keinginan Mimesis -bahwa kita tidak hanya meniru perilaku orang lain tetapi juga keinginan itu sendiri menjadi pokok pangkal.
Maka, meminjam tesis Schiller yang disebut sebagai play drive adalah totalitas Syakieb merasakan dirinya menjadi utuh sebagai manusia, benar-benar merasakan sensasi sepenuhnya saat ia berkarya dengan cara bermain-main.
Sama dengan Schiller, apa yang dikerjakan oleh perupa Syakieb sejurus pula dengan tesis sejarawan dan pengamat kebudayaan dari Belanda, Johan Huizinga dalam Homo Ludens atau Manusia yang Bermain, menyatakan bahwa sebuah kebermainan bukanlah seremeh sebuah main-main dalam ajang suatu permainan.
Sebenarnya, manusia pada saat mengonsentrasikan dirinya dengan “kebahagiaan melucu” pada sebuah permainan kreatif, taruhlah sebagai bentuk parodi dalam seni kontemporer, ia membentuk greget kekuatan wicara. Sang seniman mentransmisi pesan-pesan yang bisa jadi ujaran tersebut meski bermain-main menjadi serius, mengerucut pada tema-tema tertentu laiknya kisah separuh konyol namun menggelisahkan secara sosial.
Dari film awal abad ke-20 Charlie Caplin sampai karya-karya komikal Rowan Atkinson, yang kemudian tenar dengan Mr Bean-nya, kita merasakan ada sasaran kelucuan yang kemudian membuat masyarakat terhibur, meski menyisakan luka yang tertunda.
Tapi, sang seniman pencipta humor itu mengobatinya tanpa membuat marah siapapun. Charlie Caplin yang memparodikan Adolf Hitler maupun Mr Bean yang mengomedikan masyarakat “borjuis” Inggris, benar-benar sebuah komedi yang membuka borok-borok sosial.
Tragedi, Hasrat Kuasa dan Konsumsi
Karya instalasi milik Syakieb seperti segugus seremoni visual untuk menggedor kembali makna tentang tragedi di dunia modern dan sihir kolektif gaya hidup. Menjejak ulang ruang-ruang urban yang serba cepat serta peliknya kerangkeng hasrat manusia mengonsumsi benda-benda sebagai sebuah keniscayaan.
Gaya hidup menjadi lebih penting dari hidup itu sendiri, tak lagi milik golongan tertentu, namun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia kota dan yang berbeda hanya pada bentuk pemuasannya, bukan pada intensitasnya.

Gejolak hasrat dan ketidaksadaran kolektif manusia tentu saja diperolok oleh karya instalasi Syakieb, dengan memanggungkan sebuah tragedi “kengerian namun elok secara visual”. Sebagai sebuah obyek, yakni tengkorak dan relasinya dengan imej-imej produk makanan cepat saji; yang menggugah justru kewarasan akal dan merasai betapa ringkih kita menjadi manusia?
Syakieb bermain-main dalam kode-kode, menyesatkan konsentrasi imajiner tak hanya pada “sekadar keindahan benda-benda” tentang ikon konsumerisme. Karyanya menggoda kita, McD dan KFC menerbangkan imaji-imaji abstraktif bentuk-bentuk dan teks-teks terbuka atas lambang kesempurnaan kemasan adalah sesuatu paling didamba pada abad ini yang dipasarkan demi mengompori hasrat.
baca juga: MNC Life dan Treasury Gelar Pameran Seni Art Jakarta Gardens 2024
Ia menemani kita, menggiring ironi di sana, keindahan, kecantikan, idealisasi atau kesempurnaan adalah impian-impian yang mewujud sebagai perangkat libidinal manusia untuk tidak mengatakan cukup. Tak menerima apa yang kita butuh, tapi meledakkan keinginan-keinginan berupa hasrat sebagai sebentuk kekuasaan mengonsumsi makanan yang tak terbatas.
Nietzche dan segudang cendekia Barat tak habis-habisnya mengeksplorasi tentang tak sekadar makna will to power, yakni kekuasaan untuk mengendalikan dirinya sebagai manusia bereksistensi. Namun, sebuah konstruk sosial tentang kekuasaan yang sengaja saling berelasi membangun dan dibangun melalui wacana, dan disebarkan oleh dan untuk masyarakat modern dari sekelompok manusia yang memiliki aset kekuasaan lebih unggul dalam politik dan ekonomi.
Kelindan antara produsen junk food, gaya hidup global yang cenderung homogen dan mesin hasrat konsumen bertemu pun diselebrasikan bersama-sama. Cendekia Rene Girard, yang mengamini penuntasan hasrat manusia di abad siber ini sebagai sebuah keinginan subversif mendasar tiap manusia, yang disebutnya konsep keinginan Mimesis -bahwa kita tidak hanya meniru perilaku orang lain tetapi juga keinginan itu sendiri menjadi pokok pangkal.
Lihat Juga :