Filsafat Konfusius, Tao, dan Strategi Sun Tzu: Ketenangan Strategis Xi Jinping dalam Menghadapi Taiwan

Jum'at, 21 Juni 2024 - 18:52 WIB
loading...
A A A
Ungkapan “perang adalah bencana besar dan berbahaya” berada dalam keputusan sekejap mata Xi Jinping. Metode dan cara penyatuan militer atau bukan, tidak akan menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah waktu.

Kekuatan Militer PLA Harus Mengungguli Militer AS

Sepuluh tahun lalu, PLA sudah cukup kuat tetapi belum menjadi tandingan militer AS, seperti yang dikenal dengan "kebangkitan China." Kapan sebenarnya China bangkit? Tidak ada jawaban pasti, bahkan mungkin China sendiri tidak menyadarinya. Kemungkinan, saat Olimpiade Beijing 2008, dunia tiba-tiba menyadari bahwa China telah menjadi sangat kuat, dan "kebangkitan China" menjadi lebih jelas.

Begitu juga dalam pemikiran dan perkembangan industri militer, PLA selalu meniru AS. Suatu hari, China menyadari bahwa mereka telah melampaui batu loncatan yang diberikan AS, dan secara tiba-tiba menjadi pemimpin.

Contoh pada tahun 2006, satelit pengintai AS dibutakan oleh laser PLA, pertama kalinya teknologi ini buka buat publik. Penelitian tentang laser di China dimulai pada 1964, fokus pada daya dan miniaturisasi yang cepat. Bidang industri militer lainnya serupa, seperti pengembangan radar array fase. Radar PAVE PAWS Amerika pertama di dunia, namun tidak ada perkembangan lebih lanjut.

Pada 1990-an, China berusaha dengan Israel untuk radar array fase aktif Phalcon, tetapi AS menentangnya, memaksa China mengembangkan teknologi sendiri. Pada 2003, kapal perusak 052C China pertama dengan radar array fase aktif diluncurkan, menunjukkan keunggulan PLA dalam radar dan elektromagnetik dibandingkan Angkatan Laut AS.

Angkatan Laut AS baru memasang radar array fase pasif (PESA) pada kapal perusak Arleigh Burke kelas 3, dengan radar array fase aktif (AESA) menggunakan teknologi gallium nitride yang lebih canggih pada satu kapal. Perkembangan berikutnya dipersoalkan karena China menguasai 90% pasokan gallium global, yang diperlukan untuk komponen elektronik maju.

Semua kapal perusak PLA dilengkapi radar array fase aktif teknologi gallium nitride, meningkatkan jarak deteksi dan daya hancur. Selama latihan militer "Shoulder-to-Shoulder" AS-Filipina, tiga kapal perusak tipe 055 dan satu kapal perusak tipe 052D PLA dikirim ke Laut Cina Selatan, memaksa kelompok tempur kapal induk USS Roosevelt dan USS Reagan meninggalkan daerah tersebut. Ini menunjukkan penurunan kekuasaan militer AS di Pasifik Barat dan penurunan kontrol atas Selat Taiwan.

PLA tidak hanya unggul dalam laser dan radar, tetapi juga dalam teknologi rudal, kedirgantaraan, dan kapal selam. Dalam konflik di perairan China, AS memiliki sedikit peluang menang, karena teknologi PLA telah maju di hampir semua area kecuali jumlah kapal induk.

Kesimpulan

Apakah PLA mampu mengalahkan militer AS hanya dapat diketahui dengan pertempuran. Dari dua insiden di mana kelompok tempur kapal induk AS menghindari PLA, persaingan di medan perang "maya" sangat sengit, dengan kemungkinan AS kalah meskipun mereka mungkin tidak mengakui. Dengan AS kehilangan kendali atas Pasifik Barat, mengapa Xi Jinping tidak terpancing? Penyatuan dengan kekuatan militer itu adalah masalah waktu atau dengan kata lain “ya dan tidak” dari Xi Jinping, dan Xi Jinping memilih strategi bertahan dalam ketenangan dalam meraih simpati rakyat Taiwan.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Dalam Ranah Digital, Indonesia Diimbau Waspadai Risiko Ketergantungan
Iran Ungkap Kelompok...
Iran Ungkap Kelompok Garis Keras yang Sesat Tembaki Kapal untuk Rusak Negosiasi dengan AS
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Rekomendasi
KPAI Ungkap Perkembangan...
KPAI Ungkap Perkembangan Laporan Ruben Onsu dan Sarwendah, Tunggu Hasil Pengadilan
Terowongan Arah Utara...
Terowongan Arah Utara MRT Jakarta Bundaran HI-Kota Rampung Digali, Tembus hingga Kedalaman 28 Meter
Jalur Mandiri Ujian...
Jalur Mandiri Ujian Tulis UNJ 2026 Masih Buka Pendaftaran, Simak Persyaratannya
Berita Terkini
Perdagangan Karbon Dimulai,...
Perdagangan Karbon Dimulai, Menhut Dinilai Memiliki Peran Strategis
DPR Minta Kejagung Bentuk...
DPR Minta Kejagung Bentuk Tim Penyidik Independen yang Tidak Terafiliasi Febrie Adriansyah
Don Ritto Jadi Tersangka...
Don Ritto Jadi Tersangka Kasus Korupsi yang Jerat Eks Jampidsus, Ditahan di Rutan Polda
Rudi Margono Jadi Plt...
Rudi Margono Jadi Plt Jampidsus, Ini Rekam Jejak Pemikirannya tentang Perampasan Aset
Tok! Komisi III DPR...
Tok! Komisi III DPR Bentuk Panja Pengawasan 3 Kasus Korupsi yang Libatkan Eks Jampidsus
Jelang Muktamar ke-35...
Jelang Muktamar ke-35 NU, Nama KH Zulfa Mustofa Masuk Bursa Calon Ketum PBNU
Infografis
China Kerahkan Jet Tempur...
China Kerahkan Jet Tempur dan Kapal Militer untuk Kepung Taiwan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved