alexametrics

Halaqah Kebangsaan, Kiai dan Ulama Imbau Masyarakat Kembali Bersatu

loading...
Halaqah Kebangsaan, Kiai dan Ulama Imbau Masyarakat Kembali Bersatu
Acara Halaqah Kebangsaan dan perayaan Hari Lahir Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta yang ke-34 di Kedoya, Kebon Jeruk, Kamis 25 April 2019 malam. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Forum Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia (FP2I) menggelar Halaqah Kebangsaan menyikapi situasi politik pasca Pemilu 2019.

Halaqah tersebut digelar bersamaan dengan perayaan Hari Lahir Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta yang ke-34 di Kedoya, Kebon Jeruk, Kamis 25 April 2019 malam.

Melalui acara tersebut, para ulama dan kiai berpendapat kondisi saat ini memerlukan upaya serius untuk dapat kembali memantapkan persatuan bangsa.



Menurut mereka, berbagai kejadian sebelum, pada saat, dan terutama setelah pemungutan suara sedikit banyak telah menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.

Untuk itu mereka menyampaikan beberapa seruan penting antara lain, pertama, meminta seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan hasutan apa pun untuk memecah belah umat.

“Meminta seluruh masyarakat agar mengakhiri perbedaan pandangan politik dan kembali bersatu untuk keutuhan bangsa,” tutur Saiful Islam al-Payage, ulama dari Papua saat membacakan poin kedua diikuti seluruh peserta.

Ketiga, sambung dia, meminta seluruh pengasuh pondok pesantren se-Indonesia proaktif memersatukan umat dan tokohnya yang terpecah belah pasca Pemilu.

“Mengimbau aparat keamanan untuk jangan ragu menindak tegas siapa pun yang coba mengganggu ketertiban keamanan,” tandasnya.

Sementara itu, ulama karismatik asal Pekalongan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang hadir mengisi ceramah di tempat itu memaparkan arti penting persatuan.

Dalam ceramahnya, dia berpesan agar umat tidak mudah dipecah belah. “Jangan mudah dipengaruhi informasi yang tidak benar, jangan mau dipecah belah,” ungkapnya.

Dia meminta umat Islam belajar kepada ulama dan tokoh terdahulu. Menurut dia, mereka berjuang dengan gigih mengorbankan jiwa dan raga demi keutuhan bangsa dan negara.

Ulama terdahulu juga paham batasan sehingga tidak merasa paling benar dan menganggap orang lain salah. Terhadap yang berbeda keyakinan sekalipun.

“Tugas kita sekarang, mari kita sama-sama jaga dan rawat NKRI ini dengan meneladani ulama terdahulu kita," tuturnya.
(dam)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak