Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani
Kamis, 20 Agustus 2020 - 22:10 WIB
loading...
A
A
A
Ia menegaskan bahwa, keterangan ini untuk meluruskan informasi yang diklaim berdasarkan sejarah, di mana nama Prof Peter Carey dicatut di dalamnya, padahal sama sekali tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid. Tendensi semacam ini, yang ditunjukkan oleh generasi sekarang, tampak seperti bentuk minderwardigheid (ketidakpercayadirian) yang menganggap bahwa orang-orang Indonesia masa lampau tidak dapat bertahan dari kolonialisme tanpa bantuan asing.
"Padahal, jelas sejarah yang asli dari negara ini menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia dapat bertahan melewati penjajahan Eropa maupun Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945," katanya.
Untuk diketahui, Peter Carey merasa dicatut namanya dalam peluncuran film Jejak Khilafah di Nusantara, garapan Nicko Pandawa, Minggu (2/8/2020). Dalam poster acara guru besar emeritus Trinity College, Oxford, itu disebut sebagai panelis tamu. Padahal, menurut Peter, panitia tidak meminta izin kepada dirinya.
Namun diakuinya bahwa pernah diwawancara untuk memberikan pandangan tentang Pangeran Diponegoro sebagai seorang muslim saat memimpin perang. Namun, tidak ada keterangan bahwa wawancara itu akan masuk dalam sebuah film.
"Padahal, jelas sejarah yang asli dari negara ini menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia dapat bertahan melewati penjajahan Eropa maupun Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945," katanya.
Untuk diketahui, Peter Carey merasa dicatut namanya dalam peluncuran film Jejak Khilafah di Nusantara, garapan Nicko Pandawa, Minggu (2/8/2020). Dalam poster acara guru besar emeritus Trinity College, Oxford, itu disebut sebagai panelis tamu. Padahal, menurut Peter, panitia tidak meminta izin kepada dirinya.
Namun diakuinya bahwa pernah diwawancara untuk memberikan pandangan tentang Pangeran Diponegoro sebagai seorang muslim saat memimpin perang. Namun, tidak ada keterangan bahwa wawancara itu akan masuk dalam sebuah film.
(abd)
Lihat Juga :