Mengelola Kepadatan Penduduk: Tantangan dan Solusi Menuju Kota Berkelanjutan

Sabtu, 01 Juni 2024 - 22:04 WIB
loading...
Mengelola Kepadatan...
Narendra Ning Ampeldenta. FOTO/DOK.PRIBADI
A A A
Narendra Ning Ampeldenta, B.Eng
Pasca Sarjana Ekonomi Energi Hochschule Darmstadt, Jerman


KEPADATAN penduduk merupakan tantangan yang tak terpisahkan bagi kota-kota besar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tingkat kepadatan penduduk tentu tidak dapat dilepaskan dari laju pertumbuhan penduduk dan tren urbanisasi yang terus meningkat. Tidak hanya Jakarta, ibu kota provinsi maupun kota/kabupaten di daerah menjadi daya tarik bagi masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi. Tren urbanisasi di kota-kota besar di Indonesia pun diprediksi meningkat.

Sebagai contoh di ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Semarang dalam 10 tahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 7,8% menjadi sekitar 1,7 juta penduduk di tahun 2023, dengan tingkat kepadatan penduduk yang juga mengalami peningkatan dengan persentase yang sama menjadi 4.534,07 jiwa/km² dibanding 10 tahun terakhir. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah kota untuk bagaimana mendesain kota yang layak huni bagi warganya di tengah laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk.

Kota Berkepadatan Tinggi dengan Jejak Ekologis Rendah

Salah satu tantangan bagi sebuah kota adalah bagaimana mengelola kepadatan penduduk bersamaan dengan memitigasi dampak perubahan iklim dan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Menurut studi dari United Nation Environment Programme (UNEP), kota berkontribusi menyumbang 75% dari emisi karbon dunia. Beberapa hal dapat dilakukan sebuah kota menuju upaya untuk menekan jejak ekologis tetap rendah di tengah padatnya penduduk.

Salah satu upayanya adalah dengan mendiversifikasi ukuran kepadatan penduduk dalam ruang, dalam hal ini berdasarkan karakteristik lingkungan dan wilayah setempat, juga melakukan pemantauan dari waktu ke waktu, berdasarkan pola aktivitas pergerakan penduduk baik itu harian, mingguan bahkan tahunan. Hal ini dapat membantu untuk memahami bagaimana penduduk saling berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan memungkinkan proses perencanaan yang lebih akurat untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang beragam.

Hal kedua yang tidak kalah penting adalah menyediakan pilihan transportasi yang beragam dan efisien untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Selain menyiapkan moda transportasi yang nyaman dan terhubung, jarak menuju pemberhentian terdekat dengan berjalan kaki harus menjadi pertimbangan. Jarak yang dekat dengan berjalan kaki menuju ke pemberhentian terdekat menjadi faktor meningkatnya penggunaan kendaraan umum. Jarak ideal untuk berjalan kaki menuju halte terdekat menurut studi adalah 400 meter. Langkah selanjutnya adalah dengan memasukkan prinsip-prinsip siklus hidup bangunan, seperti pemilihan bahan material yang ramah lingkungan.

Menyediakan Ruang Publik yang Inklusif

Mendesain sebuah ruang untuk publik yang inklusif dan dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat merupakan salah satu aspek kunci dalam rangka transisi menuju kota dengan kepadatan yang layak huni. Ketersediaan ruang publik yang baik merupakan sebuah tanda sebuah kota yang layak huni dan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat baik itu dari aspek lingkungan, ekonomi, sampai dengan kesehatan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demokrat Ajak Semua...
Demokrat Ajak Semua Elemen Bangsa Jaga Ruang Publik yang Kondusif dan Beradab
Soal Pernyataan Amien...
Soal Pernyataan Amien Rais, Foksi Ingatkan Pentingnya Etika Demokrasi di Ruang Publik
Pengamat: Amien Rais...
Pengamat: Amien Rais Keliru Bawa Isu Private Teddy ke Ruang Publik
Medsos Membuka Ruang...
Medsos Membuka Ruang Partisipasi Publik, Pakar: Waspadai Penyusupan Radikalisme
Program MBG Bisa Ciptakan...
Program MBG Bisa Ciptakan Pelaku UMKM Baru dan Cegah Urbanisasi
Penguatan Organisasi...
Penguatan Organisasi KKP Solusi Persoalan Urbanisasi Laut
Kantin Rimbawan IPB...
Kantin Rimbawan IPB Direnovasi Jadi Ruang Publik Kampus
Kongres IAP Jakarta...
Kongres IAP Jakarta 2025, Mewujudkan Kota Global di Usia 500 Tahun
Terus Berinovasi, RPTRA...
Terus Berinovasi, RPTRA Ria Damkar Joglo 2 Manfaatkan Lahan untuk Food Estate
Rekomendasi
Momen Menarik Presiden...
Momen Menarik Presiden FIFA Masuk Kamar Ganti Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Cornelio Sunny Ungkap...
Cornelio Sunny Ungkap Alasan Somasi Keluarga Ratu Sofya, Singgung Pelanggaran Privasi
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
Berita Terkini
PKB Instruksikan DPC...
PKB Instruksikan DPC dan DPW Berdialog dengan Mahasiswa
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved