Denny JA Bicara Agama Cinta dan Paradoks Dunia Modern
Senin, 27 Mei 2024 - 17:28 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, muncul berbagai riset turunan dilihat lagi efek-efeknya kepada tipologi personalisasi, tipologi personalitas. Mereka yang terbiasa berpikir Tuhan itu Tuhan Maha Pengasih, yang Maha Penyayang, cenderung menghasilkan personalit yang lebih kuat empatinya. Personality yang lebih pro sosial yang lebih mudah untuk kerja sukarela yang lebih sensitif kepada pro equality.
Dalam penyampaian pidato sambutan tersebut, penekanan diberikan pada hasil riset yang mendukung gagasan bahwa memilih jalan cinta sebagai ekspresi agama memiliki dampak positif pada kesejahteraan mental dan emosional manusia. Menurut Denny JA, sains terutama dalam bidang neurosains, semakin memperkuat gagasan ini dengan bukti empiris.
Denny JA Kembali mengutip riset yang dihasilkan dari American Psychological Association tahun 2019 menunjukkan bahwa 40% populasi dewasa di Amerika Serikat merasa kesepian. Hasil survei ini merefleksikan kebutuhan akan hubungan personal yang erat dan komunal, yang dapat dijembatani melalui spiritualitas dan ekspresi agama.
Selain itu, data dari World Health Organization tahun 2023 mengejutkan, menyatakan bahwa jumlah kematian akibat bunuh diri telah melampaui jumlah kematian akibat bencana alam, terorisme, dan perang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesejahteraan mental dan emosional menjadi semakin penting di era modern ini.
Dia juga menyoroti paradoks-peradaban modern yang dihadapi oleh masyarakat global, yang menghadirkan tantangan baru terkait kesejahteraan mental dan emosional. Meskipun kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan koneksi virtual yang lebih kuat, banyak individu yang merasa terisolasi dari hubungan personal yang intim.
"Hal ini menciptakan paradoks antara konektivitas digital yang tak terbatas dan kesepian sosial yang meningkat," katanya.
Paradoks pertama adalah era revolusi teknologi komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun orang dapat berkomunikasi secara virtual dengan luar biasa, dari belahan dunia manapun dan kapanpun secara real-time, muncul juga individu yang merasa terputus dari hubungan personal yang intim.
"Hal ini menciptakan paradoks di mana meskipun konektivitas digital semakin kuat, banyak orang mengalami kekosongan dalam hubungan personal," paparnya.
Dalam penyampaian pidato sambutan tersebut, penekanan diberikan pada hasil riset yang mendukung gagasan bahwa memilih jalan cinta sebagai ekspresi agama memiliki dampak positif pada kesejahteraan mental dan emosional manusia. Menurut Denny JA, sains terutama dalam bidang neurosains, semakin memperkuat gagasan ini dengan bukti empiris.
Denny JA Kembali mengutip riset yang dihasilkan dari American Psychological Association tahun 2019 menunjukkan bahwa 40% populasi dewasa di Amerika Serikat merasa kesepian. Hasil survei ini merefleksikan kebutuhan akan hubungan personal yang erat dan komunal, yang dapat dijembatani melalui spiritualitas dan ekspresi agama.
Selain itu, data dari World Health Organization tahun 2023 mengejutkan, menyatakan bahwa jumlah kematian akibat bunuh diri telah melampaui jumlah kematian akibat bencana alam, terorisme, dan perang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kesejahteraan mental dan emosional menjadi semakin penting di era modern ini.
Dia juga menyoroti paradoks-peradaban modern yang dihadapi oleh masyarakat global, yang menghadirkan tantangan baru terkait kesejahteraan mental dan emosional. Meskipun kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan koneksi virtual yang lebih kuat, banyak individu yang merasa terisolasi dari hubungan personal yang intim.
"Hal ini menciptakan paradoks antara konektivitas digital yang tak terbatas dan kesepian sosial yang meningkat," katanya.
Paradoks pertama adalah era revolusi teknologi komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun orang dapat berkomunikasi secara virtual dengan luar biasa, dari belahan dunia manapun dan kapanpun secara real-time, muncul juga individu yang merasa terputus dari hubungan personal yang intim.
"Hal ini menciptakan paradoks di mana meskipun konektivitas digital semakin kuat, banyak orang mengalami kekosongan dalam hubungan personal," paparnya.
Lihat Juga :