Busyro Muqoddas Sebut KPK Zaman Ini Dimutilasi secara Politik

Rabu, 08 Mei 2024 - 21:55 WIB
loading...
Busyro Muqoddas Sebut...
Eks Komisioner KPK Busyro Muqoddas menilai, KPK pada zaman ini sejatinya telah dimutilasi secara politik. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Eks Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menilai, KPK pada saat ini sejatinya telah dimutilasi secara politik. Maka itu, Busyro mempertanyakan arah KPK periode 2024-2029 mendatang.

KPK harus dikembalikan pada garis asli dan lurus ketika dibentuk dahulu sebagai anak kandung Reformasi. KPK yang undang-undangnya menggambarkan independensi total dan punya kewenangan khusus. Misalnya, mengatur gaji sendiri secara akuntabel, membentuk peraturan-peraturan lain untuk menjaga integritas pimpinan dan jajaran stafnya.

"Perjalanan KPK periode pertama sampai tahun 2015 kurang lebih atau periode Pak Agus Rahardjo itu membuktikan UU lama yang mencerminkan historisitas KPK. Nah, sekarang babak baru ini KPK yang betul-betul sudah dimutilasi secara politik. Mutilasi politik ini dilakukan secara simultan, sistemik, solid banget oleh kekuasaan, tingkatnya oligarki-politik dan oligarki-bisnis," ujarnya dalam Konferensi Pers Masyarakat Sipil Kawal Seleksi Capim dan Dewas KPK 2024-2029 di Kantor ICW, Jakarta Selatan pada Rabu (8/5/2024).

Baca juga: Eks Penyidik: Pembentukan Pansel Capim dan Dewas KPK Jangan Jadi Dagelan

"Hasilnya, KPK yang sekarang ini, dampaknya seperti ini yang kita lihat akhir-akhir ini. Oleh karena itulah dengan dengan perbandingan dan komparasi, membandingkan KPK dahulu dengan KPK sekarang ini, mau kemana KPK ini, khususnya panitia seleksi," tuturnya.

Busyro menerangkan, arah KPK periode berikutnya bakal ditentukan oleh pansel yang akan dibentuk nanti. Dia hanya punya satu statemen, yakni mengembalikan KPK pada garis aslinya. "Apakah perlu kita melakukan suatu desakan agar rezim Jokowi ini tak sepihak membuat pansel. Kita sulit percaya jika panselnya seperti kemarin itu dengan hasil KPK dimutilasi seperti sekarang ini," jelasnya.

Baca juga: Pertanyakan Materi Tes Pegawai KPK, Busyro Muqoddas: Ada Pengaruh Luar?

Busyro mempertanyakan, apakah perlu mendesak pembentukan pansel tak dilakukan secara sepihak oleh Presiden Joko Widodo guna mengembalikan keaslian KPK lantaran dia khawatir jika pembentukan pansel secara sepihak oleh Jokowi bakal menghasilkan pimpinan KPK sebagaimana saat ini. "Apakah perlu kita desak pansel itu tak langsung sepihak oleh Presiden Jokowi, tapi Presiden Jokowi kita berikan 1 kerangka berpikir sebagai nasehat dari rakyat, yaitu pansel yang demokratis," ungkapnya.

Guna mencerminkan demokratisasi, kata Busyro, masyarakat sipil pun harus mendorong Presiden Jokowi agar mereka memilik hak mengajukan kriteria-kriteria tertentu dalam menentukan pansel. Sehingga, selain dari presiden, masyarakat sipil pun bisa sama-sama mengusulkan pula orang-orang dengan rekam jejak terbaik.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
Kantor Imigrasi Denpasar...
Kantor Imigrasi Denpasar dan 2 Lokasi Lainnya Digeledah KPK, Bukti Elektronik hingga Dokumen Disita
KPK Telusuri Pembelian...
KPK Telusuri Pembelian Aset Fadia Arafiq saat Jabat Bupati Pekalongan
KPK Buka Peluang Periksa...
KPK Buka Peluang Periksa Pihak BPK, Dalami Peran Eks Staf Ahli Bobby Adhityo Rizaldi
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Ajukan Tambahan Anggaran...
Ajukan Tambahan Anggaran Rp762 Miliar, KPK: Kami Tidak Muluk-muluk
Kasus Muara Enim, KPK:...
Kasus Muara Enim, KPK: Korupsi Terjadi sebelum Tahap Perencanaan-Penganggaran Dilakukan
Rumah Bupati Sugiri...
Rumah Bupati Sugiri Sancoko Digeledah, 3 Mobil Hardtop dan 1 Alphard Disita
KPK Periksa 9 Saksi,...
KPK Periksa 9 Saksi, Telusuri Pemberian Uang ke Bupati Gatut Sunu Wibowo
Rekomendasi
Ronaldo Disorot di Piala...
Ronaldo Disorot di Piala Dunia 2026, Conceicao: Tak Wajib Umpan CR7
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo Energy dan BP per 22 Juni 2026
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Berita Terkini
iPhone XS Mantan Kepala...
iPhone XS Mantan Kepala Dinas Perizinan Jogja Dilelang KPK: Laku Rp34 Juta, tapi Belum Dilunasi Pemenang Lelang
Kebangkitan Sepak Bola...
Kebangkitan Sepak Bola Asia: Pelajaran untuk Pembangunan Ekonomi
Memahami Urgensi Koperasi...
Memahami Urgensi Koperasi Desa Merah Putih
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Jokowi Minta PSI Dukung...
Jokowi Minta PSI Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode, AHY: Pemilu 2029 Masih Lama
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved