BMKG: Juli hingga Desember 2023 Catatkan Rekor Suhu Terpanas
Senin, 01 April 2024 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
“Padahal kesepakatan Paris, itu baru akan tercapai di akhir abad, itu disepakati tidak boleh lebih dari 1,5 derajat Celcius untuk akhir abad. Nah, ini baru tahun 2023. Jadi betapa kita ini sudah sangat dekat dengan batas dari kesepakatan tadi. Sebelum tahun 2023, jadi tahun 2022 itu masih 1,2 derajat Celcius,” kata Dwikorita.
Dwikorita mengatakan, kenaikan suhu ini berdampak pada semakin seringnya kejadian ekstrem. “Kita melihat kejadian ekstrem sudah semakin sering, intensitasnya semakin menguat dan durasinya semakin panjang. Jadi tahun 1855, suhu ini kan masih berkisar di antara itu sebagai baseline ya sebagai dasar kemudian hingga tahun 1920-1933, ini rata-rata kurang lebih stabil suhu permukaan ya. Namun kemudian terjadi peningkatan hingga tahun 1970-an, 1970-an meningkat sudah terjadi peningkatan dan terjadi lonjakan pasca 1975,” ujar Dwikorita.
Dwikorita mengungkapkan kenaikan suhu bumi korelatif dengan meningkatnya intensitas kegiatan industri yang menghasilkan gas-gas rumah kaca. “Jadi gas-gas rumah kaca itulah antara lain CO2 ya, itu yang apa berperan menaikkan suhu karena gas-gas itu menjadi selubung di atmosfer menjadi selimut atmosfer yang menghambat pelepasan pantulan sinar matahari dari permukaan bumi untuk kembali ke angkasa luar,” ujarnya.
“Jadi gas-gas tadi menghambat kembalinya pantulan sinar matahari ke angkasa luar sehingga sinar matahari atau suhunya itu terjerat, terjebak di dalam atmosfer. Dan itulah yang mengakibatkan kenaikan suhu yang semakin melompat,” katanya.
Dwikorita mengatakan, kenaikan suhu ini berdampak pada semakin seringnya kejadian ekstrem. “Kita melihat kejadian ekstrem sudah semakin sering, intensitasnya semakin menguat dan durasinya semakin panjang. Jadi tahun 1855, suhu ini kan masih berkisar di antara itu sebagai baseline ya sebagai dasar kemudian hingga tahun 1920-1933, ini rata-rata kurang lebih stabil suhu permukaan ya. Namun kemudian terjadi peningkatan hingga tahun 1970-an, 1970-an meningkat sudah terjadi peningkatan dan terjadi lonjakan pasca 1975,” ujar Dwikorita.
Dwikorita mengungkapkan kenaikan suhu bumi korelatif dengan meningkatnya intensitas kegiatan industri yang menghasilkan gas-gas rumah kaca. “Jadi gas-gas rumah kaca itulah antara lain CO2 ya, itu yang apa berperan menaikkan suhu karena gas-gas itu menjadi selubung di atmosfer menjadi selimut atmosfer yang menghambat pelepasan pantulan sinar matahari dari permukaan bumi untuk kembali ke angkasa luar,” ujarnya.
“Jadi gas-gas tadi menghambat kembalinya pantulan sinar matahari ke angkasa luar sehingga sinar matahari atau suhunya itu terjerat, terjebak di dalam atmosfer. Dan itulah yang mengakibatkan kenaikan suhu yang semakin melompat,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :