Hadapi Resesi, Pemerintah Disarankan Optimalkan Sektor Pertanian
Jum'at, 14 Agustus 2020 - 17:53 WIB
loading...
A
A
A
Effendi menyayangkan pidato Presiden yang tidak menyampaikan capaian seperti itu sebagai momentum untuk rebound. "Saya lihat di berbagai wilayah, kita punya pertanian, tapi karena mungkin selama ini kita konsumsinya tergantung impor sehingga tidak terkoordinir dengan baik penanganannya," katanya.
Pidato Jokowi yang menyebut upaya pemerintah untuk membuat food estate di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara, menurut Effendi, juga bukan merupakan sebuah langkah yang tepat. "Saya kira lupakanlah gaya-gaya sentralistik food estate begitu. Lebih baik sudahlah berdasarkan kepada empiris, dimana wilayah itu memang ada selling point tanaman tertentu, di situ saja di-endorse untuk dikelola," katanya.
Menurut Effendi, Jokowi seharusnya bisa menjadikan dua contoh kegagalan, baik di era Orde Baru maupun di periode pertama pemerintahannya yang dinilai gagal membangun food estate di Kalteng.
Seharusnya, kata Effendi, pemerintah memberikan perhatian justru di daerah-daerah yang lahannya subur, seperti di Jawa Barat, Banten, jika ingin mengembangkan food estate. "Kenapa harus dipaksakan di Kalteng dengan bentuk kontur tanahnya yang mungkin terlalu tinggi asamnya dan banyak gambut," katanya.
Effendi menyebutkan bahwa ada dua kali contoh kegagalan proyek seperti ini baik di jaman Orde Baru maupun jaman belum lama ini, dua tiga tahun lalu, ketika pemerintah menganggarkan hampir Rp5 triliun, baik melalui kerja sama antara Kementan dengan TNI, maupun yang dialokasikan di Kemhan. "Itu kan unsuccess story, kok masih diteruskan di wilayah yang sama. Di sisi lain ada pola yang desentralistik saja yang memang daerah dengan kelebihan natural advantage yang sudah ada, di situ saja diberikan stimulus, di-endorse," tandasnya.
Pidato Jokowi yang menyebut upaya pemerintah untuk membuat food estate di Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara, menurut Effendi, juga bukan merupakan sebuah langkah yang tepat. "Saya kira lupakanlah gaya-gaya sentralistik food estate begitu. Lebih baik sudahlah berdasarkan kepada empiris, dimana wilayah itu memang ada selling point tanaman tertentu, di situ saja di-endorse untuk dikelola," katanya.
Menurut Effendi, Jokowi seharusnya bisa menjadikan dua contoh kegagalan, baik di era Orde Baru maupun di periode pertama pemerintahannya yang dinilai gagal membangun food estate di Kalteng.
Seharusnya, kata Effendi, pemerintah memberikan perhatian justru di daerah-daerah yang lahannya subur, seperti di Jawa Barat, Banten, jika ingin mengembangkan food estate. "Kenapa harus dipaksakan di Kalteng dengan bentuk kontur tanahnya yang mungkin terlalu tinggi asamnya dan banyak gambut," katanya.
Effendi menyebutkan bahwa ada dua kali contoh kegagalan proyek seperti ini baik di jaman Orde Baru maupun jaman belum lama ini, dua tiga tahun lalu, ketika pemerintah menganggarkan hampir Rp5 triliun, baik melalui kerja sama antara Kementan dengan TNI, maupun yang dialokasikan di Kemhan. "Itu kan unsuccess story, kok masih diteruskan di wilayah yang sama. Di sisi lain ada pola yang desentralistik saja yang memang daerah dengan kelebihan natural advantage yang sudah ada, di situ saja diberikan stimulus, di-endorse," tandasnya.
Lihat Juga :