Fahira Minta Penetapan Zona Covid sebagai Dasar Buka Sekolah Dievaluasi
Kamis, 13 Agustus 2020 - 19:06 WIB
loading...
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Fahira Idris. Foto/dok DPD
A
A
A
JAKARTA - Penetapan zona atau peta risiko penularan Covid-19 di Indonesia yang dijadikan dasar atau rujukan utama berbagai kebijakan termasuk pembukaan sekolah diminta dievaluasi.
Meski penetapan zona ini sudah didasarkan atas banyak indikator kesehatan masyarakat (indikator epidemiologi; surveilans kesehatan masyarakat; dan pelayanan kesehatan), tetapi di hingga saat ini jumlah pelacakan dan pemeriksaan kasus atau jumlah tes terutama dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di sebagian besar wilayah di Indonesia masih minim atau belum memenuhi target yang ditetapkan WHO.
Selain itu tingkat kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan di berbagai daerah juga bervariasi.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fahira Idris mengungkapkan, penetapan zona hijau (tidak ada kasus/tidak terdampak) dan zona kuning (berisiko rendah) sebagai dasar pembukaan sekolah diharapkan menjadikan jumlah tes PCR di sebuah wilayah yang dilakukan secara berkala sebagai salah satu indikator utama.
Di masa pandemi ini, lanjut dia, terlebih mobilitas masyarakat juga sudah dilonggarkan. Untuk memastikan sebuah daerah atau wilayah adalah zona hijau, kuning, dan seterusnya, idealnya setelah dilakukan tes massal secara berkala sesuai yang dianjurkan WHO, yakni minimal 1 per 1.000 penduduk per minggu.
Meski penetapan zona ini sudah didasarkan atas banyak indikator kesehatan masyarakat (indikator epidemiologi; surveilans kesehatan masyarakat; dan pelayanan kesehatan), tetapi di hingga saat ini jumlah pelacakan dan pemeriksaan kasus atau jumlah tes terutama dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di sebagian besar wilayah di Indonesia masih minim atau belum memenuhi target yang ditetapkan WHO.
Selain itu tingkat kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan di berbagai daerah juga bervariasi.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fahira Idris mengungkapkan, penetapan zona hijau (tidak ada kasus/tidak terdampak) dan zona kuning (berisiko rendah) sebagai dasar pembukaan sekolah diharapkan menjadikan jumlah tes PCR di sebuah wilayah yang dilakukan secara berkala sebagai salah satu indikator utama.
Di masa pandemi ini, lanjut dia, terlebih mobilitas masyarakat juga sudah dilonggarkan. Untuk memastikan sebuah daerah atau wilayah adalah zona hijau, kuning, dan seterusnya, idealnya setelah dilakukan tes massal secara berkala sesuai yang dianjurkan WHO, yakni minimal 1 per 1.000 penduduk per minggu.
Lihat Juga :