Pengamat Politik Anggap Prabu Revolusi Melecehkan Akademisi
Kamis, 08 Februari 2024 - 10:50 WIB
loading...
A
A
A
Ari mencatat sudah ada 50 perguruan tinggi baik swasta dan negeri yang ikut menyuarakan keprihatinan terhadap demokrasi di Indonesia. "Mereka ini menyuarakan apa yang dirasa dan dilihat bagaimana etika dilanggar bagaimana moral diporak-porandakan dan itu dilakukan oleh elite-elite yang selama ini menjadi panutan. Tidak ada lagi nilai panutan saat ini," kata Ari.
Ari menyebut saat ini bangsa Indonesia mengalami sebuah krisis moral yang sangat besar dan hal tersebut berlangsung ketika pesta demokrasi akan segera dilakukan. "Oleh karena itu sekali lagi jangan menganggap atau menuding suara-suara kejujuran dari kampus dari berbagai pelosok Tanah Air ini dianggap sebagai suara partisan. Mereka tentu mempertaruhkan kredibilitas kebakaran keilmuannya dan harusnya ini menjadi perhatian besar," ungkapnya.
Untuk diketahui, Prabu Revolusi menilai pernyataan sikap para sivitas akademika dan guru besar yang mengkritisi Presiden Jokowi sebagai sikap partisan. Menurut Prabu, tindakan guru besar dan akademisi tersebut sebagai tindakan yang tidak elok.
"Bagi saya sangat tidak elok ketika kampus dicampuradukkan dengan kepentingan politik, apalagi jika tidak secara resmi mewakili kampus," tutur Prabu.
Ari menyebut saat ini bangsa Indonesia mengalami sebuah krisis moral yang sangat besar dan hal tersebut berlangsung ketika pesta demokrasi akan segera dilakukan. "Oleh karena itu sekali lagi jangan menganggap atau menuding suara-suara kejujuran dari kampus dari berbagai pelosok Tanah Air ini dianggap sebagai suara partisan. Mereka tentu mempertaruhkan kredibilitas kebakaran keilmuannya dan harusnya ini menjadi perhatian besar," ungkapnya.
Untuk diketahui, Prabu Revolusi menilai pernyataan sikap para sivitas akademika dan guru besar yang mengkritisi Presiden Jokowi sebagai sikap partisan. Menurut Prabu, tindakan guru besar dan akademisi tersebut sebagai tindakan yang tidak elok.
"Bagi saya sangat tidak elok ketika kampus dicampuradukkan dengan kepentingan politik, apalagi jika tidak secara resmi mewakili kampus," tutur Prabu.
(rca)
Lihat Juga :