AICIS 2024: Meneguhkan Misi Suci, Mengatasi Anomali
Selasa, 30 Januari 2024 - 21:22 WIB
loading...
A
A
A
Dalam tinjauan epistemologis, kelahiran suatu agama tidaklah muncul pada ruang dan waktu yang hampa budaya. Agama lahir sebagai respons atas terjadinya anomali sosial yang menindas nilai kemanusiaan. Seorang nabi, sang pembawa risalah agama memiliki misi suci mereformasi sosial untuk memanusiakan manusia. Pada titik inilah, setiap nabi adalah seorang reformis dan agama adalah kumpulan doktrin yang berfungsi sebagai panduan untuk melakukan reformasi sosial.
Dalam terminologi Islam, anomali sosial itu mewujud dalam tata kehidupan sosial masyarakat Arab yang disebut dengan jahiliyah. Perilaku anomali jahiliyah mewujud dalam berbagai problem kehidupan misalnya absurditas teologis dalam bentuk polytheisme (kesyirikan), sistem ekonomi yang menindas (riba/rentenir), sistem politik yang tidak demokratis (tribalism) dan ketidakadilan gender (subordinasi peran manusia) dan alienasi nilai kemanusiaan (stereotyping perempuan sebagai sub-human).
Realitas anomali masyarakat jahili ini tampaknya mewujud dalam berbagai manifestasi yang ragam seperti peperangan, terorisme, ketidakdilan gender, korupsi, kolusi dan nepotisme di era komtemporer ini yang terjadi pada semua lini kehidupan. Sepertinya, agama harus hadir kembali untuk memerankan misi sucinya mengembalikan nilai kemanusiaan dan mengatasi anomali sosial yang mengglobal yang melahirkan berbagai krisis kemanusiaan.
AICIS Ke-23 di UIN Walisongo menjadi forum strategis untuk merumuskan dan mendefinisikan kembali misi suci agama untuk mencari jawaban atas keraguan sebagian kecil orang terhadap peran dan masa depan agama dalam mengatasi krisis kemanusiaan global. Para tokoh agama dunia yang hadir di forum AICIS menjadi penutur pesan-pesan profestis Sang Nabi untuk menggaungkan misi sucinya mengatasi anomali sosial untuk mengatasi krisis kemanusiaan global.
Dalam terminologi Islam, anomali sosial itu mewujud dalam tata kehidupan sosial masyarakat Arab yang disebut dengan jahiliyah. Perilaku anomali jahiliyah mewujud dalam berbagai problem kehidupan misalnya absurditas teologis dalam bentuk polytheisme (kesyirikan), sistem ekonomi yang menindas (riba/rentenir), sistem politik yang tidak demokratis (tribalism) dan ketidakadilan gender (subordinasi peran manusia) dan alienasi nilai kemanusiaan (stereotyping perempuan sebagai sub-human).
Realitas anomali masyarakat jahili ini tampaknya mewujud dalam berbagai manifestasi yang ragam seperti peperangan, terorisme, ketidakdilan gender, korupsi, kolusi dan nepotisme di era komtemporer ini yang terjadi pada semua lini kehidupan. Sepertinya, agama harus hadir kembali untuk memerankan misi sucinya mengembalikan nilai kemanusiaan dan mengatasi anomali sosial yang mengglobal yang melahirkan berbagai krisis kemanusiaan.
AICIS Ke-23 di UIN Walisongo menjadi forum strategis untuk merumuskan dan mendefinisikan kembali misi suci agama untuk mencari jawaban atas keraguan sebagian kecil orang terhadap peran dan masa depan agama dalam mengatasi krisis kemanusiaan global. Para tokoh agama dunia yang hadir di forum AICIS menjadi penutur pesan-pesan profestis Sang Nabi untuk menggaungkan misi sucinya mengatasi anomali sosial untuk mengatasi krisis kemanusiaan global.
(abd)
Lihat Juga :