alexametrics

Bahasa Kitab Suci

loading...
Bahasa Kitab Suci
Komaruddin Hidayat. Foto/Istimewa
A+ A-
Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

SECARA ilmiah dan filosofis, istilah ”kitab suci” itu sendiri mengandung perdebatan. Kitab suci apa dan yang mana, lalu suci menurut siapa? Sebuah kitab suci itu memang secara intrinsik suci atau disucikan oleh umatnya?

Terdapat konsensus politik dan kultural bahwa setiap agama memiliki kitab suci yang kita semua mesti menghormatinya karena posisinya melekat pada komunitas yang mengimaninya. Kalau menghina sebuah kitab suci, maka wajar komunitas yang mengimaninya akan marah.



Namun, jika diskusi itu dibawa ke ranah filsafat dan teologi, kesucian itu relatif, maksudnya berkorelasi dengan sikap iman. Sebuah kitab suci bisa jadi akan diposisikan tak ubahnya sebuah buku layaknya buku-buku yang berjejer di toko buku bagi yang tidak mengimaninya, sekalipun oleh komunitas lain disucikan.

Kalau sebuah kitab disebut suci karena datang dari Allah, maka bagi orang beriman semua yang ada ini adalah datang dari Allah. Bahkan bahasa yang digunakan oleh kitab suci itu bahasa budaya, karena kalau wahyu Tuhan tidak disampaikan dengan medium bahasa budaya, manusia tak akan memahaminya sehingga pesan Tuhan tidak bisa ditangkap manusia.

Makanya, muncul pandangan, dalam kitab suci itu bertemu unsur yang profan dengan yang sakral. Yang relatif dan yang absolut. Relatively absolute, absolutely relative.

Dalam teologi Islam, terdapat pandangan dominan bahwa Alquran itu baik redaksi maupun isinya adalah firman Tuhan, beda dari kitab hadis yang merupakan himpunan sabda Rasulullah Muhammad. Dengan demikian, umat Islam selalu menjaga autentisitas kitab suci Alquran, diikuti dengan berbagai tafsiran untuk menggali kandungan maknanya.

Terjemahan Alquran adalah bentuk tafsir tersingkat, karena ketika seseorang melakukan terjemahan sesungguhnya juga telah melakukan penafsiran ketika memilih padanan kata dan kalimatnya dalam bahasa dan budaya non-Arab.

Menurut para pakar bahasa dan ilmu Alquran, narasi Alquran itu sangat indah, sebagian menggunakan format prosa dengan logika analog dan metafor sehingga membuat pembacanya selalu merasakan keindahan gaya bahasanya serta kedalaman kandungan maknanya yang berlapis-lapis. Tak ada kitab suci yang telah melahirkan tafsiran berjuta-juta lembar pembahasan untuk menyelami kandungan pesannya, kecuali Alquran. Tak ada tradisi menghafalkan kitab suci, kecuali menghafal Alquran.
halaman ke-1 dari 2
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak