Ganjar-Mahfud Akan Lakukan Transisi Energi Secara Gradual
Jum'at, 12 Januari 2024 - 12:47 WIB
loading...
Capres Ganjar Pranowo dalam dialog bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Kamis (11/1/2024). FOTO/TPN GANJAR-MAHFUD
A
A
A
JAKARTA - Calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo menegaskan transisi energi menuju energi hijau dan berkelanjutan harus dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan ketersediaan sumber daya energi.
Ganjar menjelaskan, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) memang telah menjadi sorotan dunia, termasuk pada pertemuan COP 28 di Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu. Indonesia memang punya pilihan transisi energi. Jika tidak dilakukan saat ini, maka masalahnya akan menjadi lebih besar ke depan.
"Masalah ini harus dimitigasi dari sekarang dengan memperhatikan biaya dan sumber daya energi yang ada," kata Ganjar dalam dialog bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Kamis (11/1/2024).
Ganjar menyadari transisi energi akan dilakukan secara gradual. "Beberapa teman memberi nasihat pada saya, jangan langsung lompat ke EBT. Kita masih punya gas yang belum optimal pemanfaatan. Kalau dari energi kotor ke energi yang sedikit lebih bersih kemudian ke EBT rasa-rasanya bisa jalanm," katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luar Negeri Kadin, Shinta W Kamdani menegaskan, Indonesia punya komitmen untuk mencapai nett zero emission (NZE) pada 2060. Sementara kalau Indonesia mau mempercepat pemanfaatan EBT, maka akan ada konsekuensi, yakni harga energi yang lebih tinggi. Sebut saja harga listrik dari PLTS lebih mahal dari harga listrik dari batu bara.
"Sehingga subsidi untuk energi menjadi lebih besar. Kemudian biaya yang dikeluarkan masyarakat pun lebih besar. Pertanyaannya bagaimana menyeimbangkan dua kepentingan ini," katanya.
Ganjar menjelaskan, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) memang telah menjadi sorotan dunia, termasuk pada pertemuan COP 28 di Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu. Indonesia memang punya pilihan transisi energi. Jika tidak dilakukan saat ini, maka masalahnya akan menjadi lebih besar ke depan.
"Masalah ini harus dimitigasi dari sekarang dengan memperhatikan biaya dan sumber daya energi yang ada," kata Ganjar dalam dialog bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Kamis (11/1/2024).
Ganjar menyadari transisi energi akan dilakukan secara gradual. "Beberapa teman memberi nasihat pada saya, jangan langsung lompat ke EBT. Kita masih punya gas yang belum optimal pemanfaatan. Kalau dari energi kotor ke energi yang sedikit lebih bersih kemudian ke EBT rasa-rasanya bisa jalanm," katanya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luar Negeri Kadin, Shinta W Kamdani menegaskan, Indonesia punya komitmen untuk mencapai nett zero emission (NZE) pada 2060. Sementara kalau Indonesia mau mempercepat pemanfaatan EBT, maka akan ada konsekuensi, yakni harga energi yang lebih tinggi. Sebut saja harga listrik dari PLTS lebih mahal dari harga listrik dari batu bara.
"Sehingga subsidi untuk energi menjadi lebih besar. Kemudian biaya yang dikeluarkan masyarakat pun lebih besar. Pertanyaannya bagaimana menyeimbangkan dua kepentingan ini," katanya.
Lihat Juga :