Ketua DPP Perindo: Kemandirian Produksi Alutsista Kunci Efektivitas Sishankamrata
Minggu, 07 Januari 2024 - 22:22 WIB
loading...
A
A
A
”Meskipun proses pemilihan dan pengadaan alutsista tersebut sudah menggunakan mekanisme yang benar, tetapi negara lain sebagai produsen alutsista juga tidak selalu bisa menjual produk alutsista yang kita butuhkan,” ucapnya.
Beberapa kali proses pemilihan dan pengadaan alutsista menginginkan produk yang betul-betul baru tetapi kenyataan yang ada hanya tersedia produk bekas. Produk alutsista yang baru memiliki harga yang sangat mahal dan proses konstruksi bisa mencapai 4 sampai 5 tahun.
”Itulah mengapa kita terpaksa membeli alutsista bekas. Tuntutan waktu dan alokasi anggaran acapkali lebih menonjol dibandingkan mutu alutsista. Oleh karenanya kita harus mampu membeli alutsista yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan dari negara produsen,” ucapnya.
Caleg DPR RI Dapil VI Jawa Tengah dengan nomor urut 1 ini menambahkan, pada akhirnya kemandirian produksi alutsista merupakan elemen vital dalam mencapai efektivitas sishankamrata. ”Dibutuhkan riset yang berkelanjutan untuk inovasi produk alutsista di masa mendatang,” ucapnya.
Nuning menambahkan, pembenahan alutsista TNI terbagi ke dalam dua program untuk alutsista yang dimiliki sebelum Minimum Essential Force (MEF) ditetapkan pemerintah dan setelah MEF berjalan. Alutsista sebelum MEF dibenahi untuk mempertahankan life cycle agar tetap dapat digunakan sesuai pasokan rantai logistik dan keahlian prajurit TNI yang mengawaki alutsista tersebut.
”Dari analisa Operation Reaearch biasanya pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level yang maximin, yaitu yang maksimal dan semua kondisi minimal. Sedangkan alutsista yang pengadaanya setelah MEF berlaku, maka pembenahannya diutamakan untuk interoperability dan communability,” paparnya.
Pembenahan yang bersifat interoperability agar seluruh alutsista ketiga matra dapat digunakan secara terintegrasi. Contohnya meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh masing-masing angkatan berbeda tetapi tetap terintegral ke dalam sistem komunikasi ketika operasi gabungan digelar. Pembenahan yang bersifat communability agar suku cadang atau logistik alutsista yang diadakan oleh suatu angkatan dapat memenuhi kebutuhan angkatan lainnya.
Nuning mencontohkan, suku cadang tank milik Angkatan Darat dapat digunakan oleh panser Korps Marinir. Amunisi meriam kaliber 40 mm Angkatan Laut dapat mendukung kebutuhan pesawat tempur Angkatan Udara. Menggunakan Operation Research, maka pembenahan Alutsista tsb dituntut mencapai level yang Minimax, yaitu yang minimal dari semua kondisi maksimal.
Beberapa kali proses pemilihan dan pengadaan alutsista menginginkan produk yang betul-betul baru tetapi kenyataan yang ada hanya tersedia produk bekas. Produk alutsista yang baru memiliki harga yang sangat mahal dan proses konstruksi bisa mencapai 4 sampai 5 tahun.
”Itulah mengapa kita terpaksa membeli alutsista bekas. Tuntutan waktu dan alokasi anggaran acapkali lebih menonjol dibandingkan mutu alutsista. Oleh karenanya kita harus mampu membeli alutsista yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan dari negara produsen,” ucapnya.
Caleg DPR RI Dapil VI Jawa Tengah dengan nomor urut 1 ini menambahkan, pada akhirnya kemandirian produksi alutsista merupakan elemen vital dalam mencapai efektivitas sishankamrata. ”Dibutuhkan riset yang berkelanjutan untuk inovasi produk alutsista di masa mendatang,” ucapnya.
Nuning menambahkan, pembenahan alutsista TNI terbagi ke dalam dua program untuk alutsista yang dimiliki sebelum Minimum Essential Force (MEF) ditetapkan pemerintah dan setelah MEF berjalan. Alutsista sebelum MEF dibenahi untuk mempertahankan life cycle agar tetap dapat digunakan sesuai pasokan rantai logistik dan keahlian prajurit TNI yang mengawaki alutsista tersebut.
”Dari analisa Operation Reaearch biasanya pembenahan alutsista tersebut dituntut mencapai level yang maximin, yaitu yang maksimal dan semua kondisi minimal. Sedangkan alutsista yang pengadaanya setelah MEF berlaku, maka pembenahannya diutamakan untuk interoperability dan communability,” paparnya.
Pembenahan yang bersifat interoperability agar seluruh alutsista ketiga matra dapat digunakan secara terintegrasi. Contohnya meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh masing-masing angkatan berbeda tetapi tetap terintegral ke dalam sistem komunikasi ketika operasi gabungan digelar. Pembenahan yang bersifat communability agar suku cadang atau logistik alutsista yang diadakan oleh suatu angkatan dapat memenuhi kebutuhan angkatan lainnya.
Nuning mencontohkan, suku cadang tank milik Angkatan Darat dapat digunakan oleh panser Korps Marinir. Amunisi meriam kaliber 40 mm Angkatan Laut dapat mendukung kebutuhan pesawat tempur Angkatan Udara. Menggunakan Operation Research, maka pembenahan Alutsista tsb dituntut mencapai level yang Minimax, yaitu yang minimal dari semua kondisi maksimal.
Lihat Juga :