Menjangkau Komunitas, Riset dan Inovasi ITS Lampaui Triple Helix
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:23 WIB
loading...
A
A
A
ITS juga membuat ventilator yang sekarang digunakan di rumah sakit Unair. “Persoalannya, ITS untuk skala industri enggak mungkin karena bukan pabrik. Artinya, harus ada industri yang mendukung produksi massal karena produknya sekarang masih 2,3, dan 4,” tuturnya.
(Baca: Menristek Minta PT Tingkatkan Kualitas Riset dan Publikasi)
Lulusan Kobe University, Jepang, itu menjelaskan biaya riset untuk penelitian yang didanai ITS berkisar Rp50-150 juta. Besaran dana itu tergantung jenis penelitian. Setiap tahun, ada 20-30 proposal penelitian di Fakultas Teknologi Kelautan. Dia mengklaim para peneliti sekarang sudah tidak seperti dulu. Dalam meneliti, mereka sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Terkait keinginan pemerintah untuk memprioritaskan teknologi tepat guna, Trika mengungkapkan FTK ITS memiliki produk yang bisa digunakan untuk nelayan, yakni kapal laminasi bambu. Kapal ini sempat diuji coba oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti pada tahun 2018.
“Kapal bambu ini sudah ada patennya. Dasar (pembuatannya) karena jumlah kayu semakin semakin sedikit sehingga menggunakan bambu sebagai laminasi. Barang dan prototipe-nya sudah jadi untuk nelayan,” pungkasnya.
(Baca: Menristek Minta PT Tingkatkan Kualitas Riset dan Publikasi)
Lulusan Kobe University, Jepang, itu menjelaskan biaya riset untuk penelitian yang didanai ITS berkisar Rp50-150 juta. Besaran dana itu tergantung jenis penelitian. Setiap tahun, ada 20-30 proposal penelitian di Fakultas Teknologi Kelautan. Dia mengklaim para peneliti sekarang sudah tidak seperti dulu. Dalam meneliti, mereka sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Terkait keinginan pemerintah untuk memprioritaskan teknologi tepat guna, Trika mengungkapkan FTK ITS memiliki produk yang bisa digunakan untuk nelayan, yakni kapal laminasi bambu. Kapal ini sempat diuji coba oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti pada tahun 2018.
“Kapal bambu ini sudah ada patennya. Dasar (pembuatannya) karena jumlah kayu semakin semakin sedikit sehingga menggunakan bambu sebagai laminasi. Barang dan prototipe-nya sudah jadi untuk nelayan,” pungkasnya.
(muh)
Lihat Juga :