Dilema Jenderal Polisi, Karier Sedang Cemerlang Malah Ditugaskan Jadi Ajudan Soeharto
Senin, 18 Desember 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kapolda Jateng Mayjen Pol Nurfaizi yang mengetahui hal itu, kemudian membuat surat keberatan kepada Kapolri. Ada dua pertimbangan yang membuat Nurfaizi keberat. Pertama, ia merasa pemikiran Anton Tabah masih dibutuhkan oleh Kepolisian. Kedua, ia khawatir Anton Tabah masuk dalam killing ground karena tulisan-tulisannya.
Baca juga: Hormat ke Iring-iringan Mobil Soeharto Sebulan Penuh, Pengamen Ini Berubah Nasib
"Sejak masih letnan, saya sudah melemparkan gagasan tentang pemisahan TNI dan Polri. Itu membuat saya ditugaskan tiga tahun dalam Operasi Seroja di Timor Timur," tutur Anton.
Alam pikiran Anton Tabah terus berkecamuk. Ia membayangkan mendampingi Pak Harto yang waktu itu dijauhi oleh banyak orang tentu bukan hal yang menyenangkan. Bisa-bisa hal itu malah membahayakan kariernya yang sedang cemerlang.
Dalam kebingungan itu, polisi kelahiran Godean, Yogyakarta, 6 Juni 1958 tersebut akhirnya pulang ke kampung halaman menemui ibunya. Anton Tabah meminta pendapat dari orang yang sangat dicintai dan dihormatinya itu.
"Jika itu memang perintah pimpinanmu, laksanakan. Mendampingi mantan penguasa yang sedang terluka dan teraniaya, lebih mulia daripada mendampingi penguasa yang sedang berjaya," ucap sang ibu kepada Anton.
Untuk memantapkan hati, Anton kemudian menelepon sahabatnya, seorang budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun. Dalam sambungan telepon itu, Cak Nun menyitir sebuah hadis, 'Akan dimuliakan Allah orang yang melakukan 3 hal; menemani penguasa yang jatuh, menemani orang terhormat yang dihinakan, menemani orang kaya yang jatuh miskin'.
Baca juga: Hormat ke Iring-iringan Mobil Soeharto Sebulan Penuh, Pengamen Ini Berubah Nasib
"Sejak masih letnan, saya sudah melemparkan gagasan tentang pemisahan TNI dan Polri. Itu membuat saya ditugaskan tiga tahun dalam Operasi Seroja di Timor Timur," tutur Anton.
Alam pikiran Anton Tabah terus berkecamuk. Ia membayangkan mendampingi Pak Harto yang waktu itu dijauhi oleh banyak orang tentu bukan hal yang menyenangkan. Bisa-bisa hal itu malah membahayakan kariernya yang sedang cemerlang.
Dalam kebingungan itu, polisi kelahiran Godean, Yogyakarta, 6 Juni 1958 tersebut akhirnya pulang ke kampung halaman menemui ibunya. Anton Tabah meminta pendapat dari orang yang sangat dicintai dan dihormatinya itu.
"Jika itu memang perintah pimpinanmu, laksanakan. Mendampingi mantan penguasa yang sedang terluka dan teraniaya, lebih mulia daripada mendampingi penguasa yang sedang berjaya," ucap sang ibu kepada Anton.
Untuk memantapkan hati, Anton kemudian menelepon sahabatnya, seorang budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun. Dalam sambungan telepon itu, Cak Nun menyitir sebuah hadis, 'Akan dimuliakan Allah orang yang melakukan 3 hal; menemani penguasa yang jatuh, menemani orang terhormat yang dihinakan, menemani orang kaya yang jatuh miskin'.
Lihat Juga :