Kepala BKKBN: Keluarga Harus Dijadikan Arus Utama Pembangunan Manusia
Kamis, 14 Desember 2023 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
“Jadi equal equity itu menjadi konsep yang selalu kita pegang teguh tentunya, hingga itu bagian dari strategi,” kata dia.
Kemudian juga melihat faktor-faktor lain, selain ada faktor sensitif dan spesifik, memang ada faktor menengah. Faktor yang tidak jauh dan juga tidak dekat sekali seperti Total Fertility Rate (TFR) dan Age Specific Fertility Rate (ASFR) pada usia 15-19 tahun yang juga sangat berpengaruh terhadap penurunan angka stunting.
Dompu, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa memiliki ASFR yang masih cukup tinggi sehingga misalnya strategi prioritas program di Dompu dengan pendewasaan usia pernikahan akan sangat signifikan untuk menurunkan stunting. Menurutnya, inilah bagian strategi.
“Nyata itu juga strategis, jadi dengan kita mengintervensi yang tepat permasalahan, jadi ketika kita di Dompu mau berbuat apa, kemudian di Lombok Barat mau berbuat apa, itu sesuai dengan faktor risiko yang muncul di sana. Jadi saya kira ini satu hal yang penting untuk kita sikapi bersama, memaksimalkan kecerdasan untuk menembak lebih tepat, sesuai dengan diagnosisnya di masing-masing wilayah,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti permasalahan sensitif setiap wilayah seperti sanitasi dan jambanisasi. “Kalau mengintervensi Lombok Timur sama Lombok Tengah itu bisa jadi semua NTB bisa turun sekali, sehingga saya kira ini perlu perhatian, ini sumber air yang tidak layak dan seterusnya ini hasil pendataan yang terkini, yang dari 2023, masih di Lombok Utara, persentase air minum yang kurang layak, meskipun persentasenya tidak besar hanya 6%, Lombok Barat hanya 4%, tetapi ini sebagai suatu guidance lah untuk kita memberikan perhatian yang lebih kepada Lombok Timur," paparnya.
"Begitu juga jamban, tentu ini di Lombok Barat masih cukup tinggi, 21,8%, di Bima masih 18%, ini mungkin juga menjadi guidance bahwa pembangunan jamban rumah tidak layak itu menjadi penting,” pungkasnya.
Tiga Indikator
Sementara itu dalam evaluasi ini, Kepala Dinas Kesehatan NT Lalu Hamzi Fikri menyoroti beberapa aspek penting. Di antaranya beberapa catatan untuk Kabupaten Kota yang masih tinggi angka stuntingnya dibanding dengan yang lain perlu fokus pada 3 indikator yaitu penggunaan alat ukur yang sesuai standar tidak lagi memakai dacin sebagai alat ukur melainkan antropometri, peningkatan sumber daya manusia atau kader posyandu, dan penguatan SOP di level posyandu. Ia juga menyoroti tindakan nyata seperti mengubah perilaku makan pada anak.
Kemudian juga melihat faktor-faktor lain, selain ada faktor sensitif dan spesifik, memang ada faktor menengah. Faktor yang tidak jauh dan juga tidak dekat sekali seperti Total Fertility Rate (TFR) dan Age Specific Fertility Rate (ASFR) pada usia 15-19 tahun yang juga sangat berpengaruh terhadap penurunan angka stunting.
Dompu, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa memiliki ASFR yang masih cukup tinggi sehingga misalnya strategi prioritas program di Dompu dengan pendewasaan usia pernikahan akan sangat signifikan untuk menurunkan stunting. Menurutnya, inilah bagian strategi.
“Nyata itu juga strategis, jadi dengan kita mengintervensi yang tepat permasalahan, jadi ketika kita di Dompu mau berbuat apa, kemudian di Lombok Barat mau berbuat apa, itu sesuai dengan faktor risiko yang muncul di sana. Jadi saya kira ini satu hal yang penting untuk kita sikapi bersama, memaksimalkan kecerdasan untuk menembak lebih tepat, sesuai dengan diagnosisnya di masing-masing wilayah,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia menyoroti permasalahan sensitif setiap wilayah seperti sanitasi dan jambanisasi. “Kalau mengintervensi Lombok Timur sama Lombok Tengah itu bisa jadi semua NTB bisa turun sekali, sehingga saya kira ini perlu perhatian, ini sumber air yang tidak layak dan seterusnya ini hasil pendataan yang terkini, yang dari 2023, masih di Lombok Utara, persentase air minum yang kurang layak, meskipun persentasenya tidak besar hanya 6%, Lombok Barat hanya 4%, tetapi ini sebagai suatu guidance lah untuk kita memberikan perhatian yang lebih kepada Lombok Timur," paparnya.
"Begitu juga jamban, tentu ini di Lombok Barat masih cukup tinggi, 21,8%, di Bima masih 18%, ini mungkin juga menjadi guidance bahwa pembangunan jamban rumah tidak layak itu menjadi penting,” pungkasnya.
Tiga Indikator
Sementara itu dalam evaluasi ini, Kepala Dinas Kesehatan NT Lalu Hamzi Fikri menyoroti beberapa aspek penting. Di antaranya beberapa catatan untuk Kabupaten Kota yang masih tinggi angka stuntingnya dibanding dengan yang lain perlu fokus pada 3 indikator yaitu penggunaan alat ukur yang sesuai standar tidak lagi memakai dacin sebagai alat ukur melainkan antropometri, peningkatan sumber daya manusia atau kader posyandu, dan penguatan SOP di level posyandu. Ia juga menyoroti tindakan nyata seperti mengubah perilaku makan pada anak.
Lihat Juga :