LSI Prediksi PDIP dan Golkar Bersaing di Pemilu 2019
Rabu, 24 Januari 2018 - 17:54 WIB
LSI Prediksi PDIP dan Golkar Bersaing di Pemilu 2019
A
A
A
JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA telah merilis hasil temuan terbarunya mengenai elektabilitas partai politik (Parpol) calon peserta pemilu 2019. Hasilnya, PDIP dan Golkar diprediksi bersaing di pemilu 2019.
Temuan LSI menyebutkan bahwa elektabilitas kedua partai ini meningkat jika dibandingkan perolehan suara pada pemilu 2014 lalu. Elektabilitas PDIP sebesar 22,2%, lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu 18,95%.
Sementara elektabilitas Golkar sebesar 15,5%, lebih besar perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu sebesar 14,75%. Elektabilitas partai lainnya rata-rata di bawah perolehan suaranya di pemilu 2014.
"Pascapergantian kepemimpinan, elektabilitas partai Golkar mulai membaik dan menunjukkan tren kenaikan," jelas peneliti LSI Rully Akbar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/1/2018).
(Baca juga: Perindo Pimpin Klasemen Partai Politik Baru)
Rully menjelaskan, temuan ini berbeda dari survei yang dilakukan LSI pada Agustus 2017 yang menempatkan Golkar di peringkat ketiga dengan skor 11,6 persen di bawah Gerindra.
Kemudian pada Desember 2017, elektabilitas Golkar naik menjadi 13,8%, dan Januari 2018 naik lagi menjadi 15,5%.
Adapun elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan. Pada survei LSI Denny JA, Agustus 2017, elektabilitas PDIP di angka 28,3%. Naik cukup besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014.
(Baca juga: Pengamat Prediksi Hanya 2 Poros Koalisi Muncul di Pilpres 2019)
Pada Desember 2017, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan yaitu di angka 22,7%. Dan saat ini, Januari 2018, elektabilitas PDIP sebesar 22,2%. Sejumlah temuan didapat mengapa suara PDIP mengalami penurunan.
Rully menjelaskan, pemilih yang sebelumnya 'lari' ke partai lain terutama ke PDIP kembali ke 'kandang' Golkar. Selain itu kata Rully, migrasi pemilih antara PDIP dan Golkar bisa terjadi karena pemilih kedua partai ini memiliki platform dan dukungan yang sama yakni pemilih nasionalis dan tradisionalis atau kategori wong cilik.
Hal lainnya adalah faktor "kemesraan" antara Golkar dan Jokowi yang ditandai dengan masuknya lagi kader Golkar yakni Idrus Marham kedalam kabinet kerja juga mempengaruhi.
"Golkar bisa imbangi asosiasi Jokowi dengan PDIP dan kinerja positif Jokowi berdampak pada partai yang terasosiasi dengan Jokowi," imbuhnya.
Survei dilakukan dengan responden sebanyak 1.200 orang yang dipilih berdasarkan multi stage random sampling. Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di 34 propinsi dari tanggal 7 sampai tanggal 14 januari 2018.
Margin of error survei ini adalah plus minus 2,9 persen. Survei dilengkapi dengan riset kualitatif seperti FGD, media analisis, dan depth interview narasumber.
Temuan LSI menyebutkan bahwa elektabilitas kedua partai ini meningkat jika dibandingkan perolehan suara pada pemilu 2014 lalu. Elektabilitas PDIP sebesar 22,2%, lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu 18,95%.
Sementara elektabilitas Golkar sebesar 15,5%, lebih besar perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu sebesar 14,75%. Elektabilitas partai lainnya rata-rata di bawah perolehan suaranya di pemilu 2014.
"Pascapergantian kepemimpinan, elektabilitas partai Golkar mulai membaik dan menunjukkan tren kenaikan," jelas peneliti LSI Rully Akbar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/1/2018).
(Baca juga: Perindo Pimpin Klasemen Partai Politik Baru)
Rully menjelaskan, temuan ini berbeda dari survei yang dilakukan LSI pada Agustus 2017 yang menempatkan Golkar di peringkat ketiga dengan skor 11,6 persen di bawah Gerindra.
Kemudian pada Desember 2017, elektabilitas Golkar naik menjadi 13,8%, dan Januari 2018 naik lagi menjadi 15,5%.
Adapun elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan. Pada survei LSI Denny JA, Agustus 2017, elektabilitas PDIP di angka 28,3%. Naik cukup besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014.
(Baca juga: Pengamat Prediksi Hanya 2 Poros Koalisi Muncul di Pilpres 2019)
Pada Desember 2017, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan yaitu di angka 22,7%. Dan saat ini, Januari 2018, elektabilitas PDIP sebesar 22,2%. Sejumlah temuan didapat mengapa suara PDIP mengalami penurunan.
Rully menjelaskan, pemilih yang sebelumnya 'lari' ke partai lain terutama ke PDIP kembali ke 'kandang' Golkar. Selain itu kata Rully, migrasi pemilih antara PDIP dan Golkar bisa terjadi karena pemilih kedua partai ini memiliki platform dan dukungan yang sama yakni pemilih nasionalis dan tradisionalis atau kategori wong cilik.
Hal lainnya adalah faktor "kemesraan" antara Golkar dan Jokowi yang ditandai dengan masuknya lagi kader Golkar yakni Idrus Marham kedalam kabinet kerja juga mempengaruhi.
"Golkar bisa imbangi asosiasi Jokowi dengan PDIP dan kinerja positif Jokowi berdampak pada partai yang terasosiasi dengan Jokowi," imbuhnya.
Survei dilakukan dengan responden sebanyak 1.200 orang yang dipilih berdasarkan multi stage random sampling. Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di 34 propinsi dari tanggal 7 sampai tanggal 14 januari 2018.
Margin of error survei ini adalah plus minus 2,9 persen. Survei dilengkapi dengan riset kualitatif seperti FGD, media analisis, dan depth interview narasumber.
(maf)