Daftar KSAD Kelahiran Yogyakarta, Nomor 1 Jenderal Bintang 5
Sabtu, 02 Desember 2023 - 05:55 WIB
loading...
A
A
A
Taruno Hartono dikenal taat beribadah. Kealimannya itu diajarkan kepada anak-anaknya. Selepas magrib, Widodo pun mengaji dan belajar ilmu agama. Seiring perjalanan waktu, Widodo kecil menempuh sekolah menengah pertama.
Ketika kelas III, salah satu gurunya bernama Iskandar selalu mengobarkan semangat melawan penjajah. Dia mendorong murid-muridnya untuk mendaftarkan diri masuk pendidikan Pembela Tanah Air (Peta). Widodo memutuskan untuk ikut serta.
“Sebenarnya Widodo tidak ingin ikut Peta, tapi karena dianjurkan dan semangatnya terbakar, akhirnya dia berangkat ke Bogor,” tulis Dinas Sejarah Angkatan Darat dalam buku biografi ‘Jenderal TNI R Widodo, Potret Dedikasi Seorang Prajurit kepada Bangsa. Dari sinilah karier militer Widodo bermula.
![Daftar KSAD Kelahiran Yogyakarta, Nomor 1 Jenderal Bintang 5]()
Dia pernah menjabat KSAD ke-19 pada periode 1997-1998. Wiranto lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Dikutip dari laman resmi Perpusnas, Wiranto pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1987-1991.
Setelah tidak lagi menjabat ajudan presiden, karier militernya meningkat ketika menjabat sebagai Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, dan KSAD. Selepas KSAD, ia diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi Pangab (sekarang menjadi Panglima TNI) pada 1998.
Pada masa itu terjadi pergantian kepemimpinan nasional dan ia tetap dipertahankan sebagai Pangab di era Presiden B.J. Habibie. Usai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4 RI, Wiranto dipercaya sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, meskipun kemudian dinonaktifkan dan mengundurkan diri.
Wiranto pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada 2016-2019. Saat itu, Wiranto menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan yang direshuffle menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.
Dia pernah memenangkan Konvensi Partai Golongan Karya (Golkar). Setelah memenangi Konvensi Golkar, dia mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004 bersama pasangan kandidat wakil presiden Salahuddin Wahid.
Pada 21 Desember 2006, ia mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan menjadi ketua umum partai ketika itu hingga 2016. Dia saat ini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
![Daftar KSAD Kelahiran Yogyakarta, Nomor 1 Jenderal Bintang 5]()
Foto/Okezone
Pria kelahiran 12 Juni 1946, Piyungan, Bantul, Yogyakarta ini pernah menjabat KSAD ke-20 pada 1998-1999. Subagyo HS adalah satu-satunya KSAD yang pernah menjabat dengan tiga Presiden Indonesia yang berbeda, Soeharto, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara, kariernya pernah melejit bahkan mendapat kenaikan pangkat istimewa 1 tingkat pernah dienyamnya saat selesai Operasi Woyla di Thailand.
Mantan komandan Paspampres di era Soeharto ini kemudian mendapat bintang di pundaknya saat menjabat Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selepas itu kariernya mulus menjadi Pangdam Diponegoro, kemudian Wakasad, dan KSAD.
Dia pernah menjadi anggota Wantimpres periode 2014-2019. Subagyo HS pernah ditertawakan ketika mengungkapkan keinginannya menjadi jenderal. Namun, ledekan itu membuat Subagyo HS menjadi Danjen Kopassus hingga KSAD.
Kala itu, Subagyo HS atau Subagyo Hadi Siswoyo berkumpul dengan teman-teman lamanya seraya makan bakmi goreng di Kauman, Yogyakarta. Ketika itu, pangkat Subagyo HS masih letnan kolonel sebagai perwira menengah Kopassus.
Saat berkumpul dengan teman-teman lamanya itu, Subagyo menyampaikan sebuah impiannya yang wajar sebenarnya bagi semua prajurit terutama dari lulusan akademi militer, yakni ingin menjadi jenderal suatu saat nanti.
“Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa,” ujar Carmelia Sukmawati dalam buku ’Subagyo HS KASAD dari Piyungan’, dikutip Selasa (7/12/2021).
Pasalnya, teman-teman lamanya Subagyo HS tahu betul latar belakang serdadu berkumis lebat itu, dari mana berasal dan siapa orangtuanya. Sehingga, cita-cita seorang anak desa itu dianggap terlalu muluk oleh teman-teman lamanya.
Rosil, salah seorang teman Subagyo mengungkapkan bahwa tidak ada yang percaya dengan omongan Subagyo ketika itu. Rosil (kelak menjadi pengusaha di Yogyakarta) yang merupakan aktivis Muhammadiyah ini sahabat karib Subagyo sekaligus tempat bertanya mengenai hal-hal rohaniah.
"Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya,” ungkapnya.
Ketika kelas III, salah satu gurunya bernama Iskandar selalu mengobarkan semangat melawan penjajah. Dia mendorong murid-muridnya untuk mendaftarkan diri masuk pendidikan Pembela Tanah Air (Peta). Widodo memutuskan untuk ikut serta.
“Sebenarnya Widodo tidak ingin ikut Peta, tapi karena dianjurkan dan semangatnya terbakar, akhirnya dia berangkat ke Bogor,” tulis Dinas Sejarah Angkatan Darat dalam buku biografi ‘Jenderal TNI R Widodo, Potret Dedikasi Seorang Prajurit kepada Bangsa. Dari sinilah karier militer Widodo bermula.
3. Wiranto

Dia pernah menjabat KSAD ke-19 pada periode 1997-1998. Wiranto lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Dikutip dari laman resmi Perpusnas, Wiranto pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1987-1991.
Setelah tidak lagi menjabat ajudan presiden, karier militernya meningkat ketika menjabat sebagai Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, dan KSAD. Selepas KSAD, ia diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi Pangab (sekarang menjadi Panglima TNI) pada 1998.
Pada masa itu terjadi pergantian kepemimpinan nasional dan ia tetap dipertahankan sebagai Pangab di era Presiden B.J. Habibie. Usai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4 RI, Wiranto dipercaya sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, meskipun kemudian dinonaktifkan dan mengundurkan diri.
Wiranto pernah menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan era Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada 2016-2019. Saat itu, Wiranto menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan yang direshuffle menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.
Dia pernah memenangkan Konvensi Partai Golongan Karya (Golkar). Setelah memenangi Konvensi Golkar, dia mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004 bersama pasangan kandidat wakil presiden Salahuddin Wahid.
Pada 21 Desember 2006, ia mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan menjadi ketua umum partai ketika itu hingga 2016. Dia saat ini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
4. Subagyo Hadi Siswoyo (HS)

Foto/Okezone
Pria kelahiran 12 Juni 1946, Piyungan, Bantul, Yogyakarta ini pernah menjabat KSAD ke-20 pada 1998-1999. Subagyo HS adalah satu-satunya KSAD yang pernah menjabat dengan tiga Presiden Indonesia yang berbeda, Soeharto, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara, kariernya pernah melejit bahkan mendapat kenaikan pangkat istimewa 1 tingkat pernah dienyamnya saat selesai Operasi Woyla di Thailand.
Mantan komandan Paspampres di era Soeharto ini kemudian mendapat bintang di pundaknya saat menjabat Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selepas itu kariernya mulus menjadi Pangdam Diponegoro, kemudian Wakasad, dan KSAD.
Dia pernah menjadi anggota Wantimpres periode 2014-2019. Subagyo HS pernah ditertawakan ketika mengungkapkan keinginannya menjadi jenderal. Namun, ledekan itu membuat Subagyo HS menjadi Danjen Kopassus hingga KSAD.
Kala itu, Subagyo HS atau Subagyo Hadi Siswoyo berkumpul dengan teman-teman lamanya seraya makan bakmi goreng di Kauman, Yogyakarta. Ketika itu, pangkat Subagyo HS masih letnan kolonel sebagai perwira menengah Kopassus.
Saat berkumpul dengan teman-teman lamanya itu, Subagyo menyampaikan sebuah impiannya yang wajar sebenarnya bagi semua prajurit terutama dari lulusan akademi militer, yakni ingin menjadi jenderal suatu saat nanti.
“Mendengar itu (cita-cita Subagyo), rekan-rekannya spontan menanggapi dengan nada sinis dibarengi gelak tawa,” ujar Carmelia Sukmawati dalam buku ’Subagyo HS KASAD dari Piyungan’, dikutip Selasa (7/12/2021).
Pasalnya, teman-teman lamanya Subagyo HS tahu betul latar belakang serdadu berkumis lebat itu, dari mana berasal dan siapa orangtuanya. Sehingga, cita-cita seorang anak desa itu dianggap terlalu muluk oleh teman-teman lamanya.
Rosil, salah seorang teman Subagyo mengungkapkan bahwa tidak ada yang percaya dengan omongan Subagyo ketika itu. Rosil (kelak menjadi pengusaha di Yogyakarta) yang merupakan aktivis Muhammadiyah ini sahabat karib Subagyo sekaligus tempat bertanya mengenai hal-hal rohaniah.
"Waktu itu Subagyo sudah sangat yakin dirinya akan bisa menjadi jenderal. Tapi teman-temannya tidak ada yang percaya. Bagaimana mungkin dia bisa mewujudkan impiannya itu, kami tahu latar belakangnya,” ungkapnya.
Lihat Juga :