Peringati Hari Solidaritas Internasional Palestina, Tokoh Perempuan Desak Hentikan Agresi Israel di Gaza
Minggu, 26 November 2023 - 01:32 WIB
loading...
A
A
A
"Anak-anak kita saat ini dengan izin Allah kelak akan menjadi generasi pembebas yang berkontribusi dalam terwujudnya kemerdekaan Palestina yang waktunya hanya berjarak dua ujung busur panah bahkan lebih dekat dari itu (sudah tidak lama lagi)," lanjut Rabab.
Berbicara atas nama Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsa (KPIPA), Nurjanah Hulwani menyatakan bahwa kejahatan penjajah zionis harus dilawan dengan segala kekuatan yang dimiliki. Sebab jumlah lebih dari 14 ribu yang meninggal di Gaza, 70% adalah perempuan dan anak dalam waktu 1,5 bulan. Hal ini adalah bentuk kejahatan kemanusian terbesar yang dilakukan penjajah zionis Israel.
"Kita perempuan Indonesia harus terus menyuarakan dan membuktikan pembelaan kita kepada Palestina dengan menghimpun kekuatan yang kita miliki yaitu kekuatan politik, kekuatan media dan kekuatan dana," ujarnya.
Sementara Bunda Romi menyatakan bahwa program-program pemulihan Gaza pascaagresi sangat penting, khususnya bagi anak dan perempuan yang menjadi sasaran Israel. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, karena mereka adalah penerus bangsa.
"Kita bisa membantu masyarakat di Palestina tidak hanya dari sisi kesehatan fisik ilmu kedokteran. Secara psikologis kita bisa membantu mereka, menghilangkan trauma, membantu perempuan- perempuan yang merasa sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya agar mereka bisa keluar dari perasaan cemas dan rasa tidak nyaman ini, melalui konseling online atau apapun agar dapat membantu membangkitkan kehidupan mereka," katanya.
Hal yang sama diungkapkan Roziana Ghani dan Dewi Inong Irana. Mereka mengatakan bahwa agresi militer Israel sangat merusak kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan bayi yang terluka parah. Luka parah tersebut bisa menyebabkan infeksi berat.
Apalagi dengan tidak adanya obat-obatan dan tenaga medis serta tempat pengobatan yang layak. Akibatnya bisa nyeri yang sangat parah, penderitaan yang sangat mengerikan untuk anak dan wanita, cacat, dan kematian.
"Oleh karena itu, perlu bantuan medis untuk rehabilitasi pascaagresi yang akan menjadi pekerjaan jangka panjang," kata dr Dewi.
Mewakili tokoh agama di kalangan perempuan Syifa menegaskan urgensi para tokoh agama untuk tidak berhenti bersuara tentang Palestina dalam majelis ilmu, khususnya tentang Gaza. Hal senada disampaikan Ustadzah Tere. Kata dia, Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan isu SARA. la menekankan bahwa cukup menjadi manusia untuk membela Palestina.
Sedangkan Evi Risna Yanti berpendapat, apa yang terjadi di Gaza pada saat ini merupakan pelanggaran terhadap Hukum Humaniter Internasional (HHI) oleh Israel secara terang-terangan. Hal ini terjadi sekarang karena Israel seolah memiliki impunitas, bahkan didukung oleh negara-negara pemegang hak veto PBB.
Israel juga melakukan pelanggaran terhadap pers, yang seharusnya mendapatkan perlindungan dalam perang. Bahkan dengan sengaja menargetkan para jurnalis agar tidak dapat memberitakan apa yang sebenarnya terjadi di Gaza.
Berbicara atas nama Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsa (KPIPA), Nurjanah Hulwani menyatakan bahwa kejahatan penjajah zionis harus dilawan dengan segala kekuatan yang dimiliki. Sebab jumlah lebih dari 14 ribu yang meninggal di Gaza, 70% adalah perempuan dan anak dalam waktu 1,5 bulan. Hal ini adalah bentuk kejahatan kemanusian terbesar yang dilakukan penjajah zionis Israel.
"Kita perempuan Indonesia harus terus menyuarakan dan membuktikan pembelaan kita kepada Palestina dengan menghimpun kekuatan yang kita miliki yaitu kekuatan politik, kekuatan media dan kekuatan dana," ujarnya.
Sementara Bunda Romi menyatakan bahwa program-program pemulihan Gaza pascaagresi sangat penting, khususnya bagi anak dan perempuan yang menjadi sasaran Israel. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, karena mereka adalah penerus bangsa.
"Kita bisa membantu masyarakat di Palestina tidak hanya dari sisi kesehatan fisik ilmu kedokteran. Secara psikologis kita bisa membantu mereka, menghilangkan trauma, membantu perempuan- perempuan yang merasa sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya agar mereka bisa keluar dari perasaan cemas dan rasa tidak nyaman ini, melalui konseling online atau apapun agar dapat membantu membangkitkan kehidupan mereka," katanya.
Hal yang sama diungkapkan Roziana Ghani dan Dewi Inong Irana. Mereka mengatakan bahwa agresi militer Israel sangat merusak kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan bayi yang terluka parah. Luka parah tersebut bisa menyebabkan infeksi berat.
Apalagi dengan tidak adanya obat-obatan dan tenaga medis serta tempat pengobatan yang layak. Akibatnya bisa nyeri yang sangat parah, penderitaan yang sangat mengerikan untuk anak dan wanita, cacat, dan kematian.
"Oleh karena itu, perlu bantuan medis untuk rehabilitasi pascaagresi yang akan menjadi pekerjaan jangka panjang," kata dr Dewi.
Mewakili tokoh agama di kalangan perempuan Syifa menegaskan urgensi para tokoh agama untuk tidak berhenti bersuara tentang Palestina dalam majelis ilmu, khususnya tentang Gaza. Hal senada disampaikan Ustadzah Tere. Kata dia, Palestina adalah isu kemanusiaan, bukan isu SARA. la menekankan bahwa cukup menjadi manusia untuk membela Palestina.
Sedangkan Evi Risna Yanti berpendapat, apa yang terjadi di Gaza pada saat ini merupakan pelanggaran terhadap Hukum Humaniter Internasional (HHI) oleh Israel secara terang-terangan. Hal ini terjadi sekarang karena Israel seolah memiliki impunitas, bahkan didukung oleh negara-negara pemegang hak veto PBB.
Israel juga melakukan pelanggaran terhadap pers, yang seharusnya mendapatkan perlindungan dalam perang. Bahkan dengan sengaja menargetkan para jurnalis agar tidak dapat memberitakan apa yang sebenarnya terjadi di Gaza.
Lihat Juga :