Pelajaran Berarti dari Kertajati
Jum'at, 17 November 2023 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
Kerugian besar akibat molornya operasional penuh Bandara Kertajati ini tentu disayangkan sekaligus memprihatinkan. Kasus Kertajati ini pun mengingatkan publik akan proyek-proyek besar pemerintah yang ternyata nasibnya juga nelangsa. Bandara JB Sudirman di Purbalingga, Jawa Tengah misalnya. Sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi 3 Juni 2021, gaung bandara ini tak terdengar lagi.
baca juga: AirAsia Dorong Konektivitas Udara Melalui Bandara Kertajati
Maskapai Citilink yang sempat merintis rute ini hanya bertahan beberapa bulan karena sepi peminat. Lebih miris dialami Wings Air yang mencoba merintis rute Purbalingga-Pondok Cabe (Tangerang Selatan) pada tahun berikutnya. Wings Air membuka rute 5 Agustus, namun pada 19 Agustus harus angkat kaki.
Dua bandara kecil lain di Pulau Jawa hasil revitalisasi juga tak jauh beda, yakni Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya dan Ngloram, Cepu (Blora). Sejak diresmikan Jokowi Desember 2021, Bandara Ngloram yang beralih menjadi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini sepi. Nasib serupa di Wiriadinata yang sempat melayani rute Tasikmalaya-Halim Perdanakusuma.
Di luar bandara, saat ini juga ada sederet proyek infrastruktur baru yang jauh dari harapan. Di antaranya Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, Penyeberangan Pelabuhan Jangkar (Situbondo)-Lembar (Lombok Barat).
Megaproyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang jumlahnya mencapai 20 titik dan nilai investasinya sekitar Rp140 triliun juga tak luput dari potensi kegagalan. Ada sejumlah KEK yang disinyalir lemah menyerap investor dan tenaga kerja. Bahkan pekan lalu, Kementerian Koordinator (Kemenko) sebagaimana dikatakan Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso sudah mewanti-wanti akan mencabut status KEK jika progresnya tak positif.
20 KEK yang dibangun di era Jokowi adalah KEK Arun Lhokseumawe, KEK Sei Mangkei, KEK Batam Aero Technic, KEK Galang Batang, KEK Kendal, KEK Gresik, KEK Sorong, KEK Bitung, KEK Palu, KEK MBTK, KEK Nongsa, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Lesung, KEK Lido, KEK Morotai, KEK Likupang, KEK Mandalika, KEK Kura-kura Bali, KEK Sanur, dan KEK Singhasari.
baca juga: Tol Cisumdawu Disebut Kunci Ramainya Bandara Kertajati Majalengka
Disebut-sebut, KEK yang performanya kurang baik adalah berada di Kawasan Indonesia Timur. Sederet fakta di atas makin menguatkan bahwa banyak proyek besar di negara ini yang terbilang gagal. Bisa dikatakan gagal lantaran apa yang dicitakan tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.
Tentu banyak faktor penyebab jika mengurai lebih dalam kenapa proyek-proyek yang menelan dana triliunan rupiah itu bisa tak jalan. Namun jika menilik fakta proyek yang dijelaskan di atas, tampaknya ada perencanaan yang tidak matang. Lantas kenapa harus dipaksakan jalan proyek yang tak prospektif itu? Inilah yang harus dibedah dan dievaluasi agar Indonesia tak terjerumus di lubang yang sama lagi.
Kembali pada Bandara Kertajati, sejatinya ini adalah proyek lama yang direncanakan sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri. Studi kelayakan pada 2003 atau era Megawati, penetapan lokasi pada 2005 atau era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tahap eksekusi era Jokowi dimulai pada 2015 dan rampung pada 2018.
Meski proyek bandara ini adalah hasil perenungan dan pembahasan yang panjang, namun masih terlihat gagap menyesuaikan kondisi di lapangan. Sejak awal, agar beroperasi optimal, tentu bandara ini diproyeksikan terkoneksi dengan jalur transportasi yang memadai, utamanya tol.
baca juga: Bandara Kertajati Dijual, Saudi dan India Jadi Pemegang Saham
baca juga: AirAsia Dorong Konektivitas Udara Melalui Bandara Kertajati
Maskapai Citilink yang sempat merintis rute ini hanya bertahan beberapa bulan karena sepi peminat. Lebih miris dialami Wings Air yang mencoba merintis rute Purbalingga-Pondok Cabe (Tangerang Selatan) pada tahun berikutnya. Wings Air membuka rute 5 Agustus, namun pada 19 Agustus harus angkat kaki.
Dua bandara kecil lain di Pulau Jawa hasil revitalisasi juga tak jauh beda, yakni Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya dan Ngloram, Cepu (Blora). Sejak diresmikan Jokowi Desember 2021, Bandara Ngloram yang beralih menjadi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini sepi. Nasib serupa di Wiriadinata yang sempat melayani rute Tasikmalaya-Halim Perdanakusuma.
Di luar bandara, saat ini juga ada sederet proyek infrastruktur baru yang jauh dari harapan. Di antaranya Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, Penyeberangan Pelabuhan Jangkar (Situbondo)-Lembar (Lombok Barat).
Megaproyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang jumlahnya mencapai 20 titik dan nilai investasinya sekitar Rp140 triliun juga tak luput dari potensi kegagalan. Ada sejumlah KEK yang disinyalir lemah menyerap investor dan tenaga kerja. Bahkan pekan lalu, Kementerian Koordinator (Kemenko) sebagaimana dikatakan Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso sudah mewanti-wanti akan mencabut status KEK jika progresnya tak positif.
20 KEK yang dibangun di era Jokowi adalah KEK Arun Lhokseumawe, KEK Sei Mangkei, KEK Batam Aero Technic, KEK Galang Batang, KEK Kendal, KEK Gresik, KEK Sorong, KEK Bitung, KEK Palu, KEK MBTK, KEK Nongsa, KEK Tanjung Kelayang, KEK Tanjung Lesung, KEK Lido, KEK Morotai, KEK Likupang, KEK Mandalika, KEK Kura-kura Bali, KEK Sanur, dan KEK Singhasari.
baca juga: Tol Cisumdawu Disebut Kunci Ramainya Bandara Kertajati Majalengka
Disebut-sebut, KEK yang performanya kurang baik adalah berada di Kawasan Indonesia Timur. Sederet fakta di atas makin menguatkan bahwa banyak proyek besar di negara ini yang terbilang gagal. Bisa dikatakan gagal lantaran apa yang dicitakan tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.
Tentu banyak faktor penyebab jika mengurai lebih dalam kenapa proyek-proyek yang menelan dana triliunan rupiah itu bisa tak jalan. Namun jika menilik fakta proyek yang dijelaskan di atas, tampaknya ada perencanaan yang tidak matang. Lantas kenapa harus dipaksakan jalan proyek yang tak prospektif itu? Inilah yang harus dibedah dan dievaluasi agar Indonesia tak terjerumus di lubang yang sama lagi.
Kembali pada Bandara Kertajati, sejatinya ini adalah proyek lama yang direncanakan sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri. Studi kelayakan pada 2003 atau era Megawati, penetapan lokasi pada 2005 atau era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tahap eksekusi era Jokowi dimulai pada 2015 dan rampung pada 2018.
Meski proyek bandara ini adalah hasil perenungan dan pembahasan yang panjang, namun masih terlihat gagap menyesuaikan kondisi di lapangan. Sejak awal, agar beroperasi optimal, tentu bandara ini diproyeksikan terkoneksi dengan jalur transportasi yang memadai, utamanya tol.
baca juga: Bandara Kertajati Dijual, Saudi dan India Jadi Pemegang Saham
Lihat Juga :