alexa snippet

Laporan Langsung SINDOnews dari Arab Saudi

Mendaki Jabal Nur, Menyusuri Jejak Rasulullah

Mendaki Jabal Nur, Menyusuri Jejak Rasulullah
Jamaah haji saat berada di Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Foto/Muhammad Iqbal Marsyaf
A+ A-
MEKKAH - Gua Hira selalu masuk dalam daftar ziarah jamaah haji Indonesia. Namun untuk menapakan kaki di tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT ini memiliki kemampuan fisik yang prima.

Jalan yang terjal membutuhkan tenaga ekstra untuk menaklukannya. Belum lagi waktu tempuh sekali perjalanan selama 1,5 jam.

Saat tim Media Center Haji (MCH) berziarah ke Gua Hira, langit di atas Bukit Nur (Jabal Al-Noer) tampil gagah. Bulan benderang dan bertabur bintang gemerlap bak permata.
Sementara langit tertinggi berwana hitam pekat dengan degradasi ungu hingga menyentuh lantai bumi.

Waktu menunjukkan pukul 03.42 waktu Arab Saudi (WAS) saat baru menjejakan kaki di Jabal Al-Noer pada Sabtu 16 September 2017. Sekitar pukul 04.51 WAS, tepatnya waktu subuh akan menjelang akhirnya tujuan akhir telah dicapai. Masih cukup waktu untuk mendaki ke puncak bukit batu tersebut dan menunaikan salat subuh.

Memulai perajalanan religius ini, kemiringan jalan sudah mencapai 45 derajat. Awalnya sudah membuat kaki terasa berat. Sejumlah petugas haji ikut mendaki bersama, tapi di antaranya ada yang merasakan pusing berkunang-kunang lalu menepi sejenak karena jalan sangat terjal.

Di sisi kanan menuju jalan setapak Gua Hira banyak toko yang menjual tongkat dan senter kecil untuk alat bantu pendakian. Dijajakan masing-masing seharga 5 riyal Arab Saudi atau Rp17.500 (Rp3.500 per riyal). Mereka juga menjual berbagai macam suvenir tas, cincin, kalung serta aneka minuman.

Ketika Tim MCH akan mendaki bukit berbatu itu, sudah banyak jamaah Indonesia yang lebih dulu turun dari puncak bukit. Salah satu jamaah, Suharjupri dari Bandung Jawa Barat mengaku mendapat hikmah perjalanan panjang tesebut.

Menurut dia, iman itu taruhannya adalah nyawa. Iman Baginda Rasulullah sangat luar biasa sehingga tidak terasa lelah untuk mencapai gua dengan ketinggian mencapai 281 meter dengan panjang pendakian sekitar 645 meter ini.

"Sekarang ya harusnya tidak ada rasa lelah ya. Karena sudah pakai sandal dan sudah dibuat tangga ke atas," ujarnya.

Dengan berjalan ke atas bukit, kata dia, dia bisa memaknai ketaatan Nabi Muhammas kepada Allah SWT. "Maka itu saya heran ketika ada panggilan 'hayya 'alash sholah' atau mari kita salat, kok masih ada yang tidak mau salat?" ujarnya.

Setelah berbincang sejenak, perjalanan pun dilanjutkan. Selama perjalanan, banyak jamaah dari negara lain yang saling menolong jika ada yang tergelincir.

Perjalanan menuju puncak sama sekali tidak dilengkapi fasilitas lampu penerang jalan. Banyak jamaah menggunakan lampu telepon genggam untuk memperjelas setiap anak tangga yang ada.

Jangan heran, di setiap tikungan kerap ditemukan peminta-minta yang berbaring di anak tangga. "Ya Allah.. Ya Allah, ya Hajj ya Hajj." Mereka sudah menyiapkan kardus bagi para peziarah yang ingin bersedekah. Tampak berbagai mata uang di dalam kardus itu, antara lain rupiah dari Indonesia, riyal Arab Saudi, rupee dari India, bahkan yuan China.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top