alexa snippet

Laporan Langsung SINDOnews dari Arab Saudi

Kalau Sudah Panggilan, Tukang Urut Pun Bisa Naik Haji

Kalau Sudah Panggilan, Tukang Urut Pun Bisa Naik Haji
Tuti akhirnya bisa mewujudkan mimpi berhaji dengan cara menyisakan penghasilannya sebagai tukang urut selama enam tahun. Foto/SINDOnews/Muhammad Iqbal Marsyaf
A+ A-
MADINAH - Jangan remehkan pekerjaan seseorang. Sebab penghasilan besar belum jaminan mendapat panggilan Allah SWT untuk berhaji.

Tuti, misalnya. Pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang urut tak meredam impiannya sejak puluhan tahun silam untuk berangkat haji.

Setiap tahun, terlebih saat melihat orang pulang dari berhaji, keinginannya untuk menjadi dhuyufurrahman (tamu berhaji Allah) terus menggemuruh. Apa yang diimpikan perempuan berusia 55 tahun itu akhirnya terwujud tahun ini.

Tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 27 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 27), Tuti mendapat nomor kursi haji.

Uang hasil kerja keras menjadi tukang urut yang ditabungnya sedikit demi sedikit dalam enam tahun menjadi bekal dirinya berangkat menunaikan rukun Islam kelima ini.

Ditemui tim Media Center Haji (MCH), Rabu (13/9/2017), Tuti berbagi kisah perjuangannya bisa mendaftarkan diri berhaji enam tahun lalu.

Keinginannya berhaji sudah terpendam sejak dahulu dan semakin kuat dengan dukungan anaknya.

Dari hasil pernikahan dengan suaminya yang sudah wafat, Tuti dikaruniai tiga anak. Saat suaminya wafat, anak tertuanya kelas VI SD, sedangkan si bungsu masih duduk di taman kanak-kanak.

Sejak itu, Tuti membesarkan anaknya sendiri dan membiayai mereka dengan bekal keterampilan mengurut dan berjualan.

Keahlian Tuti mengurut diturunkan dari orang tuanya. Saat berusia sembilan tahun, Tuti terjatuh hingga keseleo, lalu diurut bapaknya.

Saat itu bapaknya mengatakan, akan menurunkan keahlian mengurutnya kepada Tuti. Tuti pun memanfaatkan keahliannya dengan membuka praktik tukang urut bayi, anak kecil sampai dewasa. Selain itu, dia juga berjualan kacang yang dibungkus dan dijual di sekolah anaknya.

“Anak-anak saya ajarkan hidup prihatin dan bersyukur,” ucap Tuti mengenang perjuangannya.

Cara hidup prihatin sengaja diajarkan kepada buah hatinya sejak kecil. Maklum, hasil dari mengurut tidak menentu. Apalagi dia tidak pernah memasang tarif, pengguna jasanya hanya diminta memberikan seikhlasnya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top