Layanan Digital Mutlak Diperlukan
Rabu, 05 Agustus 2020 - 06:03 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Presiden memberikan beberapa arahan antara lain menginstruksikan perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital, menyiapkan roadmap transportasi digital di sektor-sektor strategis, percepatan integrasi Pusat Data Nasional, menyediakan kebutuhan SDM, dan mempercepat keluarnya regulasi terkait skema pembiayaan transformasi digital.
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan ada tiga faktor untuk membuat Indonesia lebih siap dalam hal transformasi digital. Pertama, meningkatkan pengetahuan (sains) teknologi dan riset yang memadai.
“Pengetahuan di bidang sains dan teknologi masih rendah, ditunjukkan dalam PISA (Programme for International Student Assessment) yang berada di peringkat bawah. Dasar penguasaan teknologi termasuk di bidang IT, juga masih relatif rendah,” kata Tauhid kepada SINDO Media kemarin.
Selain itu, dari segi anggaran, khususnya untuk mendukung riset dan pengembangan, juga terbilang minim yakni sekitar 0,01%. Tauhid membandingkan anggaran yang dikeluarkan Malaysia dan negara lain yang rata-rata mencapai 2% dari produk domestik bruto. (Baca juga: Wow, 103 Bank Perkreditan Rakyat Sudah Bangkrut)
Berikutnya, kata dia, yang juga menjadi sorotan adalah tingkat kepemilihan hak paten yang relatif rendah, sehingga tidak heran jika saat ini penguasaan teknologinya masih didominasi teknologi impor dan sumber daya yang berasal dari luar negeri.
“Kecepatan internet atau bandwith di Indonesia juga masih lambat dibandingkan negara lain. Peringkat kita di urutan 61 dari 63 negara. Speed kita masih lambat, negara lain mungkin sudah beberapa Mbps. Kita masih berapa, lambat banget, mahal lagi,” katanya.
Utamakan Karya Anak Negeri
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan ada tiga faktor untuk membuat Indonesia lebih siap dalam hal transformasi digital. Pertama, meningkatkan pengetahuan (sains) teknologi dan riset yang memadai.
“Pengetahuan di bidang sains dan teknologi masih rendah, ditunjukkan dalam PISA (Programme for International Student Assessment) yang berada di peringkat bawah. Dasar penguasaan teknologi termasuk di bidang IT, juga masih relatif rendah,” kata Tauhid kepada SINDO Media kemarin.
Selain itu, dari segi anggaran, khususnya untuk mendukung riset dan pengembangan, juga terbilang minim yakni sekitar 0,01%. Tauhid membandingkan anggaran yang dikeluarkan Malaysia dan negara lain yang rata-rata mencapai 2% dari produk domestik bruto. (Baca juga: Wow, 103 Bank Perkreditan Rakyat Sudah Bangkrut)
Berikutnya, kata dia, yang juga menjadi sorotan adalah tingkat kepemilihan hak paten yang relatif rendah, sehingga tidak heran jika saat ini penguasaan teknologinya masih didominasi teknologi impor dan sumber daya yang berasal dari luar negeri.
“Kecepatan internet atau bandwith di Indonesia juga masih lambat dibandingkan negara lain. Peringkat kita di urutan 61 dari 63 negara. Speed kita masih lambat, negara lain mungkin sudah beberapa Mbps. Kita masih berapa, lambat banget, mahal lagi,” katanya.
Utamakan Karya Anak Negeri
Lihat Juga :