Dilarang Sembarangan Membeli Kapal Selam
Rabu, 11 Oktober 2023 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Saking unggulnya, kapal selam juga dianggap sebagai apex predator atau predator puncak ekosistem laut, bahkan disebut mampu melumpuhkan keunggulan kapal induk. Dengan demikian, kapal selam sekaligus menghadirkan deterrence effect bagi armada laut musuh yang akan mengekspansi kedaulatan di wilayah perairan laut.
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali pada acara sarasehan nasional pembangunan kekuatan kapal selam di Ujung Surabaya (12/6) mengungkapkan bahwa kapal selam adalah alutsista strategis armada angkatan laut suatu negara. Keunggulannya terletak pada aspek kerahasiaan dan daya hancur tinggi. Selain itu, dia menyebut kapal selam sebagai pengganda kekuatan tempur signifikan, sehingga memilikistrategic deterrencesangat tinggi.
Keterbatasan kapal selam yang dimiliki, apalagi kemampuannya masih dipertanyakan, menjadi persoalan besar bagi pertahanan Indonesia. Apalagi wilayah negeri ini 70% di antaranya berupa lautan - di dalamya terdapat terdapat tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), dan berada di persimpangan lalu lintas laut internasional teramai di dunia- tentu membutuhkan alutsista yang mencukupi, baik secara kwantitas maupun kwalitas, termasuk kapal selam.
Belum lagi memanasnya dinamika kawasan Indo-Pasifik yang mendorong konsolidasi kekuatan China versus Amerika Serikat bersama sekutunya- terutama yang tergabung dalam AUKUS. Karena itulah, pembangunan kekuatan kapal selam adalah isu krusial yang harus dicarikan jalan keluar.
baca juga: Kemhan Boyong Kapal Selam Penyelamat dari Inggris
Namun, perlu digarisbawahi pembelian kapal selam harus memerhatikan persaingan di kawasan agar pembelian tidak sia-sia karena tidak mampu mengimbangi kapabilitas kapal selam milik negara tetangga, juga kapal selam negara-negara adidaya yang berlalu-lalang di perairan Indonesia dan kawasan sekitar.
Beberapa kapal selam yang memasuki layanan negara tetangga antara lain Singapura yang memiliki empat kapal selam tipe kelas 218SG buatan tk MS Jerman dan Australia yang berencana mengakuisisi lima kapal selam kelas Virginia dari Amerika Serikat, yang merupakan kapal selam bertenaga nuklir termutakhir setelah bergabung dengan AUKUS.
Belum lagi Indonesia berpotensi berhadapan dengan China seperti disebut Global Fire Power memiliki 74 kapal selam pada 2020 lalu, termasuk di antara kapal selam tipe 094 bertenaga nuklir yang dilengkapi rudal balistik.
Pilihan Optimum
Indonesia memiliki sejumlah pilihan untuk menentukan kapal selam yang bakal diakuisisi. Di antara pabrikan yang mengajukan proposal, galangan kapal Hanwha Ocean terbilang progresif. Perusahaan asal Korea Selatan itu pada status menagih komitmen pembuatan tiga kapal selam batch II Chang Bogo Class kepada Pemerintah Indonesia.
Pabrikan tersebut memang telah memenangkan lelang pengadaan tiga unit kapal selam Chang Bogo Class tahap II sejak 2019. Kendati demikian, perusahaan metamorfosis Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) itu belum menerima pembayaran letter of credit (L/C) sepeserpun. Terlebih, dia terlanjur melakukan pre-order komponen tiga kapal selam.
Tetapi, kerja sama yang terbangun hingga implementasi transfer of technology (ToT) di galangan PT PAL Surabaya sulit dilanjutkan karena sejumlah masalah yang muncul. Beberapa problem yang sempat mendapat perhatian publik adalah baterai kapal Chang Bogo Class pertama yang dianggap tak sesuai spesifikasi.
baca juga: Rusia Pensiunkan Kapal Selam Nuklir Terbesar di Dunia
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali pada acara sarasehan nasional pembangunan kekuatan kapal selam di Ujung Surabaya (12/6) mengungkapkan bahwa kapal selam adalah alutsista strategis armada angkatan laut suatu negara. Keunggulannya terletak pada aspek kerahasiaan dan daya hancur tinggi. Selain itu, dia menyebut kapal selam sebagai pengganda kekuatan tempur signifikan, sehingga memilikistrategic deterrencesangat tinggi.
Keterbatasan kapal selam yang dimiliki, apalagi kemampuannya masih dipertanyakan, menjadi persoalan besar bagi pertahanan Indonesia. Apalagi wilayah negeri ini 70% di antaranya berupa lautan - di dalamya terdapat terdapat tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), dan berada di persimpangan lalu lintas laut internasional teramai di dunia- tentu membutuhkan alutsista yang mencukupi, baik secara kwantitas maupun kwalitas, termasuk kapal selam.
Belum lagi memanasnya dinamika kawasan Indo-Pasifik yang mendorong konsolidasi kekuatan China versus Amerika Serikat bersama sekutunya- terutama yang tergabung dalam AUKUS. Karena itulah, pembangunan kekuatan kapal selam adalah isu krusial yang harus dicarikan jalan keluar.
baca juga: Kemhan Boyong Kapal Selam Penyelamat dari Inggris
Namun, perlu digarisbawahi pembelian kapal selam harus memerhatikan persaingan di kawasan agar pembelian tidak sia-sia karena tidak mampu mengimbangi kapabilitas kapal selam milik negara tetangga, juga kapal selam negara-negara adidaya yang berlalu-lalang di perairan Indonesia dan kawasan sekitar.
Beberapa kapal selam yang memasuki layanan negara tetangga antara lain Singapura yang memiliki empat kapal selam tipe kelas 218SG buatan tk MS Jerman dan Australia yang berencana mengakuisisi lima kapal selam kelas Virginia dari Amerika Serikat, yang merupakan kapal selam bertenaga nuklir termutakhir setelah bergabung dengan AUKUS.
Belum lagi Indonesia berpotensi berhadapan dengan China seperti disebut Global Fire Power memiliki 74 kapal selam pada 2020 lalu, termasuk di antara kapal selam tipe 094 bertenaga nuklir yang dilengkapi rudal balistik.
Pilihan Optimum
Indonesia memiliki sejumlah pilihan untuk menentukan kapal selam yang bakal diakuisisi. Di antara pabrikan yang mengajukan proposal, galangan kapal Hanwha Ocean terbilang progresif. Perusahaan asal Korea Selatan itu pada status menagih komitmen pembuatan tiga kapal selam batch II Chang Bogo Class kepada Pemerintah Indonesia.
Pabrikan tersebut memang telah memenangkan lelang pengadaan tiga unit kapal selam Chang Bogo Class tahap II sejak 2019. Kendati demikian, perusahaan metamorfosis Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) itu belum menerima pembayaran letter of credit (L/C) sepeserpun. Terlebih, dia terlanjur melakukan pre-order komponen tiga kapal selam.
Tetapi, kerja sama yang terbangun hingga implementasi transfer of technology (ToT) di galangan PT PAL Surabaya sulit dilanjutkan karena sejumlah masalah yang muncul. Beberapa problem yang sempat mendapat perhatian publik adalah baterai kapal Chang Bogo Class pertama yang dianggap tak sesuai spesifikasi.
baca juga: Rusia Pensiunkan Kapal Selam Nuklir Terbesar di Dunia
Lihat Juga :