BMKG Ungkap Empat Faktor Ini Penyebab Cuaca Panas Terik di Indonesia
Senin, 02 Oktober 2023 - 14:29 WIB
loading...
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkap ada empat faktor penyebab cuaca panas terik di Indonesia. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan ada empat faktor penyebab cuaca di Indonesia panas terik dalam beberapa hari terakhir ini.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, faktor pertama yakni sesuai prediksi BMKG bahwa September menjadi puncak musim kemarau ditambah dengan adanya fenomena El Nino. Sehingga, kemarau di Indonesia menjadi semakin kering akibat fenomena ini.
“Jadi kita ini kebetulan memasuki September ya, sudah diprediksi sebelumnya September itu adalah puncak musim kemarau, yang kebetulan mengalami El Nino. Sehingga pembentukan awan-awan hujan sangat minim, sehingga penyinaran matahari langsung, tidak ada tameng awan-awan hujan langsung mengena ke permukaan bumi ya,” ungkap Dwikorita, Senin (2/10/2023).
Baca juga: Cuaca Panas Terik di Indonesia, BMKG Ungkap Penyebabnya
Faktor kedua, adanya gerak semu matahari menunjukkan pergerakan ke arah selatan ekuator. “Apalagi posisi gerak semu matahari pada 21 September itu kan di wilayah ekuator dan sekarang pada proses pergerakan dari ekuator menuju selatan, menuju Lintang 23 setengah derajat celcius,” katanya.
Sehingga, sebagian wilayah Indonesia di selatan ekuator termasuk wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan pengaruh dampak penyinaran matahari yang relatif lebih intens dibandingkan wilayah lainnya, di mana pemanasan sinar matahari cukup optimal terjadi pada pagi menjelang siang dan pada siang hari.
Baca juga: Awas Cuaca Panas Ekstrem di DIY, BMKG: Tembus 33 Derajat Celcius!
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, faktor pertama yakni sesuai prediksi BMKG bahwa September menjadi puncak musim kemarau ditambah dengan adanya fenomena El Nino. Sehingga, kemarau di Indonesia menjadi semakin kering akibat fenomena ini.
“Jadi kita ini kebetulan memasuki September ya, sudah diprediksi sebelumnya September itu adalah puncak musim kemarau, yang kebetulan mengalami El Nino. Sehingga pembentukan awan-awan hujan sangat minim, sehingga penyinaran matahari langsung, tidak ada tameng awan-awan hujan langsung mengena ke permukaan bumi ya,” ungkap Dwikorita, Senin (2/10/2023).
Baca juga: Cuaca Panas Terik di Indonesia, BMKG Ungkap Penyebabnya
Faktor kedua, adanya gerak semu matahari menunjukkan pergerakan ke arah selatan ekuator. “Apalagi posisi gerak semu matahari pada 21 September itu kan di wilayah ekuator dan sekarang pada proses pergerakan dari ekuator menuju selatan, menuju Lintang 23 setengah derajat celcius,” katanya.
Sehingga, sebagian wilayah Indonesia di selatan ekuator termasuk wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan pengaruh dampak penyinaran matahari yang relatif lebih intens dibandingkan wilayah lainnya, di mana pemanasan sinar matahari cukup optimal terjadi pada pagi menjelang siang dan pada siang hari.
Baca juga: Awas Cuaca Panas Ekstrem di DIY, BMKG: Tembus 33 Derajat Celcius!
Lihat Juga :