Buang Stigma Negatif! Profesi Bidan Vital Bagi Kesehatan Ibu dan Anak
Sabtu, 23 September 2023 - 00:14 WIB
loading...
A
A
A
Baginya, bidan mempunyai peran dalam membantu masyarakat mengenali masalah gizi dan kesehatan di wilayahnya serta menentukan prioritas intervensi gizi dan kesehatan, mendampingi masyarakat untuk mengenali potensi pendukung gizi dan kesehatan di wilayahnya, sehingga tercipta inovasi daerah yang memanfaatkan kearifan lokal.
“Selain memberikan pelayanan kebidanan, para bidan juga berperan dalam mengelola pelayanan, menjadi penyuluh dan konselor, pendidik, pembimbing dan fasilitator klinik, penggerak serta ikut serta dalam usaha pemberdayaan masyarakat," kata Eva.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi bidan adalah menyampaikan edukasi dengan cara yang mudah dipahami dan dapat diterima oleh masyarakat. Menurut Eva, di wilayah Bandung Raya hingga saat ini masyarakatnya masih kurang menyadari dampak buruk dari konsumsi gula berlebihan terhadap kesehatan.
“Gula tambahan dalam makanan dan minuman, seperti kental manis yang diseduh, minuman boba, donut gula, dan masih banyak lainnya kerap tidak terlihat oleh mata telanjang. Inilah yang membuatnya semakin sulit untuk disadari individu,” ujarnya.
Ketua Bidang Advokasi Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia Yuli Supriati menambahkan upaya mengatasi masalah konsumsi kental manis yang berlebih memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintah, produsen, dan masyarakat umum.
“Pemerintah harus mengadopsi regulasi yang lebih ketat terkait pelabelan nutrisi dan iklan mengenai kental manis yang tidak seharusnya dikonsumsi sebagai pengganti susu bagi anak. Produsen juga perlu berperan aktif dalam mengurangi gula tambahan dalam produk mereka dan mengedukasi konsumen tentang pentingnya mengurangi konsumsi gula,” katanya.
Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, dia berharap sulitnya edukasi terkait konsumsi kental manis di masyarakat dapat diatasi. Ini akan menjadi langkah penting menuju masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan pentingnya mengendalikan konsumsi gula dalam upaya menjaga kesehatan mereka.
“Selain memberikan pelayanan kebidanan, para bidan juga berperan dalam mengelola pelayanan, menjadi penyuluh dan konselor, pendidik, pembimbing dan fasilitator klinik, penggerak serta ikut serta dalam usaha pemberdayaan masyarakat," kata Eva.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi bidan adalah menyampaikan edukasi dengan cara yang mudah dipahami dan dapat diterima oleh masyarakat. Menurut Eva, di wilayah Bandung Raya hingga saat ini masyarakatnya masih kurang menyadari dampak buruk dari konsumsi gula berlebihan terhadap kesehatan.
“Gula tambahan dalam makanan dan minuman, seperti kental manis yang diseduh, minuman boba, donut gula, dan masih banyak lainnya kerap tidak terlihat oleh mata telanjang. Inilah yang membuatnya semakin sulit untuk disadari individu,” ujarnya.
Ketua Bidang Advokasi Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia Yuli Supriati menambahkan upaya mengatasi masalah konsumsi kental manis yang berlebih memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pemerintah, produsen, dan masyarakat umum.
“Pemerintah harus mengadopsi regulasi yang lebih ketat terkait pelabelan nutrisi dan iklan mengenai kental manis yang tidak seharusnya dikonsumsi sebagai pengganti susu bagi anak. Produsen juga perlu berperan aktif dalam mengurangi gula tambahan dalam produk mereka dan mengedukasi konsumen tentang pentingnya mengurangi konsumsi gula,” katanya.
Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, dia berharap sulitnya edukasi terkait konsumsi kental manis di masyarakat dapat diatasi. Ini akan menjadi langkah penting menuju masyarakat yang lebih sehat dan sadar akan pentingnya mengendalikan konsumsi gula dalam upaya menjaga kesehatan mereka.
(jon)
Lihat Juga :