Habib Ja'far Ungkap Cara Nabi Muhammad Ciptakan Persatuan dan Perdamaian

Senin, 11 September 2023 - 19:21 WIB
loading...
Habib Jafar Ungkap Cara...
Dai muda, Habib Husein Jafar Al Hadar. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Masyarakat Indonesia didorong melek politik menjelang Pemilu 2024 . Jangan ketidaktahuan terhadap politik dan demokrasi, malah dimanfaatkan untuk memecah belah bangsa.

Dai muda, Habib Husein Ja'far Al Hadar mengungkapkan pentingnya melek politik dan berkontribusi pada Pemilu 2024. Menurutnya, tujuan utama politik adalah membangun bangsa. Karena itu masyarakat harus mengetahui profil para kandidat serta menjaga stabilitas nasional, kerukunan umat beragama dan persatuan bangsa dalam merayakan pesta demokrasi.

"Pembangunan bangsa itu basic utamanya adalah persatuan. Nah, politik identitas itu artinya politik yang menggunakan identitas untuk perpecahan. Sehingga sudah seharusnya itu ditolak karena bertentangan dengan prinsip dasar dalam politik, yaitu membangun bangsa dengan persatuan," kata Habib Ja'far di Jakarta, Senin (11/9/2023).

Baca juga: Moderasi Beragama Penyelamat Generasi Muda Hadapi Polarisasi

Habib Ja'far mencontohkan salah satu praktik politik Nabi Muhammad SAW yang patut dicontoh adalah Piagam Madinah. Menurutnya, Piagam Madinah adalah salah satu piagam paling demokratis dan tetap relevan hingga saat ini yang pernah ada dalam sejarah umat manusia.

Ketika menjadi pemimpin di Madinah, Nabi melihat siapa pun yang ada di Madinah dalam perspektif sebagai warga, bukan identias agama dan kesukuan. Siapa saja, dari suku manapun dan agama apa pun dilindungi, selama mereka mau hidup damai, saling menghormati, dan toleran satu sama lain.

"Nabi saat itu juga menjadi pemimpin Madinah bukan karena beliau sebagai seorang Nabi dari kalangan umat Islam tapi seorang yang dipercaya oleh siapa saja yang ada di Madinah saat itu lantaran alamin, terpercaya sebagai seorang pemimpin," tutur Habib Ja’far.

Dai kelahiran Bondowoso, 21 Juni 1988 ini menyerukan agar masyarakat memilih bukan karena sosok, identitas (suku, agama, ras, budaya) melainkan karena value yang diperjuangkan dari para kandidat.

"Keberpihakan kita kepada nilai bukan kepada sosok. Maka tidak ada istilah kalah, karena begitu dia menang walaupun dia bukan sosok yang kita jagokan, tapi yang kita jagokan adalah nilai, sehingga kita akan terus kawal dia memperjuangkan nilai yang positif," ujarnya.

Habib yang dikenal dengan program podcast Log In ini berpendapat, pemilih akan selalu berada di pihak yang menang berada di politik kebangsaan. Makanya yang terpenting adalah terus meriset dan mendorong kepada para calon berbicara tentang hal yang baik dan ditanya tentang visi-misinya.

"Saya pilih dia karena ganteng, oh saya pilih dia karena sukunya ini, oh saya pilih dia karena pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya identitas. Enggak, tapi lebih kepada nilainya saya pilih dia karena dia memilih untuk berpihak kepada Indonesia, memilih untuk berpihak kepada persatuan," kata Habib Ja’far.

Dalam memilih, lulusan Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menganjurkan membaca basmallah bagi muslim dan bacaan lain yang sesuai dengan tuntunan agamanya. Harapannya mereka yang terpilih nanti akan terus berada dalam amatan dan bimbingan Tuhan.

"Kita serahkan pada akhirnya kepada Tuhan karena kita tidak tahu apakah dia benar-benar sesuai dengan yang kita nilai. Makanya ada aspek-aspek spiritual bukan hanya intelektual apalagi sekedar elektoral dalam pemilihan setiap kita ketika memilih di bilik suara," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Habib Ja’far Sebut...
Habib Ja’far Sebut Hilirisasi Solusi Atasi Kolonialisasi Modern Pengelolaan SDA
Habib Ja’far: Kekayaan...
Habib Ja’far: Kekayaan Alam Harus Dikelola dengan Amanah demi Kemaslahatan Bangsa
Komisi II DPR Bakal...
Komisi II DPR Bakal Panggil KPU Imbas Penggunaan Jet Pribadi
Saraswati Rahayu Mundur...
Saraswati Rahayu Mundur dari DPR, PB PII: Jadi Teladan Politik Generasi Muda
Lepas 1.000 Peserta...
Lepas 1.000 Peserta Mawlid Funwalk, Menag: Sambut Maulid dengan Menjaga Toleransi
Megawati Sentil Kader...
Megawati Sentil Kader PDIP Babak Belur di Pemilu 2024
Kisah Baginda Nabi Muhammad...
Kisah Baginda Nabi Muhammad SAW Ketika Bertemu Lailatul Qadar
Kisah Malam Nuzulul...
Kisah Malam Nuzulul Quran : Malaikat Jibril Memeluk Nabi Muhammad SAW Hingga 3 Kali di Gua Hira
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Saat Menerima Wahyu Pertama, Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Rekomendasi
Perbedaan SPMB Bersama...
Perbedaan SPMB Bersama dan PMB Sekolah Swasta Gratis Jakarta 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya
4 Keuntungan Besar Iran...
4 Keuntungan Besar Iran dalam Perjanjian Damai dengan AS, dari Kompensasi hingga Program Nuklir
Miris, Lagu Kebangsaan...
Miris, Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Tahun Baru Islam, Menag:...
Tahun Baru Islam, Menag: Momentum Pentingnya Dialog dan Merangkul Perbedaan
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved