Pengamat: Warga NU di PKB Tak Serta Merta Dukung Anies-Muhaimin
Rabu, 06 September 2023 - 19:40 WIB
loading...
Pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar berfoto bersama di sela Deklarasi Capres-Cawapres 2024 di Hotel Majapahit, Surabaya, Sabtu (2/9/2023). ANTARA FOTO/Moch Asim/nym
A
A
A
JAKARTA - Suara warga Nahdlatul Ulama (NU) di Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ) tidak akan solid mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengungkapkan sejumlah alasan mengenai analisis tersebut.
Adi menjelaskan, secara statistik 85% penduduk Indonesia beragama Islam. Dari jumlah itu, sebanyak 40-45% mengaku sebagai warga Nahdatul Ulama (NU).
"Lalu kalau lihat suara PKB di Pemilu 2019 sebesar 9,69%. Jadi kalau ada 45% bagian dari NU, ada sekitar 35% tidak memilih PKB namun ke partai lain," kata Adi di Jakarta, Rabu (6/9/2023). Baca juga: Gus Yahya Sebut Warga NU Bukan Kerbau yang Dicocok Hidungnya
Dia mengatakan, dari suara PKB sebesar 9,69% itu tidak bisa dikonversikan kepada Muhaimin. Mengapa? Karena elektabilitas Muhaimin hanya 1-2%.
Dari sini terlihat ada gap antara pemilih PKB dengan Muhaimin. "Ada jarak pemilih PKB yang tidak memilih Muhaimin. Dan pemilih NU tidak harus memilih Muhaimin," ujarnya.
Dia menilai ada beberapa penyebab pemilih NU tidak memilih Muhaimin. Pertama, masih kalah tenar dengan nama-nama bacapres lain seperti Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
"Muhaimin masih kalah tenar dengan nama-nama lain karena basis pemilih PKB misalnya lebih memilih Ganjar. Karena orang NU dengan PDI Perjuangan memiliki hubungan yang bagus," tandasnya.
Adi menjelaskan, secara statistik 85% penduduk Indonesia beragama Islam. Dari jumlah itu, sebanyak 40-45% mengaku sebagai warga Nahdatul Ulama (NU).
"Lalu kalau lihat suara PKB di Pemilu 2019 sebesar 9,69%. Jadi kalau ada 45% bagian dari NU, ada sekitar 35% tidak memilih PKB namun ke partai lain," kata Adi di Jakarta, Rabu (6/9/2023). Baca juga: Gus Yahya Sebut Warga NU Bukan Kerbau yang Dicocok Hidungnya
Dia mengatakan, dari suara PKB sebesar 9,69% itu tidak bisa dikonversikan kepada Muhaimin. Mengapa? Karena elektabilitas Muhaimin hanya 1-2%.
Dari sini terlihat ada gap antara pemilih PKB dengan Muhaimin. "Ada jarak pemilih PKB yang tidak memilih Muhaimin. Dan pemilih NU tidak harus memilih Muhaimin," ujarnya.
Dia menilai ada beberapa penyebab pemilih NU tidak memilih Muhaimin. Pertama, masih kalah tenar dengan nama-nama bacapres lain seperti Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
"Muhaimin masih kalah tenar dengan nama-nama lain karena basis pemilih PKB misalnya lebih memilih Ganjar. Karena orang NU dengan PDI Perjuangan memiliki hubungan yang bagus," tandasnya.
Lihat Juga :