Alumni Sekolah Tinggi Hukum Militer Sandang Pangkat Jenderal Bintang 3, Nomor 4 Mantan Wapres
Minggu, 03 September 2023 - 05:39 WIB
loading...
A
A
A
Sempat menjabat sebagai Asisten Athan RI di Republik Singapura, Andi M Ghalib dipercaya menduduki jabatan Direktur Akademi Hukum Militer/Perguruan Tinggi Hukum Militer. Lulusan Akademisi Hukum Militer/Perguruan Tinggi Hukum Militer/STHM ini kemudian dipercaya menduduki jabatan sipil sebagai Pjs. Bupati Jeneponto-Sulawesi Selatan. Selanjutnya, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Pjs. Walikotamadya Ujungpandang Sulawesi Selatan.
Setelah menduduki jabatan sipil, Andi M Ghalib yang pernah mengikuti pendidikan militer International Course The Law of Armed Forces Conflicts (Hukum Perang) di Sanremo, Italia ini diangkat menjadi Oditur Jenderal ABRI, kemudian Kepala Badan Pembinaan Hukum ABRI dan puncaknya sebagai Jaksa Agung.
Setelah pensiun, lulusan Seskoad dan Lemhannas ini kemudian terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2004-2009, Andi M Ghalib menjabat Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Penasehat Fraksi PPP DPR RI, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PHP PPP.
Andi M Ghalib juga pernah diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI Untuk Republik India di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Andi M Ghalib juga kembali terpilih menjadi anggota DPR selama dua tahun pada 2014—2016. Sebab pada 9 Mei 2016 Andi M Ghalib meninggal dunia.
![Alumni Sekolah Tinggi Hukum Militer Sandang Pangkat Jenderal Bintang 3, Nomor 4 Mantan Wapres]()
Bahkan, bisa dikatakan Soedharmono merupakan satu-satunya lulusan STHM yang menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba). Soedharmono tercatat sebagai Wapres ke-5 RI yang mendampingi Presiden Soeharto.
Pengabdian Soedharmono di dunia militer berawal ketika turut membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang dalam persiapan pembentukan TNI setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945. Selama perang kemerdekaan, Soedharmono ditunjuk menjadi Panglima Divisi Ronggolawe dengan pangkat Kapten.
Pada 1952, Soedharmono bergabung dengan Akademi Hukum Militer. Dia berhasil menyelesaikan studinya pada 1956 sebelum bertugas di Medan, Sumatera Utara (Sumut)sebagai Jaksa Militer pada 1957–1961. Pada 1962, Soedharmono memperoleh gelar dalam bidang hukum setelah menyelesaikan studinya di Universitas Hukum Militer. Soedharmono kemudian diangkat sebagai Ketua Personel Pesanan Satuan Kerja Pemerintah Pusat dan memberikan bantuan administrasi kepada pemerintah.
Saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, Presiden Soekarno membentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Pada 1963, Soedharmono kemudian bergabung KOTI. Karier militer Soedharmono semakin meningkat pascatragedi 1965 karena mendapat kepercayaan dari Soeharto yang ketika itu mendapat Supersemar dari Soekarno.
Ketika Soeharto menjadi Presiden RI, Soedharmono diangkat menjadi Sekretaris Kabinet serta Ketua Dewan Stabilitas Ekonomi. Pada 1970, Soedharmono kemudian dipindahkan menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Selain menjadi Mensesneg, Soedharmono juga menggantikan menteri yang tidak dapat melaksanakan tugasnya di antaranya, menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) serta membantu untuk membuat pidato pertanggungjawaban Soeharto sebelum Sidang Umum MPR.
Kesetiaan dan loyalitasnya kepada Soeharto membuatnya ditunjuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Karier Soedharmono mencapai puncaknya saat diangkat menjadi Wakil Presiden (Wapres) mendampingi Presiden Soeharto. Soedharmono menjabat sebagai Wapres sejak 1988-1993.
Setelah menduduki jabatan sipil, Andi M Ghalib yang pernah mengikuti pendidikan militer International Course The Law of Armed Forces Conflicts (Hukum Perang) di Sanremo, Italia ini diangkat menjadi Oditur Jenderal ABRI, kemudian Kepala Badan Pembinaan Hukum ABRI dan puncaknya sebagai Jaksa Agung.
Setelah pensiun, lulusan Seskoad dan Lemhannas ini kemudian terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Terpilih sebagai anggota DPR RI pada 2004-2009, Andi M Ghalib menjabat Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Penasehat Fraksi PPP DPR RI, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PHP PPP.
Andi M Ghalib juga pernah diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI Untuk Republik India di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Andi M Ghalib juga kembali terpilih menjadi anggota DPR selama dua tahun pada 2014—2016. Sebab pada 9 Mei 2016 Andi M Ghalib meninggal dunia.

4. Letjen TNI (Purn) Soedharmono
Pria kelahiran Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927 ini merupakan alumni STHM yang memiliki karier militer cukup cemerlang. Selama mengabdi di TNI, Soedharmono berhasil menyandang pangkat Letnan Jenderal.Bahkan, bisa dikatakan Soedharmono merupakan satu-satunya lulusan STHM yang menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba). Soedharmono tercatat sebagai Wapres ke-5 RI yang mendampingi Presiden Soeharto.
Pengabdian Soedharmono di dunia militer berawal ketika turut membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang dalam persiapan pembentukan TNI setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945. Selama perang kemerdekaan, Soedharmono ditunjuk menjadi Panglima Divisi Ronggolawe dengan pangkat Kapten.
Pada 1952, Soedharmono bergabung dengan Akademi Hukum Militer. Dia berhasil menyelesaikan studinya pada 1956 sebelum bertugas di Medan, Sumatera Utara (Sumut)sebagai Jaksa Militer pada 1957–1961. Pada 1962, Soedharmono memperoleh gelar dalam bidang hukum setelah menyelesaikan studinya di Universitas Hukum Militer. Soedharmono kemudian diangkat sebagai Ketua Personel Pesanan Satuan Kerja Pemerintah Pusat dan memberikan bantuan administrasi kepada pemerintah.
Saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, Presiden Soekarno membentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Pada 1963, Soedharmono kemudian bergabung KOTI. Karier militer Soedharmono semakin meningkat pascatragedi 1965 karena mendapat kepercayaan dari Soeharto yang ketika itu mendapat Supersemar dari Soekarno.
Ketika Soeharto menjadi Presiden RI, Soedharmono diangkat menjadi Sekretaris Kabinet serta Ketua Dewan Stabilitas Ekonomi. Pada 1970, Soedharmono kemudian dipindahkan menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Selain menjadi Mensesneg, Soedharmono juga menggantikan menteri yang tidak dapat melaksanakan tugasnya di antaranya, menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) serta membantu untuk membuat pidato pertanggungjawaban Soeharto sebelum Sidang Umum MPR.
Kesetiaan dan loyalitasnya kepada Soeharto membuatnya ditunjuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Karier Soedharmono mencapai puncaknya saat diangkat menjadi Wakil Presiden (Wapres) mendampingi Presiden Soeharto. Soedharmono menjabat sebagai Wapres sejak 1988-1993.
(cip)
Lihat Juga :