Pengamat Minta Penyelenggara Pemilu Evaluasi Strategi Mitigasi

Selasa, 08 Agustus 2023 - 23:34 WIB
loading...
Pengamat Minta Penyelenggara...
Direktur Eksekutif Humas Studies Institute Rasminto mendorong penyelenggara pemilu mengevaluasi sistem dan strategi mitigasi kerawanan pemilu, khususnya di Papua. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Humas Studies Institute Rasminto mendorong penyelenggara pemilu mengevaluasi sistem dan strategi mitigasi kerawanan pemilu, khususnya di Papua. Dorongan Rasminto menyusul terjadinya pembakaran Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Sabtu (5/8/2023) malam.

Akun Twitter @kabuni99 dalam kirimannya menyebutkan, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bertanggung jawab dalam terbakarnya Kantor KPU Yahukimo. @Kabuni99 diketahui mendukung kemerdekaan Papua. Sikapnya tertulis dalam kolom bio akun Twitternya.

Rasminto berpendapat, pemilihan umum (pemilu) adalah agenda nasional yang tidak boleh terganggu pelaksanaannya. Dengan demikian, penyelenggara pemilu harus menyiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin, termasuk memitigasi risiko yang terjadi.



"Sayangnya, KPU dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) kurang optimal dalam menjalankan tugasnya, termasuk mitigasi kerawanan pemilu. Ini terlihat dari kasus dibakarnya Kantor KPU Yahukimo yang diduga dilakukan TPNPB," katanya dalam keterangannya, Selasa (8/8/2033).

Menurut Rasminto, dibakarnya Kantor KPU Yahukimo merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Apalagi, Komisioner KPU Yahukimo, Penas Pahabol, mengakui pihaknya sempat menerima teror sebelumnya, seperti kaca mobil operasional dipecahkan orang tidak dikenal (OTK) menggunakan batu pada 30 Juli 2023.

"Terbakarnya Kantor KPU Yahukimo tentu mengganggu tahapan pelaksanaan Pemilu 2024 yang sudah berjalan. Kerugian yang ditimbulkan juga besar. Oleh sebab itu, KPU dan Bawaslu harus serius menyikapi kasus ini dengan mengevaluasi sistem dan strategi mitigasi kerawanan pemilu," tuturnya.

Dosen Universitas Islam 45 (Unisma) itu melanjutkan, situasi dan kondisi di Papua tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Pangkalnya, konflik horizontal dan vertikal di Bumi Cenderawasih berlangsung sejak lama dan belum tuntas hingga kini.

Baca juga: Waduh! KKB Bikin Markas di Belakang Kantor Bupati Yahukimo, kok Bisa?

"Untuk melakukan mitigasi, KPU dan Bawaslu RI perlu melibatkan aparat keamanan, baik TNI/Polri bahkan aparatur intelijen. KPU dan Bawaslu tidak boleh serampangan dan meremehkan kasus ini. Jika tidak, kasus serupa bahkan lebih besar berpeluang terjadi di daerah lain di Papua," katanya.

Rasminto pun menyoroti proses rekrutmen Bawaslu dan KPU di Papua. Ia berpendapat, KPU dan Bawaslu harus memperhatikan rekam jejak calon selain memperhatikan hasil tes.

"Pimpinan KPU dan Bawaslu RI selain memperhatikan sisi integritas dan kompetensi calon, harus dilihat juga sisi ketokohan dan rekam jejak dari keterlibatan kelompok separatis yang merongrong kedaulatan NKRI. Sebab, dari sinilah akar utama permasalahan papua kerap terjadi," paparnya.

Rasminto melanjutkan, langkah tersebut juga bagian dari mitigasi risiko agar masalah gangguan keamanan dapat dihindari. Apalagi, krisis pangan dan kekeringan yang sedang terjadi di Papua Tengah dapat dijadikan dalih bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk mengancam pelaksanaan pemilu.

"Penyelenggara pemilu jangan anggap sepele permasalahan gangguan keamanan di Yahukimo yang diklaim dilakukan oleh kelompok TPNPB, apalagi dengan situasi krisis pangan dan kekeringan di wilayah Papua Tengah yang diprediksi hingga November 2023 hal ini tentu akan menambah pelik persoalan penyelenggaraan Pemilu 2024 di Papua," pungkasnya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terbukti Selingkuh dan...
Terbukti Selingkuh dan Pungli, Anggota KPU OKU Timur Dipecat
KPU Ingatkan PPP Tetap...
KPU Ingatkan PPP Tetap Mengacu UU Pemilu dan Parpol saat Daftar Peserta Pemilu
Roy Suryo Tuding Format...
Roy Suryo Tuding Format Ukuran Ijazah Jokowi Berbeda, Ketum Jokman: Ini Sesuatu Hal yang Enggak Masuk Akal
Bonatua Sebut KPU Bakal...
Bonatua Sebut KPU Bakal Buka Ijazah Jokowi ke Publik Pekan Depan
Kogabwilhan III Gelar...
Kogabwilhan III Gelar Dapur Rakyat, Tingkatkan Gizi Masyarakat Papua
Sidang Bonjowi, KIP...
Sidang Bonjowi, KIP Periksa KPU hingga Polda Metro Jaya
Bidik Penguatan Basis...
Bidik Penguatan Basis Distrik, Wakil Bupati Yan Kiraklak Resmi Pimpin DPD Partai Perindo Yalimo
Partai Perindo Perkuat...
Partai Perindo Perkuat Akar Rumput di Yalimo, Kader Didorong Turun ke Masyarakat
KPU Jakarta Timur Dorong...
KPU Jakarta Timur Dorong Parpol Memperbarui Data
Rekomendasi
Saleh Husin, Retno Marsudi,...
Saleh Husin, Retno Marsudi, Triawan Munaf, Tantowi Yahya, hingga Mari Pangestu Latihan Menuju UI Green Marathon
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Belgia Dipaksa Bermain Imbang Lawan Iran
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Republik Ceko 2026
Berita Terkini
Dokter Tifa Masih Diinfus...
Dokter Tifa Masih Diinfus dan Roy Suryo Tidak Mau Makan Obat
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Refly Harun Ungkap Kondisi...
Refly Harun Ungkap Kondisi Terkini Roy Suryo dan Dokter Tifa
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved