Generasi Muda Unggul Jadi Modal Wujudkan Indonesia Emas 2045
Senin, 07 Agustus 2023 - 18:06 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Habib Jafar, bonus demografi yang dirasakan Indonesia harus dikelola dengan benar agar dapat menjadi kelebihan dan bukan menjadi beban. Selain itu, bangsa Indonesia perlu mengambil pelajaran dari negara-negara lain, baik yang berhasil maupun gagal.
Contohnya Afrika Selatan, mereka tidak bisa memanfaatkan bonus demografinya dengan baik, sehingga banyak generasi muda di sana justru menjadi bencana demografi. Contoh yang sukses adalah Korea Selatan, mereka sukses mengelola anak mudanya hingga menjadi bonus demografi yang menguntungkan.
"Kalau Indonesia gagal mengelola anak muda ini yang jumlahnya 2/3 dari populasi rakyat keseluruhan, kita akan gagal mendapatkan manfaat dari bonus demografi tersebut," katanya.
Habib Jafar lalu membayangkan, begitu banyak anak muda, tapi justru menjadi beban negatif dan destruktif bagi bangsanya, apalagi di bidang intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Kondisi itu sangat berbahaya. Jangankan dalam jumlah yang banyak, satu anak muda saja yang terpapar intoleransi, radikalisme, atau terorisme itu bisa sangat mengerikan.
"Kalau dia sampai melakukan tindakan teror, misalnya melakukan pemboman, itu akan menjadi isu yang buruk dan kemudian akan berdampak buruk. Banyak hal bisa terdampak, seperti kepercayaan dunia kepada Indonesia, ekonomi negara, psikologi masyarakat, dan termasuk tercorengnya agama dari si teroris tersebut di mata orang lain," katanya.
Ia mengajak generasi muda mencontoh para sahabat nabi yang kala itu termasuk golongan anak muda tetapi sudah bisa memberikan kontribusi bagi negaranya. Misalnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karena ketangkasannya dalam perang dan kecerdasannya dalam keilmuan, dia unggul dalam pengembangan keilmuan serta kemiliteran, hingga kemudian menjadi khalifah keempat umat Islam.
Contohnya Afrika Selatan, mereka tidak bisa memanfaatkan bonus demografinya dengan baik, sehingga banyak generasi muda di sana justru menjadi bencana demografi. Contoh yang sukses adalah Korea Selatan, mereka sukses mengelola anak mudanya hingga menjadi bonus demografi yang menguntungkan.
"Kalau Indonesia gagal mengelola anak muda ini yang jumlahnya 2/3 dari populasi rakyat keseluruhan, kita akan gagal mendapatkan manfaat dari bonus demografi tersebut," katanya.
Habib Jafar lalu membayangkan, begitu banyak anak muda, tapi justru menjadi beban negatif dan destruktif bagi bangsanya, apalagi di bidang intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Kondisi itu sangat berbahaya. Jangankan dalam jumlah yang banyak, satu anak muda saja yang terpapar intoleransi, radikalisme, atau terorisme itu bisa sangat mengerikan.
"Kalau dia sampai melakukan tindakan teror, misalnya melakukan pemboman, itu akan menjadi isu yang buruk dan kemudian akan berdampak buruk. Banyak hal bisa terdampak, seperti kepercayaan dunia kepada Indonesia, ekonomi negara, psikologi masyarakat, dan termasuk tercorengnya agama dari si teroris tersebut di mata orang lain," katanya.
Ia mengajak generasi muda mencontoh para sahabat nabi yang kala itu termasuk golongan anak muda tetapi sudah bisa memberikan kontribusi bagi negaranya. Misalnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karena ketangkasannya dalam perang dan kecerdasannya dalam keilmuan, dia unggul dalam pengembangan keilmuan serta kemiliteran, hingga kemudian menjadi khalifah keempat umat Islam.
Lihat Juga :