Mendongkrak Daya Saing Pabrik Gula
Rabu, 29 Juli 2020 - 06:10 WIB
loading...
A
A
A
Dalam situasi demikian, desakan untuk meningkatkan efisiensi pabrik gula (PG), terutama PG BUMN, jadi relevan agar bisa swasembada. Keluhan inefisiensi PG-PG BUMN sudah lama disuarakan. Mengapa ini penting? Bagi petani, efisiensi PG mutlak adanya karena relasi petani-PG diikat oleh bagi hasil giling. Menurut perhitungan (Pakpahan, 2004), komposisi biaya dalam industri gula sekitar 60-70% ada di kebun. Artinya, share petani mencapai 60-70%. Kalau PG tidak efisien dan merugi, 60-70% inefisiensi dan kerugian itu dipikul petani. Bila harga jual gula anjlok, petani pula yang paling terpukul. Untuk meningkatkan efisiensi ditawarkan opsi revitalisasi. Namun, seperti tari poco-poco, implementasi revitalisasi maju-mundur. Akibatnya, industri gula tetap dengan wajahnya dulu: tidak efisien. Pertanyaannya, mengapa PG kita tak efisien?
Harus diakui, sampai saat ini biaya produksi gula, terutama produksi PG BUMN di Jawa masih mahal. Besar biaya produksi hampir dua kali lipat dari biaya produksi PG swasta, terutama di Lampung. Pertanyaannya, mengapa PG-PG BUMN tidak kompetitif? Di negara produsen dan eksportir gula utama, seperti Brasil, Australia, dan Thailand, biaya pokok produksi gula hanya sekitar 50-80% dibandingkan dengan biaya gula kita atau setara biaya PG-PG swasta. Budidaya tebu dilakukan secara mekanisasi dan prosesnya semi otomatis di pabrik. Alokasi biaya tenaga kerja relatif kecil. Kapasitas giling PG besar: rata-rata 10.000-15.000 ton tebu per hari. PG amat efisien (Toharisman, 2014).
Selain itu, PG gula bukan hanya menghasilkan gula, tetapi produk turunan lain berbasis tebu yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, listrik, dan kertas. Tebu merupakan "tanaman emas" yang bisa menghasilkan puluhan produk turunan bernilai tinggi. Di India, kontribusi gula terhadap keuntungan perusahaan kurang dari 40%, sisanya disumbangkan dari cogen (listrik) dan etanol. Gula-cogen-etanol menjadi produk utama PG-PG di India, Australia, dan Thailand. Kebijakan gula dan produk turunannya sangat kondusif dalam mendorong pengembangan usaha. Diversifikasi produk ini juga bisa menjadi strategi keluar dari pasar gula dunia yang distortif dan harganya tidak stabil.
Di Indonesia, pokok persoalan ini ada pada banyaknya PG yang obsolete, tua, dan berkapasitas giling kecil (di bawah 3.000 ton tebu per hari). Saat ini jumlah PG 62 buah, 68% pabrik tua berumur di atas 80 tahun dan 80% terdapat di Pulau Jawa. Akibat mesin tua, kinerja PG, terutama PG BUMN, tidak maksimal. Mesin bocor, nira tebu banyak yang tidak menjadi gula. Secara teoritis kita mampu mencapai rendemen 14-15% apabila prinsip efisiensi dilakukan dengan baik, tetapi karena PG sudah tua, rendemen yang diraih hanya 6-7%, jauh di bawah pencapaian rendemen di era 1930-an (11-13%).
Selain itu, berbeda dengan PG swasta, PG-PG BUMN yang sebagian besar di Jawa tidak memiliki lahan sendiri. Pasokan tebu PG sepenuhnya tergantung dari lahan petani. Padahal kondisi petani cukup beragam kemampuan finansial maupun penguasaan teknis budidaya tebu. Manajemen di lahan yang terpisah dari manajemen giling (PG) ini membuat PG tidak mudah mengintegrasikan kegiatan, yakni tanam, tebang, angkut, dan giling. Kerumitan ini membuat PG BUMN sulit meningkatkan efisiensi, produktivitas tebu, dan rendemen gula. Kualitas gula yang dihasilkan rendah dengan ICUMSA sebesar 80-300.
Harus diakui, sampai saat ini biaya produksi gula, terutama produksi PG BUMN di Jawa masih mahal. Besar biaya produksi hampir dua kali lipat dari biaya produksi PG swasta, terutama di Lampung. Pertanyaannya, mengapa PG-PG BUMN tidak kompetitif? Di negara produsen dan eksportir gula utama, seperti Brasil, Australia, dan Thailand, biaya pokok produksi gula hanya sekitar 50-80% dibandingkan dengan biaya gula kita atau setara biaya PG-PG swasta. Budidaya tebu dilakukan secara mekanisasi dan prosesnya semi otomatis di pabrik. Alokasi biaya tenaga kerja relatif kecil. Kapasitas giling PG besar: rata-rata 10.000-15.000 ton tebu per hari. PG amat efisien (Toharisman, 2014).
Selain itu, PG gula bukan hanya menghasilkan gula, tetapi produk turunan lain berbasis tebu yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, listrik, dan kertas. Tebu merupakan "tanaman emas" yang bisa menghasilkan puluhan produk turunan bernilai tinggi. Di India, kontribusi gula terhadap keuntungan perusahaan kurang dari 40%, sisanya disumbangkan dari cogen (listrik) dan etanol. Gula-cogen-etanol menjadi produk utama PG-PG di India, Australia, dan Thailand. Kebijakan gula dan produk turunannya sangat kondusif dalam mendorong pengembangan usaha. Diversifikasi produk ini juga bisa menjadi strategi keluar dari pasar gula dunia yang distortif dan harganya tidak stabil.
Di Indonesia, pokok persoalan ini ada pada banyaknya PG yang obsolete, tua, dan berkapasitas giling kecil (di bawah 3.000 ton tebu per hari). Saat ini jumlah PG 62 buah, 68% pabrik tua berumur di atas 80 tahun dan 80% terdapat di Pulau Jawa. Akibat mesin tua, kinerja PG, terutama PG BUMN, tidak maksimal. Mesin bocor, nira tebu banyak yang tidak menjadi gula. Secara teoritis kita mampu mencapai rendemen 14-15% apabila prinsip efisiensi dilakukan dengan baik, tetapi karena PG sudah tua, rendemen yang diraih hanya 6-7%, jauh di bawah pencapaian rendemen di era 1930-an (11-13%).
Selain itu, berbeda dengan PG swasta, PG-PG BUMN yang sebagian besar di Jawa tidak memiliki lahan sendiri. Pasokan tebu PG sepenuhnya tergantung dari lahan petani. Padahal kondisi petani cukup beragam kemampuan finansial maupun penguasaan teknis budidaya tebu. Manajemen di lahan yang terpisah dari manajemen giling (PG) ini membuat PG tidak mudah mengintegrasikan kegiatan, yakni tanam, tebang, angkut, dan giling. Kerumitan ini membuat PG BUMN sulit meningkatkan efisiensi, produktivitas tebu, dan rendemen gula. Kualitas gula yang dihasilkan rendah dengan ICUMSA sebesar 80-300.