PBHI Imbau Masyarakat Tak Mendukung Pelanggar HAM di Pemilu 2024

Rabu, 26 Juli 2023 - 19:00 WIB
loading...
PBHI Imbau Masyarakat...
PBHI mengimbau masyarakat tidak memilih pelaku pelanggaran HAM pada Pemilu 2024 dalam diskusi publik di Sadjoe Cafe, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2023). Foto/Dok. SINDOnews
A A A
JAKARTA - Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Nasional mengimbau masyarakat tidak memilih pelaku pelanggaran HAM pada Pemilu 2024 . PBHI juga mengajak masyarakat untuk tidak melupakan begitu saja tragedi kerusuhan yang terjadi pada era 1998-an silam.

Ketua PBHI Nasional Julius Ibrani mengatakan, pelaku kejahatan di masa lalu tidak pantas menjadi pemimpin Indonesia. "Langkah kampanye ini juga akan kami dorong bagi para pemilih membuka mata dan telinga agar tidak memberikan suaranya kepada para pelanggar HAM," katanya dalam diskusi publik di Sadjoe Cafe, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (26/7/2023).

Julius menegaskan hingga kini belum ada penyelesaian atau penuntasan kasus kerusuhan 1998 yang tergolong pada pelanggaran HAM berat. Kejadian tersebut tidak boleh dilupakan hingga persoalan ini terungkap.Baca juga: Kick Off Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat di Rumoh Geudong, Mahfud MD Ungkap Alasannya

"Ini bagian juga dari gerakan sosial dan politik dari kelompok masyarakat sipil. Bahwa nasib kami masih diujung tanduk selama pelaku HAM berat ini masih berada dalam kekuasaan dan berpotensi makin berkuasa lagi dalam kontestasi Pemilu 2024," ungkapnya.

Pihaknya bahkan sudah berkoordinasi dengan para keluarga korban untuk menagih komitmen dan tanggung jawab Komnas HAM mengusut tuntas siapa dalang dan pelaku yang terlibat di dalamnya. "Dan tindakan yang paling berat adalah mulai dari korban kekerasan, penyiksaan, penculikan. Kami Minta Komnas HAM bersikap tegas," tegasnya.

Julius sempat menyinggung mengenai politik impunitas pada Pemilu 2024. Apabila masyarakat tetap memberikan ruang bagi pelanggar HAM berat tersebut untuk memiliki kekuasaan dan pengaruh, dikhawatirkan tragedi serupa terulang kembali di masa mendatang.

"Politik impunitas ini tidak hanya kami bunyikan pada Pemilu 2024 tapi juga pada 10 tahun lalu yakni 2014. Kami tegaskan selama ada itu belum clean and clear dari para pelaku pelanggar HAM. Itu bisa dimaknai sebagai politik impunitas," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Paian Siahaan, ayah Ucok Munandar (korban penculikan 1998) juga turut bersuara. Paian mengatakan status penghilangan paksa anaknya sampai saat ini masih belum menemukan titik terang.

"Saya orang tua Ucok Siahaan salah satu korban penculikan 1998. Secara jelas setelah Komnas HAM melakukan penyelidikan, anak saya dinyatakan korban penculikan pelanggaran HAM di masa lalu," katanya.

Paian mengaku sangat sakit hati jika seseorang menyatakan bahwa kasus penghilangan paksa itu sudah selesai dan tidak perlu diungkit lagi. Pasalnya, sudah lebih dari 25 tahun Paian berjuang untuk mencari kejelasan status hukum yang menimpa anaknya.

Sayangnya hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai hal tersebut. "Kami mohon agar pernyataan ini dapat tersebarluaskan, jangan kami dikorbankan, ini menyakitkan buat kami yang telah berjuang," ujarnya. Baca juga: Bacaleg Perindo Optimistis Hadapi Pileg 2024 usai Rakor DPD dan DPC Se-Jakarta Timur

Di akhir acara dilakukan deklarasi korban dan masyarakat sipil melawan lupa. Mereka berasal dari perwakilan PBHI Nasional, Imparsial, Kontras, IKOHI, Amnesti Internasional Indonesia, Centra Initiative, Setara Institute, HRWG, dan Forum De Facto.

Kemudian ada Maria Sanu (Ibu kandung Stefanus, korban tragedi kerusuhan 1998), serta Paian Siahaan (Ayah kandung Ucok Munandar, korban penculikan dan penghilangan paksa 1997/1998). Sementara itu, Petrus Hariyanto (korban penyiksaan dan tragedi 27 Juli 1996) hadir dengan pesan singkatnya melalui video yang ditayangkan saat acara.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
TAUD Serahkan Surat...
TAUD Serahkan Surat Penolakan Kehadiran Andrie Yunus di Pengadilan Militer
Bukan Kebebasan Berpendapat,...
Bukan Kebebasan Berpendapat, Pigai: Pernyataan Amien Rais Diduga Pelanggaran HAM
Polemik Sertifikasi...
Polemik Sertifikasi Aktivis HAM, DPR: Peran Negara Harusnya Melindungi, Bukan Menentukan
Komnas HAM: Serangan...
Komnas HAM: Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Terkoordinasi
DPR Sahkan RUU Perlindungan...
DPR Sahkan RUU Perlindungan Saksi dan Korban Jadi UU
KontraS Tolak Wapres...
KontraS Tolak Wapres Gibran Jenguk Andrie Yunus di RSCM, Ini Alasannya
Penglihatan Menurun...
Penglihatan Menurun Akibat Disiram Air Keras, Andrie Yunus Kembali Dioperasi Kelima Kalinya
Polisi Belum Temukan...
Polisi Belum Temukan Pelaku Sipil saat Pelimpahan Kasus Andrie Yunus, KontraS: Jangan Takut TNI!
Rekomendasi
Gagas Forum Dialog,...
Gagas Forum Dialog, AHY Ajak Profesor dan Gen Z Rumuskan Masa Depan Indonesia
Mandiri Tunas Finance...
Mandiri Tunas Finance dan APPI Beri Pelatihan Strategi Keuangan bagi UMKM
Perluas Lini Produk,...
Perluas Lini Produk, SOME BY MI Luncurkan Cica Anti Hair Loss Hair Serum
Berita Terkini
Peradi SAI Siap Jembatani...
Peradi SAI Siap Jembatani Dunia Usaha dan Hukum dalam Pelaksanaan KUHP Baru
Masa Penahanan Dadan...
Masa Penahanan Dadan Hindayana Cs Diperpanjang 40 Hari ke Depan
Indonesia Berkomitmen...
Indonesia Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja
Panglima TNI Lantik...
Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Baru di Akmil Magelang
Deklarasi Kebangsaan,...
Deklarasi Kebangsaan, Gabungan Aliansi BEM Nasional Serukan 5 Tuntutan
Menkum Supratman Sampaikan...
Menkum Supratman Sampaikan Capaian Posbankum di Legal Forum Rusia dan Perkuat Kerja Sama Ekstradisi Narapidana
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved