Haedar Nashir Sebut Pemimpin Merakyat Harus Mampu Ubah Nasib Rakyat
Senin, 24 Juli 2023 - 10:43 WIB
loading...
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bangsa Indonesia mudah terkecoh. Hal ini terkait sosok yang dikategorikan sebagai pemimpin merakyat. Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bangsa Indonesia mudah terkecoh. Hal ini terkait sosok yang dikategorikan sebagai pemimpin merakyat lewat retorika dan pembentukan narasi, padahal rekam jejaknya tidak memadai.
Menurutnya, ini merupakan salah satu dari contoh mindset komunalitas irasional. Corak alam pikiran yang serba goyah, mudah termakan oleh isu-isu artifisial tertentu, lalu pindah ke isu-isu lain tanpa menyelesaikan masalah dari satu isu pun.
"Di era medsos itu orang enggak berbuat apa-apa di pasar, hanya nampang saja, (kebetulan) tokoh, lalu wah (disebut) merakyat. Padahal cuma lewat. Dia enggak memberdayakan orang yang ada di pasar itu untuk berubah dari kelas UMKM menjadi kelas menengah ke atas," kata Haedar dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, Senin (24/7/2023).
Baca juga: Pemimpin Cendekia dan Tantangan Kepemimpinan 2024
"Cuma lewat atau mampir ke tukang pecel tanpa mengubah nasib tukang pecel itu yang dia tetap menderita di tengah glamoritas tokoh atau siapa pun dia yang memperoleh keuntungan dari (kapitalisasi) kemiskinan itu," tambahnya.
Menurutnya, ini merupakan salah satu dari contoh mindset komunalitas irasional. Corak alam pikiran yang serba goyah, mudah termakan oleh isu-isu artifisial tertentu, lalu pindah ke isu-isu lain tanpa menyelesaikan masalah dari satu isu pun.
"Di era medsos itu orang enggak berbuat apa-apa di pasar, hanya nampang saja, (kebetulan) tokoh, lalu wah (disebut) merakyat. Padahal cuma lewat. Dia enggak memberdayakan orang yang ada di pasar itu untuk berubah dari kelas UMKM menjadi kelas menengah ke atas," kata Haedar dikutip dalam laman resmi Muhammadiyah, Senin (24/7/2023).
Baca juga: Pemimpin Cendekia dan Tantangan Kepemimpinan 2024
"Cuma lewat atau mampir ke tukang pecel tanpa mengubah nasib tukang pecel itu yang dia tetap menderita di tengah glamoritas tokoh atau siapa pun dia yang memperoleh keuntungan dari (kapitalisasi) kemiskinan itu," tambahnya.
Lihat Juga :