Afrika Masa Depan Pertumbuhan Indonesia?
Senin, 17 Juli 2023 - 05:26 WIB
loading...
A
A
A
Mulai saat itulah, Indonesia memanfaatkan setiap pertemuan untuk memperkuat kerja sama dengan AU. Beberapa bentuk kerja sama konkret seperti program pelatihan dan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan Indonesia, sepertipelatihan aquakultur, teknologi agrikultur, memfasilitasi perdagangan dan investasi di negara-negara Afrika. Indonesia dan AU juga menyelenggarakan Indonesia-AfricaForum, Indonesia-AfricaInfrastructureDialogue(IAID).
Saat berbicara pada Africa Infrastructure Dialogue 2019, di Bali Nusa Dua Convention Center, (20/8/2022), Jokowi sudah mengungkapkan visinya meningkatkan kerja sama dengan Afrika. Ia mengatakan Indonesia ingin bersama negara-negara Afrika melakukan lompatan-lompatan kemajuan. Indonesia ingin bekerja sama. Indonesia siap berbagi pengalaman dan saling membantu untuk pembangunan infrastruktur.
Jokowi meyakinkan perusahaan BadanUsaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta di Indonesia sudah memiliki kekuatan dan pengalaman yang memadai. Termasuk, menggarap infrastruktur dengan tantangan geografis yang berat, di perkotaan, di kondisi iklim ekstrem, dan di lokasi dengan beragam adat budaya dan tradisi lokalnya.
baca juga: Indonesia dan Ethiopia Bangun Kerja Sama Pariwisata
Jokowi kemudian mengungkapkan keprihatinannya atas semakin lebarnya kesenjangan pembangunan antarnegara, dan pencapaian targetsustainable development goals, SDGs yang lamban. Menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh terus berlanjut, apalagi menjadi norma baru. Untuk itulah, Jokowi mengajak Indonesia dan Afrika bersepakat memperkuat solidaritas demi memperbaiki keadaan kawasan dan dunia, dan mengubah ketidakpastian menjadi kepastian.
Lebih jauh Jokowi menekankan perang dagang harus dilawan dengan mengedepankan keterbukaan dan integrasi ekonomi; dan nasionalisme sempit harus dilawan dengan solidaritas global dan multilateralisme. “Kemitraan setara yang saling menguntungkan. Kemitraan selatan-selatan, perlu terus kita dorong. Artinya hanya ada satu kunci agar kita mampu bertahan menghadapi gejolak arus global, yaitu persatuan,” kata Presiden Jokowi.
Jokowi sekali lagi meyakinkan, jika bisa bersatu Indonesia dan Afrika adalah kekuatan besar. Jika bersatu Indonesia dan Afrika dapat mewujudkan mimpi-mimpi kemajuan. Jika bersatu Indonesia dan Afrika dapat melompat lebih tinggi bahkan berkali-kali lipat. “Indonesia siap dan sangat-sangat senang bekerja sama dengan saudara-saudara kami di Afrika. Saya ingin pastikan dan tekankan, Indonesia adalah teman yang terpercaya.Indonesia is your true partner, your trusted friend,”ujar Jokowi.
Capaian dan Perkembangan
Sejarah panjang hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika telah membentuk rasa saling percaya dan kerja sama di berbagai sektor, termasuk perekonomian. Untuk hubungan perekonomian, Afrika merupakan pasar non-tradisional bagi Indonesia, dengan nilai ekonomi yang tentu lebih rendah dibanding pasar tradisional Indonesia, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Asia.
baca juga: Perguruan Tinggi Indonesia-Ethiopia Tingkatkan Kerja Sama
Kendati demikian, kerja sama perekonomian yang telah terjalin terbilang cukup bagus, mulai dari perdagangan, manufaktur, infrastruktur, perkebunan, hingga penjualan alutsista seperti pesawat terbang. Sektor manufaktur misalnya, sejumlah perusahaan nasional sudah menanamkan modalnya di beberapa negara Afrika. Perusahaan paling populer tak lain adalah Indomie .
Sejak 1995 perusahaan milik Salim Grup itu sudah memiliki tiga pabrik di Nigeria dan satu di Mesir. Di Ethiopia tercatat ada PT PT Sumber Bintang Rejeki melalui Sumbiri Intimate Apparel Plc dan sejumlah perusahaan lain. Sedangkan di Afrika Selatan, Pan Brother, Tbk mendirikan pabrik bersama perusahaan setempat.
Untuk bidang infrastruktur, PT WIKA pernah menggarah tiga proyek baru di Afrika dengan nilai mencapai USD356 juta atau sekitar Rp4,98 triliun. Ketiga proyek dimaksud adalah pelabuhan terminalliquid(bulk liquid terminal) di Zanzibar, Tanzania senilai USD40 juta; pembangunan kawasan bisnis terpadu (mixed used complex- Goree Tower) di Senegal (USD250 juta); pembangunan rumah susun (social housing) di Pantai Gading (USD66 juta). Pada akhir 2022, BUMN yang sama juga menggarap energi baru terbaruka dan mengekspor motor listrik GESITS ke Afrika.
baca juga: 4 Fakta Afrika Selatan, Salah Satu Negara Paling Aman untuk LGBT di Afrika
Kerja sama perekonomian Indonesia-Afrika yang tak kalah pentingnya adalah terkait pembelian pesawat CN 235. Tercatat sejumlah negara sudah mengakusisi pesawat PT DI tersebut, seperti Burkina Faso dan Senegal. Bahkan Senegal, sejak 2011 sudah melakukan beberapa kali pembelian. Teranyar, Nigeria juga berancang-ancang mengakusisi pesawat buatan anak bangsa tersebut, termasuk produk teranyar N-219.
Untuk memperkuat kerja sama ekonomi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Melalui Indonesian Trade and Promotion Center(ITPC) Johanessburg bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pretoria, mendatangkan 16pelaku bisnis makanan dan minuman. Di antara mereka ada sejumlah nama terkemuka seperti PT Mayora Indah, PT Forisa Nusapersada, PT Rodamas Inti Internasional, PT Indofood Sukses Makmur Tbk , Kalbe International, PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, PT Sumber Kopi Prima (Caffino), PT Pulau Sambu (Kara), dan Orang Tua Grup.
Sebelum agenda kunjungan ke Afrika Selatan untuk mempersiapkan kehadiran Presiden Jokowi pada KTT BRICS yang bakal digelar Agustus nanti, pada awal 2022 lalu Menko Luhut telah mengunjungi Kenya dan melakukan serangkaian pertemuan dengan Presiden Kenya, Dr William Samoei Ruto. Dalam pertemuan itu mereka membicarakan sejumlah isu seperti industri pertambangan berkelanjutan, pengembangan infrastruktur (green and smart port), kerja sama perkebunan kelapa sawit, transisi energi, sistem digitalisasi, dan hubungan perdagangan.
Saat berbicara pada Africa Infrastructure Dialogue 2019, di Bali Nusa Dua Convention Center, (20/8/2022), Jokowi sudah mengungkapkan visinya meningkatkan kerja sama dengan Afrika. Ia mengatakan Indonesia ingin bersama negara-negara Afrika melakukan lompatan-lompatan kemajuan. Indonesia ingin bekerja sama. Indonesia siap berbagi pengalaman dan saling membantu untuk pembangunan infrastruktur.
Jokowi meyakinkan perusahaan BadanUsaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta di Indonesia sudah memiliki kekuatan dan pengalaman yang memadai. Termasuk, menggarap infrastruktur dengan tantangan geografis yang berat, di perkotaan, di kondisi iklim ekstrem, dan di lokasi dengan beragam adat budaya dan tradisi lokalnya.
baca juga: Indonesia dan Ethiopia Bangun Kerja Sama Pariwisata
Jokowi kemudian mengungkapkan keprihatinannya atas semakin lebarnya kesenjangan pembangunan antarnegara, dan pencapaian targetsustainable development goals, SDGs yang lamban. Menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh terus berlanjut, apalagi menjadi norma baru. Untuk itulah, Jokowi mengajak Indonesia dan Afrika bersepakat memperkuat solidaritas demi memperbaiki keadaan kawasan dan dunia, dan mengubah ketidakpastian menjadi kepastian.
Lebih jauh Jokowi menekankan perang dagang harus dilawan dengan mengedepankan keterbukaan dan integrasi ekonomi; dan nasionalisme sempit harus dilawan dengan solidaritas global dan multilateralisme. “Kemitraan setara yang saling menguntungkan. Kemitraan selatan-selatan, perlu terus kita dorong. Artinya hanya ada satu kunci agar kita mampu bertahan menghadapi gejolak arus global, yaitu persatuan,” kata Presiden Jokowi.
Jokowi sekali lagi meyakinkan, jika bisa bersatu Indonesia dan Afrika adalah kekuatan besar. Jika bersatu Indonesia dan Afrika dapat mewujudkan mimpi-mimpi kemajuan. Jika bersatu Indonesia dan Afrika dapat melompat lebih tinggi bahkan berkali-kali lipat. “Indonesia siap dan sangat-sangat senang bekerja sama dengan saudara-saudara kami di Afrika. Saya ingin pastikan dan tekankan, Indonesia adalah teman yang terpercaya.Indonesia is your true partner, your trusted friend,”ujar Jokowi.
Capaian dan Perkembangan
Sejarah panjang hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika telah membentuk rasa saling percaya dan kerja sama di berbagai sektor, termasuk perekonomian. Untuk hubungan perekonomian, Afrika merupakan pasar non-tradisional bagi Indonesia, dengan nilai ekonomi yang tentu lebih rendah dibanding pasar tradisional Indonesia, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Asia.
baca juga: Perguruan Tinggi Indonesia-Ethiopia Tingkatkan Kerja Sama
Kendati demikian, kerja sama perekonomian yang telah terjalin terbilang cukup bagus, mulai dari perdagangan, manufaktur, infrastruktur, perkebunan, hingga penjualan alutsista seperti pesawat terbang. Sektor manufaktur misalnya, sejumlah perusahaan nasional sudah menanamkan modalnya di beberapa negara Afrika. Perusahaan paling populer tak lain adalah Indomie .
Sejak 1995 perusahaan milik Salim Grup itu sudah memiliki tiga pabrik di Nigeria dan satu di Mesir. Di Ethiopia tercatat ada PT PT Sumber Bintang Rejeki melalui Sumbiri Intimate Apparel Plc dan sejumlah perusahaan lain. Sedangkan di Afrika Selatan, Pan Brother, Tbk mendirikan pabrik bersama perusahaan setempat.
Untuk bidang infrastruktur, PT WIKA pernah menggarah tiga proyek baru di Afrika dengan nilai mencapai USD356 juta atau sekitar Rp4,98 triliun. Ketiga proyek dimaksud adalah pelabuhan terminalliquid(bulk liquid terminal) di Zanzibar, Tanzania senilai USD40 juta; pembangunan kawasan bisnis terpadu (mixed used complex- Goree Tower) di Senegal (USD250 juta); pembangunan rumah susun (social housing) di Pantai Gading (USD66 juta). Pada akhir 2022, BUMN yang sama juga menggarap energi baru terbaruka dan mengekspor motor listrik GESITS ke Afrika.
baca juga: 4 Fakta Afrika Selatan, Salah Satu Negara Paling Aman untuk LGBT di Afrika
Kerja sama perekonomian Indonesia-Afrika yang tak kalah pentingnya adalah terkait pembelian pesawat CN 235. Tercatat sejumlah negara sudah mengakusisi pesawat PT DI tersebut, seperti Burkina Faso dan Senegal. Bahkan Senegal, sejak 2011 sudah melakukan beberapa kali pembelian. Teranyar, Nigeria juga berancang-ancang mengakusisi pesawat buatan anak bangsa tersebut, termasuk produk teranyar N-219.
Untuk memperkuat kerja sama ekonomi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Melalui Indonesian Trade and Promotion Center(ITPC) Johanessburg bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pretoria, mendatangkan 16pelaku bisnis makanan dan minuman. Di antara mereka ada sejumlah nama terkemuka seperti PT Mayora Indah, PT Forisa Nusapersada, PT Rodamas Inti Internasional, PT Indofood Sukses Makmur Tbk , Kalbe International, PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, PT Sumber Kopi Prima (Caffino), PT Pulau Sambu (Kara), dan Orang Tua Grup.
Sebelum agenda kunjungan ke Afrika Selatan untuk mempersiapkan kehadiran Presiden Jokowi pada KTT BRICS yang bakal digelar Agustus nanti, pada awal 2022 lalu Menko Luhut telah mengunjungi Kenya dan melakukan serangkaian pertemuan dengan Presiden Kenya, Dr William Samoei Ruto. Dalam pertemuan itu mereka membicarakan sejumlah isu seperti industri pertambangan berkelanjutan, pengembangan infrastruktur (green and smart port), kerja sama perkebunan kelapa sawit, transisi energi, sistem digitalisasi, dan hubungan perdagangan.
Lihat Juga :