Pangdam Cenderawasih yang Kariernya Melejit hingga Jenderal Bintang 4, Nomor 1 Mertua SBY
Kamis, 01 Juni 2023 - 05:34 WIB
loading...
A
A
A
Sarwo Edhie merupakan salah satu tokoh penting dalam peristiwa G30S sebagai pemberantas para komunis. Hal yang tidak terlupakan ketika ayah mertua Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ini merebut pangkalan udara dari tangan komunis.
Ketika peristiwa G30S berlangsung, Sarwo Edhie tengah menjabat sebagai Panglima RPKAD (Resimen Komando Angkatan darat) yang sekarang bernama (Komando Pasukan Khusus). Kala itu, pria asal Purworejo ini jadi orang kepercayaan Jenderal Soeharto untuk menumpas gerakan yang didalangi komunis tersebut.
Alasan ditunjuknya Sarwo Edhie sebagai pemimpin penumpasan G30S ini tidak lain karena kematian sahabatnya Jenderal Ahmad Yani yang juga berasal dari Purworejo. Untuk itulah sosok Sarwo Edhie dipandang sebagai seorang yang sangat termotivasi untuk membungkam gerakan kelompok separatis tersebut.
Menurut laporan Sarwo Edhie sendiri yang dikatakannya pada 1989 di depan DPR, operasi penumpasan G30S dan PKI oleh militer memakan hingga 3 juta korban jiwa. Mereka disebutkan berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
Dalam karier militernya, ayah mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo ini pernah menempati sejumlah posisi penting. Mulai dari Komandan RPKAD (1964-1967), Pangdam II/Bukit Barisan (1967-1968), Pangdam XVII/Tjenderawasih (1968-1970), dan Gubernur AKABRI (1970-1974).
Setelah tak lagi berdinas di militer, Sarwo Edhie dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dengan masa jabatan Mei 1973-Mei 1978. Ia mengisi kursi yang ditinggalkan Jenderal LB Moerdani.
2. Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar
Wismoyo Arismunandar adalah Pangdam Cenderawasih kedua yang berhasil mengemban bintang empat di pundaknya. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963 berhasil menembuh jenderal bintang empat ketika mengamban jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Penempatan pertama Wismoyo setelah resmi berpangkat letnan dua yakni komandan peleton Batalyon 3/Menparkoad. Untuk diketahui, Menparkoad singkatan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat atau biasa juga disebut RPKAD yang merupakan pasukan elite AD. Dalam perjalanan sejarah RPKAD bermetamorfosis menjadi Kopassandha dan kemudian Kopassus.
Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Wismoyo. Saat menjadi Danton Yon 3 itu, komandan resimennya yaitu Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo. Berbagai penugasan mewarnai perjalanan karier Wismoyo.
Sosok yang dulunya makelar karcis itu bahkan turut diterjunkan dalam operasi penumpasan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Pada 1966, dia dimutasi sebagai Komandan Pengawal Pribadi (Danwalpri) Presiden Soeharto.
Perjalanan karier militer Wismoyo memang sangat cemerlang. Adik dari Prof Wiranto Arismunandar (mantan Rektor ITB dan Mendikbud) itu melesat jadi orang nomor satu Korps Baret Merah pada 1983-1986. Setelah itu, dia dipromosikan sebagai Kasdam IX/Udayana (1986-1987), Pangdam VIII/Trikora (1987-1988), Pangdam IV/Diponegoro (1988-1990), dan tembus bintang tiga sebagai Pangkostrad (1990-1992).
Ketika peristiwa G30S berlangsung, Sarwo Edhie tengah menjabat sebagai Panglima RPKAD (Resimen Komando Angkatan darat) yang sekarang bernama (Komando Pasukan Khusus). Kala itu, pria asal Purworejo ini jadi orang kepercayaan Jenderal Soeharto untuk menumpas gerakan yang didalangi komunis tersebut.
Alasan ditunjuknya Sarwo Edhie sebagai pemimpin penumpasan G30S ini tidak lain karena kematian sahabatnya Jenderal Ahmad Yani yang juga berasal dari Purworejo. Untuk itulah sosok Sarwo Edhie dipandang sebagai seorang yang sangat termotivasi untuk membungkam gerakan kelompok separatis tersebut.
Menurut laporan Sarwo Edhie sendiri yang dikatakannya pada 1989 di depan DPR, operasi penumpasan G30S dan PKI oleh militer memakan hingga 3 juta korban jiwa. Mereka disebutkan berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
Dalam karier militernya, ayah mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Pramono Edhie Wibowo ini pernah menempati sejumlah posisi penting. Mulai dari Komandan RPKAD (1964-1967), Pangdam II/Bukit Barisan (1967-1968), Pangdam XVII/Tjenderawasih (1968-1970), dan Gubernur AKABRI (1970-1974).
Setelah tak lagi berdinas di militer, Sarwo Edhie dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dengan masa jabatan Mei 1973-Mei 1978. Ia mengisi kursi yang ditinggalkan Jenderal LB Moerdani.
2. Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar
Wismoyo Arismunandar adalah Pangdam Cenderawasih kedua yang berhasil mengemban bintang empat di pundaknya. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963 berhasil menembuh jenderal bintang empat ketika mengamban jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Penempatan pertama Wismoyo setelah resmi berpangkat letnan dua yakni komandan peleton Batalyon 3/Menparkoad. Untuk diketahui, Menparkoad singkatan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat atau biasa juga disebut RPKAD yang merupakan pasukan elite AD. Dalam perjalanan sejarah RPKAD bermetamorfosis menjadi Kopassandha dan kemudian Kopassus.
Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Wismoyo. Saat menjadi Danton Yon 3 itu, komandan resimennya yaitu Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo. Berbagai penugasan mewarnai perjalanan karier Wismoyo.
Sosok yang dulunya makelar karcis itu bahkan turut diterjunkan dalam operasi penumpasan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Pada 1966, dia dimutasi sebagai Komandan Pengawal Pribadi (Danwalpri) Presiden Soeharto.
Perjalanan karier militer Wismoyo memang sangat cemerlang. Adik dari Prof Wiranto Arismunandar (mantan Rektor ITB dan Mendikbud) itu melesat jadi orang nomor satu Korps Baret Merah pada 1983-1986. Setelah itu, dia dipromosikan sebagai Kasdam IX/Udayana (1986-1987), Pangdam VIII/Trikora (1987-1988), Pangdam IV/Diponegoro (1988-1990), dan tembus bintang tiga sebagai Pangkostrad (1990-1992).
Lihat Juga :