24 Napiter Ikrar Setia NKRI, BNPT Minta Ajaran Kekerasan Ditinggalkan
Kamis, 04 Mei 2023 - 13:53 WIB
loading...
A
A
A
Ideologi kekerasan ini juga tidak sesuai dengan Pancasila. "Ideologi Pancasila ini dibangun atas unity of diversity, kita bisa bersatu dari berbagai perbedaan. Karena negeri Indonesia ini dibangun dari berbagai perbedaan untuk membentuk suatu negara. Itulah yang disebut dengan nilai-nilai kebangsaan," kata mantan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri ini.
Menurutnya, pembekalan materi wawasan kebangsaan, wawasan keagamaan, dan wawasan kewirausahaan turut diberikan kepada para napiter di BLK. Setelah keluar dari Lapsuster Kelas II B Sentul, diharapkan mereka bisa berkarya, sehingga bisa menyejahterakan keluarganya.
"Karena ini adalah usaha bangsa kita di bawah arahan bapak Presiden (Joko Widodo) bahwa kita ingin meningkatkan kualitas hidup mereka semuanya. Bukan sekedar dilakukan pemberian hukuman vonis, akan tetapi lebih daripada itu, kita juga ingin meningkatkan kesejahteraan mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka," kata Rycko.
Perwira Tinggi yang pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) ini berharap agar para napiter yang telah melepas baiatnya benar-benar dilepas dari hati, bukan karena mengharapkan remisi atau pembebasan bersyarat (PB).
"Mari kita jaga kehidupan yang damai, kehidupan Indonesia damai, saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya. Manusia menyayangi manusia yang lainnya, manusia menghormati manusia yang lain, dan manusia yang melindungi serta menjaga manusia yang lain," kata Rycko.
Pada acara yang sama, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jawa Barat, Kusnali megungkapkan, pengucapan Ikrar Setia NKRI 24 napiter sebagai wujud keberhasilan program pembinaan yang dilakukan lapas, serta dukungan kolaborasi dari BNPT, Densus 88/Antiteror Polri, Kesbangpol, dan Forkopimda. Semuanya ikut andil, sehingga program pembinaan ini bisa berjalan.
"Ada tiga kata kunci program keberhasilan dalam program pembinaan. Pertama, narapidana, kedua, petugas dan yang ketiga adalah masyarakat atau stakeholder. Kalau ketiga komponen ini ikut bekerjasama dan berkolaborasi satu tujuan Insya Allah program pembinaan akan berjalan dengan maksimal," katanya.
Menurutnya, pembekalan materi wawasan kebangsaan, wawasan keagamaan, dan wawasan kewirausahaan turut diberikan kepada para napiter di BLK. Setelah keluar dari Lapsuster Kelas II B Sentul, diharapkan mereka bisa berkarya, sehingga bisa menyejahterakan keluarganya.
"Karena ini adalah usaha bangsa kita di bawah arahan bapak Presiden (Joko Widodo) bahwa kita ingin meningkatkan kualitas hidup mereka semuanya. Bukan sekedar dilakukan pemberian hukuman vonis, akan tetapi lebih daripada itu, kita juga ingin meningkatkan kesejahteraan mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka," kata Rycko.
Perwira Tinggi yang pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) ini berharap agar para napiter yang telah melepas baiatnya benar-benar dilepas dari hati, bukan karena mengharapkan remisi atau pembebasan bersyarat (PB).
"Mari kita jaga kehidupan yang damai, kehidupan Indonesia damai, saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya. Manusia menyayangi manusia yang lainnya, manusia menghormati manusia yang lain, dan manusia yang melindungi serta menjaga manusia yang lain," kata Rycko.
Pada acara yang sama, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jawa Barat, Kusnali megungkapkan, pengucapan Ikrar Setia NKRI 24 napiter sebagai wujud keberhasilan program pembinaan yang dilakukan lapas, serta dukungan kolaborasi dari BNPT, Densus 88/Antiteror Polri, Kesbangpol, dan Forkopimda. Semuanya ikut andil, sehingga program pembinaan ini bisa berjalan.
"Ada tiga kata kunci program keberhasilan dalam program pembinaan. Pertama, narapidana, kedua, petugas dan yang ketiga adalah masyarakat atau stakeholder. Kalau ketiga komponen ini ikut bekerjasama dan berkolaborasi satu tujuan Insya Allah program pembinaan akan berjalan dengan maksimal," katanya.
Lihat Juga :