Pengamat soal Cawapres Ganjar: Sandi atau Erick Tak Bisa Kuasai Suara NU

Senin, 01 Mei 2023 - 08:32 WIB
loading...
Pengamat soal Cawapres...
Khoirul Umam meyakini dukungan Nahdliyyin kepada Sandiaga Uno atau Erick Thohir tidak cukup tinggi. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Ganjar Pranowo resmi menjadi calon presiden yang bakal diusung PDIP dan PPP pada Pilpres 2024. Tidak menutup kemungkinan, masih ada yang partai yang akan bergabung.

Kini, perhatian publik berikutnya tertuju pada siapa yang akan menjadi tandem atau pasangan Ganjar. Sepert halnya Anies Baswedan, cawapres Ganjar sampai kini belum ditetapkan kendati Sandiaga Uno disebut-sebut sebagai calon kuat yang disodorkan PPP setelah keluar dari Gerindra.

Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) Khoirul Umam mengatakan, berkaca dari Pemilu 1955 dan 1971, secara umum muncul keyakinan bahwa untuk memenangkan pemilu di Indonesia harus menggabungkan kekuatan nasionalis dan agamais, dalam konteks ini Islam yang punya pemeluk terbanyak.

Baca juga: Pengamat: Ganjar-Airlangga Lebih Berpeluang Menang Ketimbang Ganjar-Erick

Dalam pencapresan Ganjar Pranowo oleh PDIP, keyakinan lama itu bersemi kembali. PDIP tidak akan menggunakan golden ticket sendiri, tetapi akan menggandeng kekuatan politik Islam guna meneguhkan narasi nasionalis dan Islam. Menurut Umam, di antara partai partai berbasis massa Islam, yang paling memungkinkan untuk didekati PDIP saat ini adalah PPP.

PKB, lanjut dia, telah memiliki agenda kepentingan sendiri untuk mengusung Cak Imin. Sementara PDIP belum pernah memiliki sejarah koalisi atau kerja sama politik dengan PAN sebagai representasi kekuatan politik massa Muhammadiyah dan PKS untuk jaringan Tarbiyah.

”PPP memang telah lama diincar oleh PDIP. Kendati tak menyiapkan kadernya secara optimal, PPP bisa menjual tiket politiknya kepada pialang politik melalui skema transaksional dan naturalisasi politik secara instan,” ujar dia dalam pernyataan yang dikutip Senin (1/5/2023).



Umam melihat strategi inilah yang belakangan telah memunculkan sejumlah politisi baru seperti Sandiaga Uno atau Erick Tohir, dua nama yang disebutnya sebagai tokoh muda dadakan NU. Namun Umam yakin realisasi dukungan Nahdliyyin kepada nama ini tidak terlalu tinggi. Sebab rekam jejak pendekatan mereka terhadap NU memang tidak didasarkan pada pemahaman ideologis.

Di sisi lain, literasi politik Nahdliyyin juga semakin kuat. Suara Nahdliyyin tidak lagi bisa dikendalikan dengan basis partonase kepemimpinan dalam lingkungan Nahdliyyin, baik pada level kiai maupun struktur Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu dibuktikan di Pemilu 2004 atau 2009. ketika meskipun tokoh-tokoh struktur NU maju sebagai kontestan, namun arah dukungan masyarakat Nahdliyyin lebih mengikuti suara hati mereka untuk memilih pemimpin nasional.

”Pada Pemilu 2024, basis kekuatan suara nahdliyyin akan tersebar secara merata ke sejumlah tokoh-tokoh Capres yang sedang berusaha memperebutkan hati dan suara warga NU,” ujar dosen Ilmu Politik dan International Studies, Universitas Paramadina ini.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dari Ploso, Gus Ma’shum...
Dari Ploso, Gus Ma’shum Faqih Ingatkan Adab Jadi Penuntun Musyawarah NU
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
Kritik Menggema Jelang...
Kritik Menggema Jelang Muktamar, Warga NU Depok Soroti Tata Kelola PBNU
Boni Hargens Apresiasi...
Boni Hargens Apresiasi Gagasan Resiprokalitas Kapolri
Tiyo Eks Ketua BEM UGM...
Tiyo Eks Ketua BEM UGM Mengaku Ditawari Miliaran Rupiah dari Lembaga Berbintang, Ini Respons TNI
Seruan Masyayikh NU...
Seruan Masyayikh NU di Ponpes Al Falah Ploso Redam Ketegangan di PBNU
13 Kiai Berkumpul di...
13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di Pesantren
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh...
Muktamar ke-35 NU, Syaifuloh Yusuf Sebut Gus Salam Layak Jadi Ketum PBNU
Rekomendasi
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Berita Terkini
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan,...
Roy Suryo-Tifa Tak Ditahan, Relawan Jokowi: Ini Bukan Akhir dari Segalanya
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Ade Darmawan Minta Jaksa...
Ade Darmawan Minta Jaksa Tolak Segala Intervensi di Kasus Ijazah Jokowi
Nostalgia dengan Fotografi...
Nostalgia dengan Fotografi Analog, Lomography Kini Hadir di Indonesia
Infografis
Siap-siap, Nunggak Bayar...
Siap-siap, Nunggak Bayar Pajak Tak Bisa Urus SIM hingga Paspor
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved