Zulhas dan Elite PAN Bertemu Jokowi, Pengamat: Tak Mungkin Hanya Bahas UMKM
Selasa, 21 Juli 2020 - 07:50 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu memandang, tak ada yang aneh jika PAN memutuskan bergabung ke pemerintahan. Karena pada periode pertama, partai berlambang matahari itu juga merapat ke pemerintahan Jokowi, dan saat reshuffle kabinet mendapatkan satu kursi menteri.
Dia pun melihat, jika ada reshuffle akan diganjar satu kursi menteri. Barter politik dan barter kepentingan serta barter jabatan sudah biasa di dunia politik, termasuk kecenderungan politik di Indonesia.
"Mana ada partai yang tak menginginkan kursi menteri. Semua partai jika ditawari pasti akan ambil kursi menteri. Karena kursi menteri itu nikmat dan lezat," ujarnya
Di sisi lain Ujang menganggap, partai politik dibentuk untuk memperebutkan jabatan dengan cara konstitusional. Jika jabatan sudah ada di depan mata, tak mungkin dibiarkan, pasti disikat.
"Patgulipat politik akan terjadi, di mana pun dan sampai kapanpun. Karena yang dikejar hanya jabatan semata. Yang dikejar kekuasaan semata. Karena basis koalisinya pragmatisme, maka patgulipat barter kepentingan akan terjadi," pungkasnya.
Dia pun melihat, jika ada reshuffle akan diganjar satu kursi menteri. Barter politik dan barter kepentingan serta barter jabatan sudah biasa di dunia politik, termasuk kecenderungan politik di Indonesia.
"Mana ada partai yang tak menginginkan kursi menteri. Semua partai jika ditawari pasti akan ambil kursi menteri. Karena kursi menteri itu nikmat dan lezat," ujarnya
Di sisi lain Ujang menganggap, partai politik dibentuk untuk memperebutkan jabatan dengan cara konstitusional. Jika jabatan sudah ada di depan mata, tak mungkin dibiarkan, pasti disikat.
"Patgulipat politik akan terjadi, di mana pun dan sampai kapanpun. Karena yang dikejar hanya jabatan semata. Yang dikejar kekuasaan semata. Karena basis koalisinya pragmatisme, maka patgulipat barter kepentingan akan terjadi," pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :