PDIP Ibaratkan Dirinya Kereta di Pilpres 2024, Pede Banyak yang Berminat Ikut

Jum'at, 14 April 2023 - 13:42 WIB
loading...
PDIP Ibaratkan Dirinya...
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengibaratkannya sebagai sebuah kereta pada Pilpres 2024. Foto/Dok PDIP
A A A
JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) mengibaratkannya sebagai sebuah kereta pada Pilpres 2024 . Partai berlambang kepala banteng bermoncong putih itu optimistis banyak partai politik yang berminat berkoalisi dengannya.

Politikus Senior PDIP Hendrawan Supratikno tak mempermasalahkan adanya wacana pembentukan Koalisi Besar untuk Pilpres 2024. Koalisi Besar merupakan gabungan dari Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Golkar, PAN, dan PPP dengan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang terdiri dari Gerindra dan PKB.

"Intinya kami tentu akan bekerja sama dengan parpol lain. Karena kami sudah punya tiket, dan berangkat dari niat baik, maka kami percaya banyak yang akan berminat. Ibarat kereta api, lokomotifnya dengan enerji besar, sudah siap berangkat," ujar Hendrawan Supratikno, Jumat (14/4/2023).

Baca juga: Maju Sendiri di Pilpres 2024 Berpotensi Kalah, PDIP Diprediksi Gandeng Parpol Islam



Sebagai parpol yang sudah memiliki golden tiket calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pilpres 2024, Hendrawan menyebutkan bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sudah memberi dua isyarat saat Hari Ulang Tahun ke-50 PDIP, pada 10 Januari 2023.

"Pertama, yang diusung adalah kader partai. Kedua, tidak mungkin Ketum PDIP membawa partai masuk sumur. Dua indikasi ini, menjadi bahan pembicaraan, renungan dan spekulasi kader," jelasnya.

Soal PDIP akan gabung atau tidak dengan Koalisi Besar, Hendrawan meminta publik untuk melihat nanti. Namun ia memastikan pihaknya akan melihat terlebih dahulu menu kerja samanya apa saja. Limitasi seperti apa yang akan dijadikan aturan main.

Baca juga: PDIP soal Pilpres 2024: Pemenang Posisinya Capres, Yes!

"Kalau belum apa-apa sudah pakai syarat ini itu, kerja sama bisa berubah jadi kerja paksa," tegasnya.

Kerja sama antar partai politik disebut Hendrawan Supratikno adalah hal yang wajar, termasuk dalam sistem presidential multi-partai. Sehingga silaturahmi, lobi atau bahkan orkestrasi kerja sama besar atau Koalisi Besar tidak menjadi suatu hal yang dikhawatirkan PDIP.

"Kami lebih menggunakan diksi kerja sama, karena istilah koalisi dan oposisi ditemukan dalam sistem parlementer, kepala negara dipisahkan dari kepala pemerintahan. Dalam sistem presidential, kerja sama dan musyawarah yang harus lebih ditonjolkan. Koalisi sifatnya lebih limitatif, menyiratkan matematika bagi-bagi kursi dan rezeki yang ketat," tuturnya.

Makna koalisi kata Hendrawan juga sangat menentukan arah bagaimana hubungan tersebut akan berjalan selama lima tahun kedepannya. "Perhelatan belum berjalan, siapa akan dapat jatah apa sudah dirumuskan. Padahal, bangunan kerja sama dan evaluasi komitmen yang bisa berubah dinamis, belum terbentuk. Dalam setiap bentuk kerja sama, selalu ada pihak yang terlalu pede, ingin mendikte, dan ada juga yang cenderung menjadi free rider," ucapnya.

Ia mengingatkan kepada Presiden yang terpilih dalam Pilpres 2024 nanti agar tidak serta merta terbelenggu koalisi namun justru mengingkari sumpah jabatan untuk menyejahterakan rakyat.

"Presiden yang terpilih nanti, jangan seperti boneka, ditagih kiri-kanan. Semua ingin dibayar jasanya. Ada bagi-bagi kavling atau lapak. Padahal, dalam sistem presidensial, visi dan semangat Presiden yang menjadi kekuatan utama untuk menggerakkan roda pemerintahan," pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
Jokowi Bakal Masuk PSI,...
Jokowi Bakal Masuk PSI, Deddy Sitorus PDIP: Terus Terang Kami Tidak Takut
PDIP Sebut Demonstrasi...
PDIP Sebut Demonstrasi Mahasiswa Alarm untuk Pemerintah
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
SDN di NTT Dibongkar...
SDN di NTT Dibongkar untuk KDMP, Andreas PDIP: Jangan Korbankan Program Lainnya
Kondisi Fiskal dan Moneter...
Kondisi Fiskal dan Moneter RI Disentil PDIP: Utang Harus Dibayar dengan Utang
Rekomendasi
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Rueibin Chen Sebut Tampil...
Rueibin Chen Sebut Tampil di Indonesia sebagai Impian, Siap Hibur Pecinta Musik Klasik Jakarta
Solusi Praktis Pengurusan...
Solusi Praktis Pengurusan Paspor dan Visa untuk Perjalanan Bisnis
Berita Terkini
PB PMII Serukan Persatuan...
PB PMII Serukan Persatuan Nasional, Kembalikan Intelektualitas Jadi Navigasi Gerakan
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
Kejagung Segel Gudang...
Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Milik BGN di Bogor
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Dharma Pongrekun Gugat...
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan, Berharap Hakim MK 'Diketuk Hatinya oleh Tuhan'
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved