BNPB: Hujan Intensitas Tinggi Masih Berpotensi Terjadi di Wilayah Indonesia hingga Akhir Maret
Kamis, 23 Maret 2023 - 11:32 WIB
loading...
BNPB melalui data BMKG melaporkan potensi hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia hingga akhir Maret 2023. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan potensi hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia hingga akhir Maret 2023.
“Intensitas hujan di wilayah tengah dan timur Indonesia masih tinggi, misalkan di Papua kita lihat ada konvergensi di Papua tengah dan selatan lebih tinggi curah hujannya,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dikutip dari keterangannya, Kamis (23/3/2023).
Baca juga: 3.000 Miliar Ton Lapisan Es di Antartika Mencair, Banjir Ekstrem di Depan Mata
Meskipun, kata Aam sapaan akrabnya, saat ini curah hujan di Indonesia sudah mulai rendah karena peralihan dari musim hujan ke kemarau atau pancaroba. “Secara umum sebenarnya kalau ini curah hujan di Indonesia udah mulai mulai rendahnya, artinya tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Aam mengatakan ada beberapa wilayah yang harus diwaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah juga kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Jadi memang kalau untuk Dasarian III Maret, ada beberapa tempat yang perlu kita waspadai, tetap Jawa itu masih masih ya terus kita waspadai, kemudian sisi barat dari Sumatera bagian tengah ke utara itu perlu kita waspadai potensi banjir karena intensitas hujannya menengah hingga tinggi."
Dia melanjutkan Kalimantan secara umum biasanya pada periode peralihan di satu provinsi itu terkena banjir dan Karhutla. "Ini adalah dasarian III, ini adalah prediksi kita untuk tanggal 21 sampai 30 Maret. Jadi, memang daerah-daerah Sumatera bagian barat, Pesisir barat Sumatera untuk bagian tengah dan utara itu prediksi hujannya cukup tinggi tapi kita harus waspada dari yang sisi Timurnya jadi ini sangat sering utamanya Aceh, Sumatera Utara, sisi baratnya banjir, longsor, banjir bandang, tapi sisi timurnya Karhutla,” papar Aam.
“Nah hal-hal seperti ini yang kita waspadai tetapi secara umum yang berpotensi masih hidrometeorologi basah di daerah-daerah (Sumatera tengah ke barat ke Aceh), Jawa, Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Papua,” sambungnya.
“Intensitas hujan di wilayah tengah dan timur Indonesia masih tinggi, misalkan di Papua kita lihat ada konvergensi di Papua tengah dan selatan lebih tinggi curah hujannya,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dikutip dari keterangannya, Kamis (23/3/2023).
Baca juga: 3.000 Miliar Ton Lapisan Es di Antartika Mencair, Banjir Ekstrem di Depan Mata
Meskipun, kata Aam sapaan akrabnya, saat ini curah hujan di Indonesia sudah mulai rendah karena peralihan dari musim hujan ke kemarau atau pancaroba. “Secara umum sebenarnya kalau ini curah hujan di Indonesia udah mulai mulai rendahnya, artinya tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Aam mengatakan ada beberapa wilayah yang harus diwaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah juga kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Jadi memang kalau untuk Dasarian III Maret, ada beberapa tempat yang perlu kita waspadai, tetap Jawa itu masih masih ya terus kita waspadai, kemudian sisi barat dari Sumatera bagian tengah ke utara itu perlu kita waspadai potensi banjir karena intensitas hujannya menengah hingga tinggi."
Dia melanjutkan Kalimantan secara umum biasanya pada periode peralihan di satu provinsi itu terkena banjir dan Karhutla. "Ini adalah dasarian III, ini adalah prediksi kita untuk tanggal 21 sampai 30 Maret. Jadi, memang daerah-daerah Sumatera bagian barat, Pesisir barat Sumatera untuk bagian tengah dan utara itu prediksi hujannya cukup tinggi tapi kita harus waspada dari yang sisi Timurnya jadi ini sangat sering utamanya Aceh, Sumatera Utara, sisi baratnya banjir, longsor, banjir bandang, tapi sisi timurnya Karhutla,” papar Aam.
“Nah hal-hal seperti ini yang kita waspadai tetapi secara umum yang berpotensi masih hidrometeorologi basah di daerah-daerah (Sumatera tengah ke barat ke Aceh), Jawa, Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan Papua,” sambungnya.
Lihat Juga :