15 Maret, Hari Internasional Memerangi Islamofobia
Rabu, 15 Maret 2023 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Islam, sebagai agama samawi selalu diserang oleh pihak-pihak yang menentangnya sepanjang sejarah; Alhasil, Islamofobia bukanlah fenomena baru dan berakar pada sejarah Eropa, khususnya Perang Salib (abad ke-12 dan ke-13). Dengan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1989, kekalahan komunisme dan berakhirnya Perang Dingin, Barat menghadapi kehampaan identitas yang serius untuk melanjutkan hegemoninya di dunia dan berusaha untuk menciptakan wacana baru.
Baca Juga: Komunitas Muslim Khawatirkan Peningkatan Islamofobia di Jerman
Proyek Perang Dingin baru yang berpusat pada Islamofobia adalah wacana baru yang dibutuhkan oleh Barat, yang dikunci dengan menghadirkan teori "Clash of Civilizations". Menurut teori "Clash of Civilizations", sebagai salah satu fondasi teoretis terpenting Islamofobia , yang dikemukakan oleh Samuel Huntington pada tahun 1993, setelah berakhirnya Perang Dingin, budaya dan identitas agama akan menjadi sumber dari semua konflik, “Acaman Merah” (komunis) akan digantikan dengan “Ancaman Hijau” (Islam).
Selama dua dekade terakhir, teori ini telah membentuk opini publik Barat, kebijakan media massa, kebijakan pemerintah, dan posisi penguasa negara-negara Barat dalam hubungannya dengan Islam dan umat Muslim. Sejak 1997, istilah Islamofobia telah dimasukkan dalam daftar kata Oxford English Encyclopedia, dan dengan dimulainya abad baru dan terjadinya Peristiwa 11 September, ruang lingkup penggunaannya telah meluas.
Terjadinya Peristiwa 11 September 2001 dan keterkaitannya dengan kelompok fundamentalis dan teroris Al-Qaeda dianggap sebagai titik balik perubahan sikap dunia Barat terhadap Islam, umat Islam dan cara berinteraksi dengan mereka; Seperti yang dikatakan George Bush, presiden Amerika Serikat saat itu, tentang dimulainya “perang salib baru” sebagai salah satu reaksi pertama atas insiden ini.
Setelah Peristiwa 11 September, media Barat memulai penyebaran Islamofobia dalam bentuk strategi perang melawan terorisme. Menurut Edward Said, seorang pemikir dan akademisi Amerika Serikat berketurunan Palestina, "Media dan pakar AS dan Barat menentukan apa yang harus kita pikirkan tentang seluruh dunia (lainnya)... Dalam banyak kasus, tidak hanya Islam digambarkan dengan kecerobohan dan keliru, tetapi juga banyak fenomena dan peristiwa digambarkan melalui penjelasan etnosentris, dan penuh dengan kebencian budaya dan ras serta permusuhan yang mendalam dapat dilihat dalam narasi mereka”.
Baca Juga: Komunitas Muslim Khawatirkan Peningkatan Islamofobia di Jerman
Proyek Perang Dingin baru yang berpusat pada Islamofobia adalah wacana baru yang dibutuhkan oleh Barat, yang dikunci dengan menghadirkan teori "Clash of Civilizations". Menurut teori "Clash of Civilizations", sebagai salah satu fondasi teoretis terpenting Islamofobia , yang dikemukakan oleh Samuel Huntington pada tahun 1993, setelah berakhirnya Perang Dingin, budaya dan identitas agama akan menjadi sumber dari semua konflik, “Acaman Merah” (komunis) akan digantikan dengan “Ancaman Hijau” (Islam).
Selama dua dekade terakhir, teori ini telah membentuk opini publik Barat, kebijakan media massa, kebijakan pemerintah, dan posisi penguasa negara-negara Barat dalam hubungannya dengan Islam dan umat Muslim. Sejak 1997, istilah Islamofobia telah dimasukkan dalam daftar kata Oxford English Encyclopedia, dan dengan dimulainya abad baru dan terjadinya Peristiwa 11 September, ruang lingkup penggunaannya telah meluas.
Terjadinya Peristiwa 11 September 2001 dan keterkaitannya dengan kelompok fundamentalis dan teroris Al-Qaeda dianggap sebagai titik balik perubahan sikap dunia Barat terhadap Islam, umat Islam dan cara berinteraksi dengan mereka; Seperti yang dikatakan George Bush, presiden Amerika Serikat saat itu, tentang dimulainya “perang salib baru” sebagai salah satu reaksi pertama atas insiden ini.
Setelah Peristiwa 11 September, media Barat memulai penyebaran Islamofobia dalam bentuk strategi perang melawan terorisme. Menurut Edward Said, seorang pemikir dan akademisi Amerika Serikat berketurunan Palestina, "Media dan pakar AS dan Barat menentukan apa yang harus kita pikirkan tentang seluruh dunia (lainnya)... Dalam banyak kasus, tidak hanya Islam digambarkan dengan kecerobohan dan keliru, tetapi juga banyak fenomena dan peristiwa digambarkan melalui penjelasan etnosentris, dan penuh dengan kebencian budaya dan ras serta permusuhan yang mendalam dapat dilihat dalam narasi mereka”.
Lihat Juga :